Dibombong dan Dilulu: Dua Cara Orang Jawa Membentuk Karakter Anak

Date:

Dalam budaya Jawa, cara mendidik anak tidak selalu dilakukan melalui nasihat yang panjang atau perintah yang tegas. Banyak nilai kehidupan justru disampaikan melalui sikap, kebiasaan, bahasa, dan cara orang tua memperlakukan anak. Dua istilah yang menarik untuk memahami pola tersebut adalah dibombong dan dilulu.

Secara sederhana, dibombong dapat dipahami sebagai diberi pujian, dorongan, atau penghargaan, sedangkan dilulu berarti dibiarkan atau dituruti keinginannya, terutama ketika anak menginginkan sesuatu. Keduanya sekilas tampak mirip karena sama-sama dapat membuat anak merasa senang. Namun, dalam konteks pendidikan karakter Jawa, keduanya memiliki makna dan konsekuensi yang berbeda.

Dibombong: Membesarkan Hati Anak

Dibombong berasal dari kata bombong, yang berkaitan dengan tindakan membuat seseorang merasa senang, bangga, atau percaya diri melalui pujian dan penghargaan.

Misalnya, seorang anak mendapatkan nilai bagus dalam ujian. Orang tua kemudian berkata:

“Wah, apik. Rajin sinau ternyata hasilnya bagus.”

Pujian tersebut bukan sekadar untuk membuat anak senang. Di dalamnya terdapat pesan bahwa usaha yang dilakukan memiliki nilai dan layak dihargai.

Dalam budaya Jawa, dibombong dapat menjadi bagian dari cara membangun percaya diri (percaya marang awake dhewe) tanpa harus menjadikan anak sombong. Anak diberi pengakuan bahwa ia mampu melakukan sesuatu, tetapi tetap diarahkan untuk bersikap rendah hati.

Karena itu, dibombong yang sehat bukan sekadar mengatakan, “Kamu hebat,” tetapi juga menghubungkan pujian dengan proses dan sikap.

Misalnya:

  • “Kamu hebat karena mau berusaha.”
  • “Bapak bangga karena kamu tidak menyerah.”
  • “Hasilnya bagus karena kamu tekun belajar.”

Dengan demikian, anak belajar bahwa penghargaan bukan hanya berasal dari hasil akhir, tetapi juga dari ketekunan, tanggung jawab, dan usaha.

Dilulu: Menuruti agar Anak Tidak Rewel

Berbeda dengan dibombong, dilulu lebih dekat dengan tindakan menuruti keinginan anak agar anak merasa senang atau berhenti merengek.

Misalnya, seorang anak meminta mainan ketika berada di toko. Orang tua sebenarnya tidak berencana membeli mainan tersebut. Namun karena anak menangis atau merengek, akhirnya orang tua berkata:

“Ya wis, njaluk apa? Tuku wae.”

Anak pun mendapatkan apa yang diinginkannya.

Dalam kehidupan sehari-hari, tindakan seperti ini sangat manusiawi. Orang tua mungkin sedang lelah, tidak ingin terjadi keributan, atau merasa kasihan kepada anak.

Namun, jika dilulu dilakukan terus-menerus, anak dapat belajar sebuah pola:

“Kalau saya menangis atau memaksa, keinginan saya akan dituruti.”

Di sinilah dilulu dapat menjadi persoalan dalam pendidikan karakter.

Anak bukan hanya mendapatkan benda atau keinginannya, tetapi juga mendapatkan sebuah pelajaran mengenai bagaimana cara memperoleh sesuatu.

Dibombong Tidak Sama dengan Dilulu

Perbedaan keduanya dapat dilihat secara sederhana:

Dibombong Dilulu
Memberikan penghargaan atau pujian Menuruti keinginan
Membangun rasa percaya diri Memberikan kepuasan langsung
Dapat diarahkan pada usaha dan proses Sering kali bertujuan menghentikan rengekan
Tidak harus memberikan sesuatu yang bersifat materi Sering berkaitan dengan permintaan anak
Dapat memperkuat perilaku positif Jika berlebihan dapat memperkuat perilaku menuntut

Misalnya anak ingin mendapatkan sepeda baru.

Orang tua dapat membombong dengan mengatakan:

“Kalau kamu rajin belajar dan bisa menjaga sepeda yang sekarang dengan baik, nanti kita pertimbangkan membeli sepeda baru.”

Sebaliknya, jika anak menangis kemudian orang tua langsung membelikan sepeda agar anak berhenti menangis, tindakan tersebut lebih dekat dengan dilulu.

Perbedaannya bukan terletak pada memberi atau tidak memberi, melainkan pada alasan dan proses di balik pemberian tersebut.

Mengapa Orang Jawa Mengenal Pola Seperti Ini?

Budaya Jawa secara umum sangat memperhatikan hubungan sosial, keharmonisan, tata krama, dan kemampuan seseorang mengendalikan diri. Anak tidak hanya diharapkan menjadi pintar, tetapi juga mampu menempatkan diri dalam lingkungan sosial.

Dalam keluarga Jawa, orang tua sering menggunakan pendekatan yang tidak terlalu frontal. Nasihat dapat diberikan melalui sindiran halus, contoh perilaku, cerita, atau pembiasaan.

Dalam konteks ini, dibombong dapat digunakan untuk memberikan penguatan secara halus. Anak dibuat merasa dihargai sehingga terdorong mengulangi perilaku yang baik.

Sementara itu, dilulu menunjukkan sisi lain dari hubungan orang tua dan anak: adanya kasih sayang yang terkadang membuat orang tua sulit mengatakan “tidak”.

Kasih sayang memang penting. Tetapi dalam pendidikan anak, kasih sayang tidak selalu berarti memenuhi semua keinginan.

Kasih Sayang dan Batasan

Ada paradoks menarik dalam pengasuhan: anak membutuhkan kasih sayang sekaligus batasan.

Anak yang selalu dimarahi dapat tumbuh dengan rasa takut. Tetapi anak yang selalu dituruti juga dapat kesulitan memahami batas, penolakan, dan konsekuensi.

Karena itu, pendekatan yang lebih sehat adalah:

“Boleh memanjakan anak, tetapi jangan memanjakan keinginannya.”

Anak boleh mendapatkan pelukan, pujian, perhatian, dan waktu bersama orang tua. Namun tidak semua permintaannya harus dipenuhi.

Misalnya:

“Bapak tahu kamu pengin mainan itu. Tapi hari ini kita tidak membeli mainan. Kamu boleh kecewa, tetapi keputusan Bapak tetap sama.”

Kalimat seperti ini mungkin lebih sulit daripada langsung membelikan mainan. Namun anak sedang belajar sesuatu yang penting: keinginan tidak selalu harus menjadi kenyataan.

Dibombong yang Berlebihan Juga Tidak Selalu Baik

Menariknya, dibombong pun perlu dilakukan dengan bijaksana.

Pujian yang berlebihan dapat membuat anak terlalu bergantung pada pengakuan eksternal. Jika setiap keberhasilan selalu mendapatkan pujian besar, anak dapat mulai melakukan sesuatu hanya untuk mendapatkan validasi.

Karena itu, pujian sebaiknya spesifik dan proporsional.

Daripada:

“Kamu memang anak paling pintar!”

Lebih baik:

“Kamu sudah berusaha menyelesaikan soal yang sulit. Bagus.”

Pujian kedua memberikan pesan bahwa usaha dan ketekunan adalah sesuatu yang bernilai.

Dalam bahasa pendidikan modern, pendekatan ini dekat dengan growth mindset: anak didorong untuk melihat kemampuan sebagai sesuatu yang dapat berkembang melalui latihan dan usaha.

Dari “Dilulu” Menuju “Dibombong”

Jika dirangkum, pergeseran yang menarik dalam pengasuhan adalah:

Dilulu → anak mendapatkan apa yang diinginkan.

Dibombong → anak mendapatkan penghargaan atas perilaku atau usaha yang baik.

Keduanya sama-sama dapat membuat anak merasa senang. Namun sumber kesenangannya berbeda.

Pada dilulu, kepuasan datang karena keinginan terpenuhi.

Pada dibombong, kepuasan datang karena usaha dan perilaku mendapatkan penghargaan.

Inilah sebabnya dibombong dapat menjadi alat pendidikan karakter yang lebih konstruktif apabila dilakukan dengan tepat.

Nilai Jawa di Baliknya

Pada akhirnya, dibombong dan dilulu bukan sekadar dua istilah dalam bahasa Jawa. Keduanya dapat menjadi cermin tentang bagaimana orang tua memandang anak.

Apakah anak dipandang sebagai seseorang yang harus selalu dibuat senang?

Ataukah anak dipandang sebagai manusia yang perlu dipersiapkan untuk menghadapi kehidupan?

Dalam filosofi pengasuhan, anak tidak hanya perlu belajar mendapatkan apa yang diinginkan, tetapi juga belajar menerima ketika sesuatu tidak sesuai dengan keinginannya.

Anak perlu tahu rasanya dipuji, tetapi juga perlu belajar menerima kritik.

Anak perlu merasakan kasih sayang, tetapi juga perlu memahami batas.

Anak perlu diberi kesempatan memilih, tetapi juga perlu belajar menerima konsekuensi.

Dan anak boleh dibombong, tetapi tidak harus selalu dilulu.

Pada akhirnya, tujuan pendidikan bukanlah membuat anak selalu bahagia setiap saat. Tujuannya adalah membantu anak menjadi manusia yang kuat, percaya diri, tahu batas, mampu mengendalikan diri, dan tetap memiliki unggah-ungguh.

Dalam semangat budaya Jawa, mungkin inilah bentuk kasih sayang yang lebih dalam: tidak selalu memberikan apa yang anak mau, tetapi memberikan apa yang anak perlukan untuk menjadi manusia yang baik.

(AI/DPS)

Sabtu, 19/09/2026 10:14

Foto oleh ubed : https://www.pexels.com/id-id/foto/naik-kereta-kuda-tradisional-di-jawa-barat-37579874/

Arya Dwi Sasangka
Arya Dwi Sasangkahttps://melekberita.com
Melekberita.com bukan produk jurnalistik. Melekberita.com adalah blog yang fokus pada ide pemikiran pribadi (orisinil) yang kadang nir referensi. Kualitas ide, bisa baik dan bisa buruk. Orisinalitas adalah cara pandang yang layak dipikirkan untuk melihat sebuah realitas.

Share post:

Berlangganan

spot_imgspot_img

Popular

Artikel lainnya
Terkait

Tipe Rest Area Tol Trans Jawa

  Rest Area di Tol Trans Jawa: Tempat Beristirahat yang...

Belajar dari Nokia dan Samsung

Di awal tahun 2000-an, ketika Nokia berada di puncak...

Obyektifikasi: Ketika Manusia Dipandang sebagai Objek

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai berbagai bentuk interaksi...

April Mop dari Tradisi Guyon ke Ujian Literasi Publik

Setiap 1 April, ruang publik global dipenuhi lelucon. April...