Balance

Date:

katasimbah.com – Lelaki paruh baya itu menatap langit-langit beranda rumahnya. Matanya nanar. Pikirannya menerobos masa lalu. Ia mencoba napak tilas kembali perjalanan hidupnya.

Dua puluh tahun yang lalu, ia meninggalkan desanya yang damai. Email panggilan kerja membawanya berangkat ke ibu kota. Mengubah nasib, tekadnya dalam hati.

Meski serba nyaman, hidup di desa serba terbatas. Tak ada lapangan kerja yang dicitakannya. Kalau gak angon sapi ya macul di sawah. Pemuda itu ogah. Kerja kantoran, ruangan ac, megang komputer di gedung bertingkat lah yang ia impikan.

Empat, lima tahun angin metropolitan perlahan mulai mengubah karakter sang pemuda. Hidup tepo seliro, nerimo ing pandum, iso ngeroso, perlahan mulai terkikis. Uang, uang, dan uang, adalah ideologi kuat yang terus menancap di pikirannya.

Wajar, tak ada yang gratis di kota ini. Buang air kecilpun, bayar. Semua serba uang. Baik buruk dinilai dari banyak uang. Tak lagi soal ketulusan, pengertian, apalagi kejujuran. Simpan dulu.

Waktu terus berjalan. Hidup sang pemuda mendadak serba tergesa. Dunianya menjadi cepat. Waktu adalah uang. Yang cepat yang akan makan.

Dunia digital mulai mewabah. Sang pemuda tak lagi kerja 9 jam. Ia nyaris kerja sepanjang waktu, nyaris 24 jam meski tak terus menerus. Tuntutan pekerjaan katanya.

Seiring dengan itu, tak bisa dipungkiri, pundi-pundi uangnya juga semakin banyak. Makan di mana saja dia bisa. Dolan dan nginep di hotel manapun juga mampu. HP terkini, sepeda motor, mobil, dan rumah, semua dia miliki.

Tapi semua itu tak membuatnya cukup. Satu yang dia tak punya, perasaan tenang.

Sebulan yang lalu, bak petir di siang bolong, kabar tak enak datang dari kantornya. Ia mesti pensiun dini. Pupus sudah harapannya. Kantor yang dia banggakan, siang dan malam, tak lagi dapat diandalkan. Jabatannya apalagi.

Pemuda itu sadar. Materi yang susah payah dia kumpulkan serasa tak lagi bernilai. Semuanya fana dan akan ditinggalkan. Pada waktunya.

Senja kian dekat. Ia merasa bekalnya pulang sangat sedikit. Tetiba ia menangis sesenggukan, hatinya sedih. Banjir air matanya. Kaosnya basah. Sudah lama dan terlalu jauh ia melenceng.

Andai saja waktu bisa diputar kembali. Ia akan hidup balance. Kantor rumah, kota desa, dunia dan akhirat, pesannya.

Semoga dia kembali ke jalanNya, amin.

Salam

Bogor, 15-02-2020 17:13
#katasimbah

Previous article
Next article
Arya Dwi Sasangka
Arya Dwi Sasangkahttps://melekberita.com
Melekberita.com bukan produk jurnalistik. Melekberita.com adalah blog yang fokus pada ide pemikiran pribadi (orisinil) yang kadang nir referensi. Kualitas ide, bisa baik dan bisa buruk. Orisinalitas adalah cara pandang yang layak dipikirkan untuk melihat sebuah realitas.

Share post:

Berlangganan

spot_imgspot_img

Popular

Artikel lainnya
Terkait

Belajar dari Nokia dan Samsung

Di awal tahun 2000-an, ketika Nokia berada di puncak...

Obyektifikasi: Ketika Manusia Dipandang sebagai Objek

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai berbagai bentuk interaksi...

April Mop dari Tradisi Guyon ke Ujian Literasi Publik

Setiap 1 April, ruang publik global dipenuhi lelucon. April...

Krisis Global dan Runtuhnya Kontrak Sosial Barat

Pagi ini, Sabtu (4/4/2026), saya mendapat wawasan berharga setelah...