Neraca Jam Kerja

Date:

melekberita.com – Setelah revolusi industri, jam kerja dipercaya menjadi daya saing sebuah bangsa. Semakin banyak jam kerja, semakin berpeluang bangsa itu menjadi unggul atau maju.

Kenapa?

Karena di balik TV, HP, laptop, sepeda motor, mobil, kereta api, kapal, pesawat terbang, meja, kursi, baju, sepatu, bahkan kasur tempat Anda tidur sehari-hari itu ada jam kerja.

Menurut KBBI, jam kerja adalah waktu yang dijadwalkan bagi pegawai dan sebagainya untuk bekerja.

Sedangkan menurut Wikipedia, jam kerja adalah periode waktu di mana seseorang melakukan pekerjaan untuk mendapatkan upah tertentu.

Revolusi industri memungkinkan manusia untuk bekerja setahun penuh. Mereka tidak lagi tergantung pada musim dan waktu. Alat pengatur suhu memungkinkan manusia untuk bisa bekerja di musim dingin dan panas. Sedangkan lampu memungkinkan manusia untuk bisa bekerja di malam hari.

Saat itu, budak dan buruh tani pun mulai beralih untuk bekerja di pabrik. Sehingga jam kerja meningkat secara signifikan.

Baca juga: Ban Bocor, Ujian atau Azab?

Dengan jam kerja ini, berbagai ragam produk berstandar yang low cost dibuat. Produk untuk sandang, pangan, dan papan yang dibutuhkan setiap waktu. Di sinilah, jam kerja itu menjadi kunci kemajuan.

Mungkin Anda sering membaca berita terkait neraca perdagangan atau neraca pembayaran. Tapi pernahkah Anda membaca berita soal neraca jam kerja.

Bagaimana neraca jam kerja sebuah bangsa? Bagaimana kondisi, status, dan cara mengukurnya?

Dalam Presidential Lecture yang diadakan oleh Bank Indonesia, Senin, 13/02/2017, Presiden Habibie menegaskan perlunya neraca jam kerja, disamping neraca perdagangan dan pembayaran negara.

Neraca jam kerja akan menjadi strategi dalam menekan ketergantungan negara terhadap impor

Beliau kemudian mencontohkan negara harus memberi kesempatan kepada generasi penerus untuk mengembangkan inovasi. Tidak ada guna pendidikan tinggi jika negara kurang menciptakan wadah kreasi bagi mereka.

“Jadi profesor pun tidak berarti anda bisa membuat kapal, punya sistem pertanian yang unggul, itu hanya bisa ditempa jikalau yang bersangkutan tidak nganggur, ada kerjaannya, tidak di PHK,” kata Presiden Habibie seperti dikutip bisnis.com.

Jam kerja tidak bisa dilepaskan dengan lapangan kerja. Semakin banyak lapangan kerja, otomatis semakin banyak pula jam kerja. Untuk memperbanyak jam kerja, selain durasinya yang ditambah, tentu lapangan kerjanya yang harus diciptakan.

Jadi semua warga di sebuah bangsa, yang mampu, idealnya mereka harus bekerja. Kerja, kerja, kerja.

Salam kerja.

Jakarta, 26/05/2022

Image from Pixabay

*Artikel ini edisi revisi, dipublish pertama kali 31/12/2012 04:19

Arya Dwi Sasangka
Arya Dwi Sasangkahttps://melekberita.com
Melekberita.com bukan produk jurnalistik. Melekberita.com adalah blog yang fokus pada ide pemikiran pribadi (orisinil) yang kadang nir referensi. Kualitas ide, bisa baik dan bisa buruk. Orisinalitas adalah cara pandang yang layak dipikirkan untuk melihat sebuah realitas.

Share post:

Berlangganan

spot_imgspot_img

Popular

Artikel lainnya
Terkait

Belajar dari Nokia dan Samsung

Di awal tahun 2000-an, ketika Nokia berada di puncak...

Obyektifikasi: Ketika Manusia Dipandang sebagai Objek

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai berbagai bentuk interaksi...

April Mop dari Tradisi Guyon ke Ujian Literasi Publik

Setiap 1 April, ruang publik global dipenuhi lelucon. April...

Krisis Global dan Runtuhnya Kontrak Sosial Barat

Pagi ini, Sabtu (4/4/2026), saya mendapat wawasan berharga setelah...