Paijo baru saja membeli iPhone 16. Ia adalah karyawan yang bergaji UMR, sekitar lima jutaan. Harga iPhone yang dibelinya di atas 20 juta.
Gendon, si tukang nyinyir protes. Ia tak bisa menerima fakta keras ini. Di belakang Paijo, ia menggerutu.
Begini ceritanya:
Paijo itu dungu banget yah. Gaji UMR sok beli iPhone segala. Banyak gaya. Buat apa coba. Mending uangnya ditabung. Bisa buat beli rumah. Lebih bermanfaat. HP lima jutaan, sudah bagus lah.
Saya hanya menggeleng mendengar cerita Gendon ini. Sifat Gendon ternyata tidak berubah. Ia tetap saja suka nyinyir kepada siapa saja. Bahkan waktu itu, dia pernah nyinyir habis kepada pengemis. Katanya masih muda kok malas. Daripada mengemis kan bisa nguli, dan lain sebagainya.
Lunyu sekali mulut Gendon. Seperti perosotan TK terkena air hujan.
Saya jadi teringat pesan Simbah Wiseruh. Watuk mudah disembuhkan tapi watak sulit diobati. Begitulah watak Gendon.
Saya nyeletuk:
Mungkin beli iPhone itu, cita-cita tertinggi Paijo. Ia ga pengen beli mobil mewah lengkap dengan AC, tape, dan sopir pribadi. Apalagi rumah gedong lengkap dengan pelayan.
Banyak lho Ndon, orang yang seperti Paijo itu. Cita-cita mereka tidak ndakik-ndakik. Kadang hanya pengen punya roadbike, gopro, DSLR, atau motor scrambler.
Cita-cita mereka tentu tak seperti cita-cita cerdasmu yang penuh pertimbangan itu.
Lagian orang ingin mewujudkan cita-citanya, ingin muwujudkan keinginannya, kok kamu nyinyir.
Gendon menjawab:
Ya itu namanya dungu sih. Mereka itu orang yang mesti dicerahkan. Karena kesadaran mereka palsu.
Hegemoni iPhone telah merasuki kesadarannya. Mereka mudah dikendalikan oleh ideologi mblangsak, marketing, dan juga algoritma. Bak buih dilautan. Banyak tapi nirguna. Cepat hilang disapu gelombang. Pantas hidupnya mengeluh mulu.
Saya hanya menggeleng saja. Saya paham betul Gendon. Saya akui Gendon memang pintar. Saya tidak ragukan itu. Saya banyak sekali belajar darinya. Namun satu hal yang ia tak punya, empati kepada yang lain.
Di lain waktu, saya pernah menanyakan hal ini kepadanya. Ia menjawab, ga perlu empati kepada mereka. Mereka yang mestinya belajar agar bisa mengerti kita. Bukan kita yang harus mengerti mereka.
Saya kembali menggeleng. Argumen Gendon yang ceplas-ceplos itu memang logis. Ia memang benar. Tapi ia ga pener. Bener dan baik.
Ah, tetiba saya bertanya kepada diri saya sendiri. Apakah kebaikan itu sekarang masih diperlukan? Apalagi di kota metropolitan yang menjunjung tinggi individualisme ini?
Salam individualisme ini.
(DPS)
Jakarta, 21/8/2025 21:47
#sruvuts
#opoini

