Figur atau Mesin?

Date:

Katasimbah.comGuys, dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita bingung karena dibingungkan oleh yang membingungkan kita. Karena beban kehidupan sehari-hari dan otak kita yang malas, kebingungan itu kita telan sebagai kebenaran lalu kita arsip di dalam otak.

Celakanya, arsip itu kita akses kapan saja untuk merespon situasi yang kita hadapi sehari-hari. Karena kebenaran yang kita simpan itu sejatinya adalah kebingungan, apapun sikap yang kita ambil berlandaskan arsip itu akan cenderung keliru atau bias.

Misalnya, dalam pertandingan 9 Juli nanti, figur atau mesinkah yang berpangaruh untuk memenangkan pertandingan?

Jawabannya jelas mudah. Pertanyaan seperti ini sering didiskusikan di warung kopi hingga tivi. Pengamat pun intelektual kadang turut intervensi menjelaskannya. Pertanyaan yang diulang-ulang hingga terdengar seperti lagu di atas kaset rusak. 

Anehnya, meski protes tapi kita turut menikmati juga keadaan itu. Kok bisa? Ini karena efek sensasi yang ditimbulkan dari nada fals kaset mbliut tersebut. Sensasi yang selalu menyebabkan ketagihan.

Dari pertanyaan di atas, katasimbah yakin banyak yang jawab figur. Hasil survei katasimbah juga mengatakan 95% responden menjawab figur. Mesin partai tidak berpengaruh. Kalaupun ada, pengaruhnya kecil sekali.

Survei katasimbah dilakukan secara serempak di 33 provinsi di seluruh Indonesia dengan jumlah sampel sebanyak 100 responden imaginer dan margin of error tidak diketahui. Penarikan sampel survei menggunakan cara random sampling dengan  metode penerawanganSalam lontong :).

Tidak salah memang guys. Kenapa? Karena kita melihat keadaan. Fakta di lapangan. Dalam berbagai kontestasi, kontestan yang didukung banyak parpol memang terbukti belum tentu menang. Khalayak masih melihat figur ketimbang mesin partai.

Kalau kita tajamkan lagi, kok bisa, kenapa? Karena pada kenyataannya memang tidak banyak partai yang membina konstituennya. Sehingga mereka menjadi cair, mudah goyah dan terombang-ambing. Dalam bahasa pemilu, mereka sering kita kenal sebagai swing voters.

Selasa (17/6) dinihari, pukul 01:00 WIB, di Arena Fonte Nova, Salvador, dalam pertandingan yang lain, semua teori (opini, wacana, gagasan) di atas terbukti salah. Figur Cristiano Ronaldo faktanya jelas tidak mampu membawa Portugal memenangkan pertandingan melawan Jerman. Mesin ‘Panzer’ Jerman yang kuat menggilas Cristiano Ronaldo cs dengan skor telak 4-0.

Kolektifitas permainan yang disiplin, umpan-umpan yang akurat, koordinasi antar lini yang bagus, daya tahan individu yang prima dari pemain Jerman mampu melawan superioritas figur Cristiano Ronaldo, pemain terbaik dunia 2013. Di sini jelas, figur kalah oleh mesin.

Piye ker?

(@DPSasongko)

Kemayoran, 17 Juni 2014 02:00 WIB, ba’da Jerman 4 – 0 Portugal.

Previous article
Next article
Arya Dwi Sasangka
Arya Dwi Sasangkahttps://melekberita.com
Melekberita.com bukan produk jurnalistik. Melekberita.com adalah blog yang fokus pada ide pemikiran pribadi (orisinil) yang kadang nir referensi. Kualitas ide, bisa baik dan bisa buruk. Orisinalitas adalah cara pandang yang layak dipikirkan untuk melihat sebuah realitas.

Leave a Reply

Share post:

Berlangganan

spot_imgspot_img

Popular

Artikel lainnya
Terkait

Belajar dari Nokia dan Samsung

Di awal tahun 2000-an, ketika Nokia berada di puncak...

Obyektifikasi: Ketika Manusia Dipandang sebagai Objek

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai berbagai bentuk interaksi...

April Mop dari Tradisi Guyon ke Ujian Literasi Publik

Setiap 1 April, ruang publik global dipenuhi lelucon. April...

Krisis Global dan Runtuhnya Kontrak Sosial Barat

Pagi ini, Sabtu (4/4/2026), saya mendapat wawasan berharga setelah...