Kemampuan AI makin ke sini, makin mengagumkan. Saya pengen nulis panjang dan dalam, tapi mulai yang ringan saja dulu.
Begini ceritanya: pada mulanya ia hanyalah teks. Tempat untuk memroses teks. Ruang untuk curhat, bertanya jawab, menganalisis, hingga mencari pengetahuan pun ilmu.
Seiring waktu, kemampuannya terus berkembang. Tak hanya teks, kini, ia bisa memroses gambar, dan video.
Dalam titik ini, gamblang sudah, otak kita sudah bisa digantikan oleh AI.
Di tahap ini, sebagian kita resah dan mencoba mengerem penggunaan AI. Terutama untuk bab akademis, seni, plagiat, etika, dan sejenisnya.
AI dipandang sebagai yang lain. Yang akan mengambil kalau tidak melumpuhkan otak kita.
Sementara, di sisi lain, ada juga yang mendukung. AI itu hanya alat. Sama seperti pisau. Gunakanlah AI untuk mempermudah hidup.
Kelompok ini memandang AI sebagai konco wingking (teman belakang), untuk membersamai dalam hidup.
Anda ikut yang mana? Nanti, mana dua pendapat di atas yang akan mayoritas/menang?
Saya percaya, kisah AI ini kelak akan seperti kisah mesin uap. Penemuan mesin telah menggantikan otot manusia. Karena mesin bisa bekerja 24 jam, lebih cepat, akurat, dan sebagainya.
Demikian juga AI. AI akan menggantikan otak kita. Meski banyak kekurangannya, seiring waktu, AI jelas akan semakin efektif dan efisien, dalam caranya ia berpikir dan merespon.
Apakah kita akan punah?
Tidak. Tentu fungsi manusia tetap akan ada. Karena kita sudah ada, ribuan tahun yang lalu. Kita sudah melewati pasang surut zaman. Mulai dari hujan meteor, mencairnya es, pemburu pengumpul, hingga berserikat, dan terbentuknya Board of Peace.
Berikutnya, AI akan berkembang ke arah otomasi. Artinya AI akan mampu berinisiatif sendiri. Berbekal data, informasi, dan algoritma, AI bisa merespon sesuatu. Tanpa perlu dikendalikan.
Hal ini sudah terjadi, bahkan telah dan sedang diuji coba.
Beberapa hari yang lalu, saya membaca berita tentang pengembangan aplikasi media sosial khusus untuk AI. Di aplikasi ini, anggotanya adalah AI semua. Di sana AI bisa saling merespon, bertukar gagasan, dan ide. Layaknya saya dan anda ngobrol di warung kopi.
Dari situ jelas, AI berpotensi akan semakin cerdas. Di sinilah robot yang kita sering saksikan di film itu akan mewujud.
Ah, tetiba saya jadi ingat pesan Simbah Wiseruh beberapa tahun yang lalu. Begini katanya: “Le, dalam dunia pengembangan aplikasi itu, dalilnya hanya satu. Apa yang bisa kamu pikirkan, itu bisa terjadi.”
Salam terjadi.
(DPS)
Jakarta, 16/2/2026 13:34
#Sruvuts
*Image by Pixabay

