Dalam perjalanan ke Barat, Bejo bertemu dengan Simbah Wiseruh. Kali ini, ia mendapat pelajaran hikmah tentang spekulasi dan bisnis. Dua hal pokok yang sering kali membuat orang salah kaprah dan gagal paham. Spekulasi lebih banyak mengandung unsur taruhan. Sedangkan bisnis lebih besar unsur kepastiannya.
Apa itu maksudnya itu? Begini ceritanya:
Jo, kalau ada orang jual HP satu juta. Lalu dengan pengetahuanmu, kamu percaya bahwa HP itu bisa laku 1 juta 300 ribu. Kamu mau beli HP itu? tanya Mbah Wiseruh.
Mau guru, jawab Bejo ringan.
Lalu setelah kamu beli, ternyata enggak ada orang yang mau membeli HP itu dengan harga 1 juta 300 ribu. Mereka hanya mau membeli seharga 500 ribu, 600 ribu, atau paling pol 750 ribu. Ini namanya spekulasi. Di sini, kamu bergantung kepada pengetahuanmu. Kamu bertaruh kepada ketidakpastian, kata Mbah Wiseruh.
Bajo ndlongop. Ia ngangguk-ngangguk.
Mbah Wiseruh kemudian melanjutkan dengan kisah lain. Cerita lainnya begini Jo. Ada orang jual HP satu juta. Dengan ilmumu, kamu yakin bahwa HP itu bisa laku 1 juta 300 ribu. Kamu membeli HP itu. Setelah itu, ternyata orang berbondong-bondong menawar HP tersebut. Ada yang menawar 900 ribu, satu juta, bahkan ada yang mau dua juta. Di sinilah kamu bisnis. Kamu menyandarkan kepada ilmu. Unsur kepastiannya lebih besar.
Bagaimana? Sekarang, kamu sudah tahu bedanya Jo? Antara pengetahuan dan ilmu? Antara spekulasi dan bisnis?
Pengetahuan itu, ia masih belum teruji kebenaran dan kepastiannya. Namun tidak dengan ilmu. Kalau ilmu, ia sudah teruji. Orang sering salah kaprah di sini. Mereka baru punya pengetahuannya tetapi ia sudah merasa berilmu.
Bejo ngangguk-ngangguk. Tapi kali ini batinnya bergejolak. Ada semacam uneg-uneg yang ingin ia sampaikan.
Tapi Mbah, bukankah ilmu itu butuh pengetahuan lebih dulu? tanya Bejo.
Betul. Pengetahuan adalah salah satu dasar dari ilmu. Tetapi pengetahuan saja tidak cukup. Di sinilah pentingnya satu jembatan yang disebut praktek atau amal. Pendek kata, ilmu adalah pengetahuan yang dipraktekkan, diamalkan. Pengetahuan itu sebatas kamu mengenal bumbu-bumbuan, seperti: jahe, kencur, bawang, cabe, merica dan seterusnya. Sedangkan ilmu bicara lebih dalam. Dengan bumbu tersebut, kamu bisa masak soto, bakso, nasi goreng, dan lain sebagainya. Itu ilmu.
Pada dimensi ini, ada dinamika di dalamnya. Ada problematikanya tersendiri. Ada metodologi, dan ada juga peran hawa nafsu dalam pengamalannya. Apa dan bagaimana itu, lain kali aku jelaskan.
Bejo mengangguk. Ia paham. Tak terasa, hari sudah larut. Kopi disampingnya sudah dingin. Ia sruput kopi itu dengan nikmat. Sruvuts.
Salam
(ADS)
Kemayoran, Jakarta, 19/1/2024 22:50
#melekberita
#sruvuts
Image by Joachim Schnürle from Pixabay

