Jalur Sol Sepatu

Date:

katasimbah.com “Soooool sepatu,” kata seorang bapak. Suaranya saya dengar dari teras. Singkat, bernada, terukur, mantab dan enak di telinga.

Yang mendengarkan, tanpa perlu penjelasan, paham betul tafsir dari suara tersebut. Ya, Anda tepat sekali. Jasa ‘penyolan’ (pe + sol + an) sepatu, termasuk sandal.

Di sinilah sebuah tanda itu ditafsirkan tunggal. Tidak ada tafsir lain. Telah terjadi mufakat meski tanpa musyawarah. Baik lokal pun nasional.

Dengan nada yang sama, bapak tersebut menyusuri jalan. Keluar masuk gang, melewati rumah ke rumah.

Entah sudah berapa kilometer jarak yang telah dia tempuh. Jika dia berjalan dari pukul 6:00 hingga 16:00 dengan kecepatan sekitar 2 langkah per detik dan 5 kali istirahat masing-masing 15 menit, diketahui 1 langkah = 35 cm.

Bapak ini jelas tidak mengerti ilmu ekonomi, manajemen dan bisnis termutakhir. Apa value preposition yang dia tawarkan, siapa segmentasi pelanggannya, bagaimana cara mengakuisisi dan mempertahankan pelanggannya, bagaimana strategi pemasarannya dan lain sebagainya.

Yang dia tahu hanyalah berikhtiar. Yang dia tahu hanyalah keluar pagi, keliling, dan pulang sore.

Penghasilan yang dia peroleh juga sangat dinamis. Dengan tarif 15 ribu per sepatu atau sandal, dia bisa mendapat uang 15 ribu, 45 ribu, bahkan di atas 100 ribu per hari.

Dengan penghasilan ini, dia bisa menyukupi kebutuhan keluarganya. Dia juga mampu menyekolahkan anaknya yang masih SMA, SMP dan SD.

Yang membuat kagum, usaha solnya ini sudah bertahan nyaris 12 tahun. Tanpa profit, tidak mungkin usaha atau bisnis bisa bertahan selama ini.

Saya takjub, mendadak otak saya buntu mencerna fenomena ini. Kok bisa ya?

Dan yang membuat di atasnya takjub, saya melihat bapak sol sepatu ini hadir di berbagai bidang. Ada bapak bakso, siomay, ketoprak, nasi goreng, mie ayam, mainan anak, balon, roti dan lainnya.

Mereka gigih, tekun, ulet, sabar, pantang menyerah. Dengan peralatan seadanya, dengan segala keterbatasannya mereka bekerja dalam sunyi.

Kerja kerja kerja. Kerja mereka nyata. Sumbang sihnya bagi negeri juga nyata.

Berapa banyak sepatu yang pernah diperbaikinya. Satu, sepuluh, dua puluh, seratus atau ribuan. Berapapun jelas ini sangat membantu ekonomi sebuah keluarga. Karena mereka tak perlu beli sepatu anaknya lagi misalnya.

Lebay? Rasanya tidak.

Tak terasa, sinar mentari sudah menelusup ke dalam teras. Cahayanya terang seperti harapan. Secangkir kapal api yang menemani saya dari tadi tinggal seteguk. Slurppp.

Djakarta, 13 Mei 2017 08:09

Arya Dwi Sasangka
Arya Dwi Sasangkahttps://melekberita.com
Melekberita.com bukan produk jurnalistik. Melekberita.com adalah blog yang fokus pada ide pemikiran pribadi (orisinil) yang kadang nir referensi. Kualitas ide, bisa baik dan bisa buruk. Orisinalitas adalah cara pandang yang layak dipikirkan untuk melihat sebuah realitas.

Share post:

Berlangganan

spot_imgspot_img

Popular

Artikel lainnya
Terkait

Belajar dari Nokia dan Samsung

Di awal tahun 2000-an, ketika Nokia berada di puncak...

Obyektifikasi: Ketika Manusia Dipandang sebagai Objek

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai berbagai bentuk interaksi...

April Mop dari Tradisi Guyon ke Ujian Literasi Publik

Setiap 1 April, ruang publik global dipenuhi lelucon. April...

Krisis Global dan Runtuhnya Kontrak Sosial Barat

Pagi ini, Sabtu (4/4/2026), saya mendapat wawasan berharga setelah...