Krisis Global dan Runtuhnya Kontrak Sosial Barat

Date:

Pagi ini, Sabtu (4/4/2026), saya mendapat wawasan berharga setelah membaca tulisan Jean Couteau di Kompas, halaman 8. Tulisan itu berjudul Krisis Global dan Runtuhnya Kontrak Sosial Barat.

Tulisan dimulai dengan cerita tentang beratnya menjadi staf kedutaan dan konsulat Amerika di luar negeri di tengah kekacauan internasional seperti sekarang. Hal ini merujuk pada eskalasi geopolitik, dinamika global, dan konflik yang kian panas di Timur Tengah. Khususnya Iran dan sekitarnya.

Tugas mereka tidak mudah dan menuntut keteguhan hati. Mungkin juga malu di mana presiden yang mereka wakili saat ini secara terbuka sesumbar bagaimana kepala negara lain “menjilat pantatnya”? Pantat dan bom, demikianlah wacananya.

Cukup keras, Couteau menyoroti kepemimpinan dan sikap Presiden Trump. Ia mengutip pendapat ekonom Jeffrey Sachs dan gerakan “Duty to Warn” bahwa Trump semestinya berada di bawah penanganan psikiater.

Mengapa Couteau provokatif seperti itu?

Agar kita sadar akan risiko eksistensial terhadap dunia, tulisnya.

Lalu, mengapa fenomena ini terjadi?

Menurut Couteau, semua ini terjadi karena dampak sosial-politik dari globalisasi tanpa kendali. Kapitalisme pasar liar yang terjadi sejak tahun 1990-an. Dinamikanya menghancurkan rezim demokrasi negara Barat dan seluruh tatanan internasional yang telah mapan sejak Perang Dunia Kedua.

Apakah ini kelak yang dinamakan great reset atau new normal itu?

Lantas, apa yang sebenarnya terjadi?

Di sini Couteau menjelaskan dengan sangat baik. Sederhana sekali, katanya. Demi menjamin keuntungan yang berkelanjutan kapitalisme global, para pemilik modal menjalankan dua kebijakan kontrol biaya tenaga kerja dan biaya produksi:
1. Ekspor kapital.
Pemilik modal memindahkan modal ke negara dengan tenaga kerja murah tetapi terdidik (China, India, Vietnam).
2. Impor tenaga kerja.
Pemilik modal memasukkan imigran murah ke negara-negara industri lama.

Secara teori, perpindahan modal ini seharusnya diimbangi dengan peningkatan teknologi di dalam negeri. Namun kenyataannya, di kawasan industri lama seperti wilayah Rust Belt di Amerika maupun Eropa Barat (Inggris, Prancis, Jerman), justru terjadi penurunan aktivitas industri yang berdampak pada melemahnya kondisi ekonomi kelas menengah ke bawah.

Dampak ini tidak bisa dianggap sepele. Keberhasilan demokrasi di Barat selama ini bertumpu pada kontrak sosial yang menjamin kesejahteraan kelas menengah. Ketika peluang ekonomi semakin sempit, kontrak tersebut mulai retak. Di Amerika Serikat, fenomena Trump dapat dilihat sebagai manifestasi dari kekecewaan ini. Meski kebijakannya cenderung berpihak pada kepentingan modal, retorikanya yang fasistis berhasil menarik dukungan kelompok kanan yang merasa terpinggirkan.

Situasi di Eropa juga menghadapi tekanan serupa. Masuknya tenaga kerja murah dari kawasan seperti Afrika Utara dan Asia Selatan memang membantu menekan biaya produksi, tetapi juga memicu perpecahan di kalangan pekerja. Jika sebelumnya mereka bersatu dalam gerakan politik seperti Sosialis atau Demokrat-Kristen, kini mereka terbelah oleh isu identitas antara pribumi dan asing (yang sering diidentikkan dengan Islam). Akibatnya, solidaritas melemah dan ruang bagi kelompok ekstrem semakin terbuka.

Ironis, sistem kapitalisme global yang secara ideologis bersifat kosmopolitis (terbuka) dan internasional (lintas batas) justru memicu munculnya xenofobia (anti-asing) dan radikalisme agama. Alih-alih mempererat hubungan antarbangsa, kondisi ini malah memperdalam konflik sosial dan kultural.

Belum lagi jika ditambah dengan persaingan antarnegara yang semakin intens. China, yang sebelumnya berkembang dengan dukungan modal Barat, kini menjadi pesaing utama. Di sisi lain, muncul kecenderungan politik keras di Amerika, gelombang kanan di Eropa, serta ambisi geopolitik dari Rusia. Kombinasi ini menciptakan ketidakpastian besar bagi masa depan dunia.

Melihat kondisi tersebut, tidak berlebihan jika muncul kesan bahwa arah global saat ini sedang tidak stabil. Dalam situasi seperti ini, mungkin pendekatan politik luar negeri bebas aktif yang dianut Indonesia tetap relevan—menjaga jarak dari konflik besar sambil tetap aktif berperan di tingkat internasional.

(ADS)

*Photo by Ahmed akacha.

Arya Dwi Sasangka
Arya Dwi Sasangkahttps://melekberita.com
Melekberita.com bukan produk jurnalistik. Melekberita.com adalah blog yang fokus pada ide pemikiran pribadi (orisinil) yang kadang nir referensi. Kualitas ide, bisa baik dan bisa buruk. Orisinalitas adalah cara pandang yang layak dipikirkan untuk melihat sebuah realitas.

Share post:

Berlangganan

spot_imgspot_img

Popular

Artikel lainnya
Terkait

Obyektifikasi: Ketika Manusia Dipandang sebagai Objek

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai berbagai bentuk interaksi...

April Mop dari Tradisi Guyon ke Ujian Literasi Publik

Setiap 1 April, ruang publik global dipenuhi lelucon. April...

DK PBB Siap Voting Resolusi untuk Selat Hormuz

Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa diperkirakan akan segera menggelar pemungutan...

WFH ASN Setiap Jumat Mulai 1 April 2026

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengumumkan kebijakan bekerja...