Netral atau Memihak?

Date:

Politik itu seperti angin. Tidak sekadar berhembus tetapi ia juga mengalir. Angin mengalir dari daerah tekanan tinggi ke tekanan rendah. Politik mengalirkan gagasan kepada kepentingan. Netral atau memihak sesuai dengan kepentingannya.

Sebelum tahun 2014, gagasan netral di dalam politik, laris manis. Netral adalah sikap yang baik. Sikap idealis.

Di dalam sebuah kontestasi, sikap netral menunjukkan posisi yang adil.  Ia diam di tengah. Tidak ke kanan pun kiri.

Artis, akademisi, guru besar, dan jurnalis harus netral dalam urusan pilih memilih. Tidak boleh terjebak kepentingan sesaat. Kenapa? Karena mereka adalah milik semuanya.

Dari Netral jadi Memihak

Angin berganti, musim pun berubah. Tahun 2014 dan 2019, gagasan netral sudah tidak laku. Pada masa itu, gagasan memihak lah yang laris manis.

Kita (saya) harus memihak. Netral bukan lagi sikap yang baik. Netral dianggap sebagai sikap lemah. Sikap yang tidak bertanggung jawab. Tidak punya pendirian.

Jangan diam saja. Ambil sikap. Kita (saya) harus memihak. Memihak kepada siapa? Memihak kepada yang benar. Tentu saja kebenaran menurut versi masing-masing.

Sejak saat itulah terjadi bedol ide. Artis, akademisi, guru besar, dan jurnalis tidak lagi netral. Mereka memihak. Memihak kepada kelompoknya masing-masing.

Berita tentang artis, akademisi, guru besar, bahkan jurnalis/media dengan terang mendukung capres tertentu lazim kita (saya) baca/lihat.

Saya tidak sreg dengan ide itu. Menurut saya, mereka seharusnya tetap netral. Alasannya sederhana, mereka adalah milik semua. Bukan milik salah satu kelompok saja.

Terkait kegelisahan ini, waktu itu, saya bahkan bikin puisi. Puisi dengan judul: Seni untuk Siapa?

Ah, apalah artinya suara remah rengginang ini.

Yang jelas, sejak saat itu, dimulai era polarisasi. Cebong dan kampret. Kawan atau lawan. Aku atau kamu. Tidak ada kami pun kita.

Netral atau Memihak?

Tahun 2024, angin kembali berubah. Musim pun berganti. Di era ini, gagasan netral kembali tumbuh subur. Seruan untuk menjaga netralitas muncul di mana-mana bak jamur di musim hujan.

Artis, akademisi, guru besar, dan jurnalis diminta untuk netral.

Akan tetapi, kali ini situasi relatif pelik. Mereka yang diminta netral itu terlanjur memiliki warnanya sendiri. Tidak gampang memulihkan kepercayaan. Tidak semudah membalik telapak tangan.

Bagaimana menurut Anda? Apakah gagasan netral yang akan menang atau gagasan memihak? Bagaimana jika kita mintakan fatwa kepada mahkamah keluarga kita masing-masing. Mau?

Salam mau.

©️ DPS

Salemba, 8/11/2023 12:18

#melekopini
#melekberita

Image by melekberita

Previous article
Next article
Arya Dwi Sasangka
Arya Dwi Sasangkahttps://melekberita.com
Melekberita.com bukan produk jurnalistik. Melekberita.com adalah blog yang fokus pada ide pemikiran pribadi (orisinil) yang kadang nir referensi. Kualitas ide, bisa baik dan bisa buruk. Orisinalitas adalah cara pandang yang layak dipikirkan untuk melihat sebuah realitas.

Share post:

Berlangganan

spot_imgspot_img

Popular

Artikel lainnya
Terkait

Obyektifikasi: Ketika Manusia Dipandang sebagai Objek

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai berbagai bentuk interaksi...

April Mop dari Tradisi Guyon ke Ujian Literasi Publik

Setiap 1 April, ruang publik global dipenuhi lelucon. April...

Krisis Global dan Runtuhnya Kontrak Sosial Barat

Pagi ini, Sabtu (4/4/2026), saya mendapat wawasan berharga setelah...

DK PBB Siap Voting Resolusi untuk Selat Hormuz

Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa diperkirakan akan segera menggelar pemungutan...