Home Blog Page 31

Apakah Media Cetak akan Punah?

melekberita.com – Perkembangan teknologi telekomunikasi dan informasi yang sangat pesat mengubah dunia jurnalisme. Internet mengubah cara penyampaian informasi dan format pemberitaan. Internet telah mengubah dunia informasi secara revolusioner.

Internet praktis menghancurkan peranan ruang redaksi sebagai gate keeper informasi. Wartawan kini tak memiliki peranan buat menentukan apa yang perlu diberitakan, apa yang tak perlu.

Dengan teknologi digital, informasi  sangat mudah dan murah untuk diproduksi dan disebarkan. Dampaknya, terjadilah ledakan data dan tsunami informasi.

Pasokan informasi yang membludak tersebut membuat masyarakat kesulitan menyaring berita. Informasi yang dapat dipercaya dan tidak campur menjadi satu. Manusia tenggelam dalam lautan teks, audio dan video.

Sekarang, setiap orang bisa menjadi wartawan sekaligus penerbit lewat blog. Setiap orang bisa menjadi penyiar sekaligus produser lewat YouTube. Lewat Facebook atau  Twitter, setiap orang juga bisa menjadi komentator atau pengamat.

Dulu, sepuluh tahun yang lalu, hal-hal di atas mustahil untuk dilakukan. Mahalnya harga mesin cetak membuat tak setiap orang mampu menjadi penerbit surat kabar. Untuk membangun stasiun radio dan tivi juga dibutuhkan modal yang tidak sedikit.

Berita tentang manusia menggigit anjing dulu hanya bisa dibaca di koran/majalah. Sekarang, artis potong rambut sekalipun, kita bisa langsung mengetahuinya. Teknologi digital telah mengubah semuanya.

Sepuluh tahun yang lalu orang masih mendengarkan musik dengan menyetel kaset.  Sepuluh tahun yang lalu orang masih memotret dengan film. Dan sepuluh tahun yang lalu orang masih membeli tivi tabung. Kini?

Nasib Media Cetak

Lantas bagaimanakah nasib media cetak sekarang dan yang akan datang. Apakah dia akan punah?

Perdebatan tentang masalah ini sudah lama diwacanakan. Ada dua aliran besar. Satu pihak percaya media cetak akan tetap ada. Pihak yang lainnya percaya media cetak akan punah, kalaupun tidak punah akan menyusut drastis.

Pihak yang percaya media cetak akan tetap ada beralasan bahwa kertas adalah peradaban kuno manusia yang sudah teruji oleh waktu. Manusia akan tetap tergantung sama kertas. Buktinya, printer sekarang malah kian beragam. Selain itu, kondisi infrastruktur teknologi informasi di negeri ini juga masih semrawut. Kecepatan akses internet masih putus nyambung.

Pihak lain yang percaya media cetak akan punah/menyusut drastis beralasan bahwa telah ditemukan teknologi pengganti kertas yang memudahkan manusia untuk memproduksi dan mengakses berita. Diciptakannya tablet dua tahun yang lalu adalah buktinya. Betul masih ada keterbatasan tapi teknologi informasi itu berkembang sangat cepat.

Dari dua pendapat di atas, manakah yang benar?  Biarlah waktu yang akan menjawabnya.

Newsweek Warning

Pada tanggal 18 Oktober 2012, Tina Brown mengumumkan bahwa Newsweek akan berhenti menerbitkan edisi cetak. Dengan edisi terakhir tanggal 31 Desember 2012 dan akan bertransisi ke format serba digital.

Newsweek berdiri pada 17 Februari 1933. Majalah ini oplahnya kedua terbesar di Amerika Serikat setelah Time dalam sirkulasi dan pendapatan iklan.

Apa yang terjadi pada Newsweek di atas, jelas bisa juga terjadi pada media cetak manapun. Dan saat era itu datang, rasanya sulit dicegah oleh siapa pun. Bukan menakut-nakuti, kasus Newsweek harus menjadi peringatan bagi pebisnis media cetak. Perubahan zaman meski disikapi dan dicermati dengan baik.

Sekarang, kalau mau buka data, adakah media cetak yang oplahnya terus naik dalam lima tahun terakhir. Kalaupun ada, lebih banyak mana, media cetak yang oplahnya naik atau turun.

Tanyakan juga pada generasi muda. Apakah mereka membaca media cetak? Seberapa sering mereka membaca media cetak? Lebih banyak mana, membaca media cetak atau internet? Jawabannya akan sangat mencengangkan.

Era Digital

“Web sudah menjadi kultur global, setelah jeans dan Coca cola, “ kata Budiono Darsono (CEO, detikcom) di PCplus dalam acara diskusi ‘Trend Media Digital di Era Mobile Data’ di Jakarta (5/12).

Budiono mengungkapkan bisnis media tidak akan mati dengan kehadiran digital media. Tapi hanya akan berubah bentuk dari print media menjadi media digital.

“Bisnis media tidak akan pernah mati. Yang mati hanya bentuk fisiknya saja, yakni dari dalam bentuk print media, berganti menjadi media digital,” kata Budiono Darsono di telsetnews dalam acara yang sama.

Kapan terakhir anda beli koran?

Salam koran.

(©DPS)

Kajian Lapangan terhadap Fenomena Ban Bocor di Jalan Raya

0

Di dalam hidup, terkadang kita mengalami kejadian yang kurang enak. Misalnya ban sepeda kita bocor di siang hari yang terik, karena terkena paku di jalan. Ada yang menyebut kejadian itu sebagai ujian. Ada juga yang menyebutnya azab.

Seperti Kisah si Bejo. Saat perjalanan ke Barat, ban sepeda motor Bejo bocor. Ia sedang di enggok-enggokan (tikungan). Sepuluh meter di depannya ada tukang tambal ban.

Bejo merasa beruntung. “Alhamdulillah,” katanya. Ia tidak perlu bersusah payah mendorong motornya hingga jauh.

Ketika sedang asik menambal, tukang ban itu bercerita : “Kemarin ada yang naruh KTP sama saya mas. Bannya robek. Ia minta ban tersebut diganti baru. Pengendara itu tidak punya uang. Dia menaruh KTPnya sebagai jaminan. Janjinya, besok ia akan kembali dan mengganti biaya ban.”

Bejo kaget. Jumlah KTP yang ditunjukkan kepadanya ternyata banyak. Lebih dari satu. Ada segepok. Mungkin sekitar lima atau enam. Artinya banyak orang yang tidak membayar saat tambal atau ganti ban. Bahkan KTP itu ada yang sudah satu bulan tidak diambil oleh pemiliknya.

Ada-ada saja, pikir Bejo dalam hati. Tapi inilah ibu kota gaes.

Baca juga : Ilusi Kecantikan

Kajian Lapangan Ban Bocor

Sambil menunggu tambalannya, Bejo melamun. Pikirannya mengembara.

Bejo teringat cerita tentang penebar paku. Ada orang yang memang sengaja menebar paku di jalan raya. Tujuannya agar motor/mobil yang lewat di daerah tersebut bannya bocor.

Dan biasanya, korban sering menuduh tukang ban sebagai pelakunya. Kenapa? Motifnya jelas ekonomi. Agar usaha tambal bannya laku.

Hitungan logisnya seperti ini, untuk makan wajar tiga kali sehari di ibu kota tidak cukup Rp 30 ribu. Belum rokok, kopi, dan pulsa. Jika usahanya sepi maka tukang tambal ban tidak ada pemasukan. Padahal dia sudah bekerja. Ia punya alat produksi dan juga keahlian.

Urusan perut tentu sulit (tidak bisa) untuk ditunda. Akhirnya jalan tidak lazim ditempuh. Ia menebar paku di jalan.

Memang tidak semua tukang ban seperti itu. Ini hanya oknum saja.

Di sisi lain, pemilik mobil atau motor lebih suka menyerahkan urusan bannya ke bengkel. Bukan ke tukang ban. Akibatnya, tukang ban sepi.

Coba sebagian pemilik kendaraan itu berubah pemikirannya dengan mengalihkan urusan bannya ke tukang ban. Tukang ban akan tetap punya pemasukan. Sehingga ia mungkin tidak akan menebar paku lagi di jalan.

Hikmah Ban Bocor

Ngenggg, suara kendaraan menyadarkan Bejo dari lamunannya.

Di depan lokasi tukang ban itu adalah jalan protokol. Kendaraan hilir mudik dari tadi. Lalu lintas saat itu padat. Ramai lancar.

Bejo memperhatikan lalu lintas itu. Meski ada kisah paku disebar tetapi ternyata tidak semua kendaraan terkena paku tersebut. Hanya satu dua saja. Salah satunya adalah kendaraannya.

“Kenapa kendaraanku yang terkena paku, bukan kendaraan orang lain?” tanya Bejo dalam hati.

Ada dua jawaban yang ia temukan pada saat itu.

Pertama, jawaban rasional. Yaitu terkait peluang. Peluangnya: ada yang melindas, ada yang tidak. Hal ini wajar, umum, lumrah, logis saja.

Kedua, jawaban suprarasional. Yaitu soal nasib. Mungkin ia banyak dosa, maksiat, kurang sedekah, durhaka, dan sejenisnya. Sehingga ia apes.

Dari pandangan tukang ban, apesnya Bejo ini adalah rezeki. Sedangkan bagi Bejo, hal itu adalah musibah. Fenomena menarik. Satu fenomena bisa dimaknai dari dua sisi yang berbeda.

Jawaban suprarasional di atas menggelitik pikiran Bejo lebih jauh. Apesnya dia itu sebagai ujian atau azab?

Kesimpulan

Kajian lapangan ban bocor : ketika ban Anda bocor terkena paku di jalan raya, mungkin Anda bertanya. Kenapa Ban Anda yang terkena paku? Bukan ban orang lain. Apakah ini hanyalah peristiwa biasa yang rasional saja? Ataukah ini kejadian suprarasional akan adanya ujian atau azab?

Apapun jawabannya, Anda tetap harus menerima dan sabar menunggu sampai ban Anda selesai ditambal.

Salam ditambal.

Kemayoran, Jakarta, 25/05/2012 18:05

(©ADS)

#kisahsibejo
#melekberita

*Foto oleh Robert Laursoo di Unsplash
*Artikel ini edisi revisi, dipublish pertama kali 15/07/2012 11:17

Halo Dunia!

Halo dunia!

Selamat datang di website kami. Ini adalah postingan pertama.

Selamat Datang Pagi

Saat kata enggan terucap
Saat tak ada kawan berbagi
Kepada siapa perasaan harus dilepas
Sembunyi, tak selamanya kuat

Catatan kadang menjadi gudang
Untuk berekspresi dan mengapresiasi
Semuanya tak lepas dari keakuanku
Sebagai makhlukNya yang lemah

Menulislah

– © DPS

Palmerah, Jakarta – 12/4/2004