Pada suatu hari, di suatu sore, di tengah hujan, ditemani kopi dan gedang goreng, di ruang tengah, saya dan Simbah Wiseruh menonton TV. Demo diikuti kerusuhan dengan pembakaran terjadi di berbagai daerah, seperti Jakarta, Makasar, Yogyakarta, Surabaya, dan Bandung.
Simbah Wiseruh bercerita.
Begini ceritanya:
Le, kami, generasi simbah ini percaya bahwa di sebuah masyarakat itu berjalan suatu sistem operasi, namanya telu ngo (3 Nga): ngalah, ngaleh, ngamuk. Masyarakat disakitin, mereka diam saja, sabar. Sampai kapan? Bisa 1 hingga ribuan kali. Mereka ngalah.
Jika sudah ngalah, mereka masih disakitin lagi maka mereka akan menghindar, pergi, ngaleh. Meskipun, kasarnya, mereka meski meninggalkan harta bendanya. Harta yang telah dicari puluhan tahun. Mereka mau. Mereka bersedia ngaleh dengan harapan agar tidak disakiti kembali. Mereka ingin tenang dan damai. Hidup guyub rukun. Adem ayem.
Jika sudah ngaleh, mereka tetap disakitin maka mereka bisa ngamuk. Di sinilah batas kesabaran itu menemui ujungnya. Pada tahap ini, bumi hangus bisa terjadi meski nyawa taruhannya. Nggegirisi.
Saya hanya manthuk-manthuk. Kata-kata Simbah terus membekas. Simbah selalu bisa membuka pintu-pintu pikiran di otak saya.
Simbah melanjutkan..
Dari satu Ngo ke Ngo yang lain itu Le, tidak instan. Ia melewati berbagai tahapan. Mulai tahap pemikiran, perenungan, pengendapan, hingga pengambilan keputusan. Oleh karena itu, jika ngamuk sampai terjadi, maka ia adalah hasil dari sebuah pengendapan yang bertahap, lama.
Tapi di era sekarang, Simbah juga paham, pesatnya kemajuan teknologi bisa membuat percepatan. Dalam hal ini termasuk percepatan amuk itu.
Misalnya, kamu baru saja terkena PHK masal. Teman-teman kamu juga. Lingkungan sekitarmu sulit. Kehidupan terasa terjal, berliku, dan mendaki. Tetiba kamu lihat di HP, tetanggamu yang sombong, suka flexing, minim empati itu dapat tunjangan 100 juta per bulan dari uang warga. Ditambah teman tetanggamu itu meledek kamu dengan kata-kata titttttttttt. Video tetanggamu dan temannya itu kemudian viral. Lewat beranda kamu terus menerus setiap waktu. Belum lagi jika video tersebut beranak pinak dengan bumbu-bumbunya. Hal-hal seperti ini akan membuat kamu menjadi sumbu pendek. Mudah terbakar.
Oleh karena itu, bijaklah Le, jika kelak kamu sudah menjadi orang. Yang tahu diri dan tempat, mengerti empan dan papan.
Salam papan.
Kemayoran, Jakarta, 30/8/2025 8:33
#sruvuts


