Home Blog Page 30

The Power of Cewek: Kata dan Tindakan

melekberita.com – Pada suatu sore, di sebuah tempat, dua bocah yang beranjak gedhe (ABG), cewek dan cowok sedang mengobrol dengan seru. Mereka bercanda dengan riang dan asik sekali.

Tiba-tiba, di tengah obrolan, si cowok nyeletuk: “Ciyus! miyapa?”

Mendengar kata itu si cewek terlihat kesal. Ia ngambek. Ceritanya yang serius malah ditanggapi dengan guyonan oleh cowoknya.

Dengan ketus si cewek menjawab: “Mie goreng.”

“Goreng apa?” tanya si cowok spontan dengan nada menggoda.

Merasa jawabannya mendapat serangan tiki-taka, si cewek meladeninya dengan kick and rush. Singkat ia menjawab: “Goreng ikan.”

Melihat tiki-takanya mendapat perlawanan, si cowok gak mau kalah. Ia kian gencar menyerang. Ia bertanya lagi : “Ikan apa?”

Sampai di sini pertandingan makin seru. Dua ABG tersebut saling bertukar kata dalam tempo tinggi. Semua berjalan dengan singkat. Hanya sepersekian detik.

Kembali ke lapangan gaess.

Tidak mau mati angin (kehabisan kata-kata), si cewek pendek menjawab: “Ikan mas!”

Entah kenapa, bukannya berhenti, si cowok itu malah makin semangat. Semakin pertanyaannya dijawab, semakin keusilannya meningkat. Ia bertanya lagi : “Mas apa?”

“Masalah buat loe?” jawab si cewek dengan nada tinggi.

Cetar!!! Jawaban ini nampaknya diluar perkiraan si cowok. Tensi obrolan jadi tinggi. Pertandingan hampir berakhir dengan skor 1-0 untuk si cewek.

Merasa terjadi kemelut di depan gawangnya, si cowok membuang bola jauh ke luar lapangan. Sayang tindakannya tidak diikuti dengan memperbaiki strategi tiki-takanya yang terbukti tidak efektif. Ia masih saja menggunakan teknik yang sama, menyerang dengan pertanyaan-pertanyaan datar.

Ia bertanya lagi: “Loe apa?”

Di sinilah, akhirnya pertandingan mencapai puncaknya. Dengan tangkas, si cewek menjawab : “Loe gue end.” Si cewek lalu ngeloyor pergi meninggalkan cowoknya.

Si cowok mlongo. Ia tak menduga jawaban ini. Beruntung dia segera menyadari situasi. Lalu dia mengejar si cewek itu dan merayunya.

Adegan India pun terjadi. Beberapa menit kemudian, mereka sudah akrab kembali.

Mendengar dan menyaksikan ini, saya cekikikan dalam hati. Sesuatu yang awalnya sepele ternyata bisa menjadi serius. Kriwikan dadi grojogan.

Begitulah gaess, the power of cewek itu bekerja pada sebuah obrolan. Ada kalanya omongan itu kalah dengan tindakan. So bertindaklah.

Salam bertindaklah.

Jakarta, 3/6/2022

*Artikel edisi revisi, artikel pertama terbit 14/03/2013 03:49

Sumur, PAM dan Galon

0

melekberita.com – Dua puluh tahun yang lalu, sumur itu menjadi sumber mata air keluarga itu di desa itu. Desa yang berlimpah air di kaki Gunung Berapi.

Dua tahun kemudian masuklah jaringan Pipa Air Minum (PAM) ke penjuru desa. Katanya sekarang adalah era pembangunan. Jadi tidak perlu repot lagi nimba air dari sumur, enggak zaman. Tinggal buka kran saja, air langsung ngucur. Kapanpun butuh air, tinggal buka kran. Sederhana, mudah.

Masih menurut katanya, konon air PAM lebih bersih dari air sumur, bahkan lebih enak, segar, sehat dan aneka lebih yang lainnya.

PAM membuat penduduk desa galau. Ramai-ramai mereka bedhol desa pasang PAM di rumahnya. Beberapa orang bahkan ada yang menutup sumurnya. Permintaan pembuatan sumur baru turun drastis.

Salah satu penduduk yang galau itu sebut saja namanya Joni. Joni takut kalau keluarganya ikut tren pasang PAM.

Joni yang lagi masa pertumbuhan (Anak Baru Gede/ABG) sedang senang dan giat-giatnya olahraga. Menimba air dari sumur dan memindahkannya dari satu tempat ke tempat yang lain adalah bentuk olahraga yang wow menurut Joni.

Di pikiran Joni, dia ingin awake dadi. Orang desa menyebutnya kotak-kotak. Kalo bisa Joni ingin badannya kotak-kotak kayak Rambo, idola remaja saat itu.

Bagi Joni, menimba air adalah manifestasi dari nge-gym. Menimba air adalah sarana yang bisa membentuk badannya menjadi kotak-kotak.

Tidak hanya itu, karena baru peralihan dari anak-anak ke ABG, Joni juga baru saja mendapat SIM (Surat Izin Menimba) air di sumur dari orang tuanya. Suatu kebanggaan tersendiri buat Joni. Asal Peno tahu ker, bisa menimba air dari sumur itu termasuk salah satu keinginan umum bocah di desa itu.

Dengan SIM tersebut, dia berarti sudah boleh mengambil air dari sumur. Sama seperti yang dilakukan oleh orang dewasa yang lainnya. Suatu aktifitas yang tadinya hanya bisa dilihatnya saja karena belum cukup umur.

Kalau keluarganya beralih ke PAM dan mematikan sumur, pupus sudah impian Joni punya badan kotak-kotak. Dia tidak bisa nge-gym lagi. Sia-sia juga Surat Ijin Menimba air yang baru saja diperolehnya. Energi Joni saat itu sedang top-topnya.

Beruntung keluarga Joni termasuk konsisten. Konsisten menimba air di sumur. Di saat keluarga lain tinggal buka kran air ngucur, keluarga Joni meski pakai otot dulu untuk mendapatkan air. Susah dan repot memang.

Karena banyak orang yang memasang PAM, lama-lama rasanya keluarga Joni menjadi udik, tidak masa kini, jadul, kolot dan lain-lain. Tapi mereka biasa saja dengan label-label itu.

Problem Perubahan

Zaman terus berputar, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Entah kenapa aliran air PAM tidak ikut berputar. PAM yang dulu mengucur deras kini byar pet.

Kondisi ini membuat penduduk galau jilid dua. Air yang dulu gratis dan mudah di dapat kini sudah bayar belum tentu lancar mengalirnya.

Warga akhirnya hibrid. Mereka kembali membuat sumur. Sumur era android ini adalah sumur bor dengan pompa air. PAM masih tetap mereka pasang.

Di bidang ketahanan energi, khususnya bab air, penduduk desa yang dulu berdikari sekarang jadi tergantung. Tergantung kepada PAM dan stroom. Di sini, apa yang dinamakan kemajuan itu ternyata merepotkan.

Namun meski demikian, masih beruntung, gaya hidup penduduk desa itu dengan air PAM dan pompa air masih belum digantikan oleh gaya hidup air galon seperti di kota Simbah. Di kota Simbah, PAM dan sumur ada, namun air galon yang dikonsumsi.

Begitulah ker, zaman itu berubah. Dan pemilik modal itu ‘bisa’ mengubah cara hidup Peno. Kebutuhan itu bisa diciptakan. Tadinya Peno tidak butuh, lama-lama bisa dibuat butuh hingga akhirnya menjadi ketergantungan.

Tidak hanya urusan sumur saja lho, urusan kasurpun Peno juga bisa ikut ‘kemauan’ pemilik modal.

Wah seru nih mbah kalau ngomongin kasur? Iya.

Ngomong-ngomong, sampai sekarang Joni masih senang menimba air kalau pulang ke kampung. Bagi dia, nimba air itu tetap something gitu. Selain bisa membangkitkan romantikanya, menimba air juga bisa membuat badannya fit.

Salam fit.

– © DPS

Jakarta, 28/02/2013 06:03

Diskongrafi dan Pornografi

0

Ⓜ️ melekberita.com – Di pasar modern sebesar ini, Minggu (24/2/2013), melihat perempuan (nenek-nenek, ibu-ibu, tante-tante, mbak-mbak) belanja itu sungguh menggelitik. Sikap dan aktivitas mereka sangat menarik. Tangan cekatan berebut diskonan.

Dari hasil hitung cepat LKM (Lingkaran Kajian Melekberita), pengunjung pasar modern (saren) ini jumlahnya lebih dari 1.000 orang per hari.

LKM adalah lingkaran kajian dari melekberita yang kebenarannya tidak harus Anda percaya.

Dari hasil pengamatan LKM, setiap pengunjung perempuan ternyata hampir selalu didampingi oleh satu laki-laki. Bahkan terkadang dalam satu rombongan yang terdiri dari dua, tiga, empat perempuan, pendamping laki-lakinya tetap satu.

Sehingga jika dihitung rata-rata, komposisi pengunjung perempuan dan laki-laki, kurang lebih 70% vs 30%.

Dari profil pengunjung di atas, masih menurut LKM, yang berbelanja 97% adalah pengunjung perempuan.

Terus pengunjung laki-lakinya ngapain?

Pengunjung laki-laki hanya mendorong troli atau membawa keranjang belanja. Sebagian melenggang dan ikut belanja. Tapi jumlah mereka sangat sedikit.

Dari pemandangan ini, seperti berlaku dalil : “ini bagian gue, loe temenin saja dan bayarin”.

Di tengah lamunan, tiba-tiba pandangan saya tertuju pada stan-stan yang memasang diskon besar. Menurut dua alat bukti yang cukup, stan-stan tersebut selalu dikerumuni oleh kaum hawa.

Sekali lagi, terus kaum adamnya ngapain dong?

Kaum adam hanya melihat saja. Beberapa meter dari TKP diskonan. Meskipun kadang ada yang ikut nimbrung juga.

Diskongrafi

Di stan-stan yang berdiskon itu, perilaku para pembeli seru sekali. Mereka nampak bergairah dan bernafsu sekali menemukan barang yang dicari. Barang yang ada di bawah diobok-obok dan ditarik ke atas. Barang yang di atas dipindah kesamping dan seterusnya.

Saking semangatnya, sesama pembeli terkadang sampai ‘duel’ memperebutkan barang. Tangan mereka beradu cepat mengambil barang diskonan.

Tidak hanya itu, di stan kelengkeng misalnya, meski terdapat tulisan dilarang makan, larangan tersebut kurang dianggap. Larangan itu seperti hanya sebatas tulisan yang tanpa arti. Beberapa pembeli masih ngunyah kelengkeng sambil tangannya bergerilya memasukkan kelengkeng ke dalam plastik.

Entah butuh atau mupeng, mereka (kaum hawa) itu membeli aneka barang diskon tersebut.

Karena serbuannya semrawut, acak, dan masif dalam sekejap barang diskonan ludes. Dagangan laris manis bak kacang godhok di pertunjukan wayang yang dalangnya Ki Manteb.

Apa itu Diskongrafi?

Menurut saya:

Diskongrafi adalah gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang memuat potongan harga berlebihan atau eksploitasi barang dan jasa yang mengganggu neraca keuangan seseorang.

Kesimpulan

Diskon adalah daya pikat belanja yang dahsyat, spektakuler, fantastis, bombastis dan cetar membahana. Dalam sekejap, diskon bisa membuat pembeli (baik perempuan dan laki-laki) pengen belanja.

Hasil otak-atik gathuk saya, kaum hawa melihat diskon itu mudah terangsang. Mereka seperti kaum adam saat melihat film dewasa. Gairah dan nafsu belanjanya spontan membuncah, sulit untuk ditahan.

Jika sudah demikian maka siap-siap uang belanja membengkak. Jika uang tak jadi soal, tentu hal ini bukan masalah. Tapi jika uang masih menjadi soal, tentu hal ini jadi masalah pelik tersendiri.

Meski belanja itu hukumnya boleh, namun ketika hal itu sudah mengganggu keuangan seseorang tentu menjadi tidak baik. Misalnya, gara-gara diskon, uang untuk makan sehari-hari dipakai untuk membeli baju. Runyam kan?

Pornografi didemo. Bagaimana jika diskongrafi juga didemo?

Salam diskongrafi.

©️ DPSasongko

Jakarta, 28/05/2022 – 18:04

*Artikel edisi revisi, terbit pertama 25/02/2013 – 03:48

Molimo dan Tombo Ati

0

melekberita.com – Menurut alkisah, sepeninggal Prabu Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada, keruntuhan Majapahit tinggal menunggu waktu. Perang saudara hingga kemerosotan moral terjadi di mana-mana. Judi, mabuk-mabukan dan main perempuan menjadi ‘aktivitas’ sehari-hari kaum bangsawan dan rakyat kebanyakan.

Prabu Kertawijaya yang bergelar Brawijaya I gundah dengan situasi yang ada. Raja Majapahit tersebut risau memikirkan budi pekerti warganya hancur dan tanpa arah.

Prabu Kertawijaya lantas meminta bantuan Raden Rahmat (Sunan Ampel) untuk memperbaiki akhlak masyarakat yang telah rusak.

Sunan Ampel berhasil memperbaiki akhlak masyarakat lewat ajaran moh limo yang kemudian hari juga dikenal dengan nama molimo.

Molimo ini penyebab rusaknya akhlak yang mengakibatkan rakyat hidup sengsara dan menderita.

Dalam perkembangan selanjutnya, orang Jawa sering menyebut molimo ini sebagai penyakit masyarakat. Molimo adalah lima larangan yang harus dihindari jika ingin hidup bahagia.

Molimo tersebut, yaitu :

  1. Moh main (tidak judi).
  2. Moh ngombe (tidak mabuk).
  3. Moh maling (tidak mencuri).
  4. Moh madat (tidak narkoba).
  5. Moh madon (tidak zina).

Ping Limo

Di lain zaman, Sunan Bonang mengajarkan jalan mencapai kebahagian dengan mengerjakan ping limo. Ping limo ini adalah tombo ati (obat hati) supaya hati selalu tenang dan dekat kepada-Nya.

Siapa yang bisa melaksanakan ping limo ini, insya Allah hidupnya akan dicukupi. Karena hatinya telah merasa tentram dan damai.

Ping limo itu adalah :

  1. Kaping pisan moco Quran lan maknane (Yang pertama baca Quran dan maknanya).
  2. Kaping pindho sholat wengi lakonono (Yang kedua sholat malam kerjakanlah).
  3. Kaping telu wong kang sholeh kumpulono (Yang ketiga berkumpullah dengan orang soleh).
  4. Kaping papat weteng iro ingkang luwe (Yang keempat perbanyaklah berpuasa).
  5. Kaping limo dzikir wengi ingkang suwe (Yang kelima zikir malam perpanjanglah).

Hati itu mudah dibolak-balik. Tekanan hidup sehari-hari bisa membuat manusia menderita, sengsara hingga putus asa.

Bila hati kian bersih
Pikiran pun akan jernih
Semangat hidup nan gigih
Prestasi mudah diraih
Namun bila hati keruh
Batin selalu gemuruh
Seakan dikejar musuh
Dengan Allah kian jauh

Jagalah hati jangan kau kotori
Jagalah hati lentera hidup ini
Jagalah hati jangan kau nodai
Jagalah hati cahaya Illahi

Saya percaya, Anda sudah tahu dua bait di atas.

Begitulah gaess, ajaran luhur warisan nenek moyang. Jika di Barat ada sepuluh perintah Tuhan maka di Timur (di sini) saya pikir juga ada sepuluh perintah agar hidup bahagia.

Bagaimana?

Jakarta, 01/06/2022 18:11

DPSasongko

#melecerita
#melekberita

*Artikel ini edisi revisi, artikel terbit pertama 22/02/2013 09:46

Mbak CDne Ketok

0

melekberita.com – Tahun 80-90 an, di ruang publik, kalau melihat celana dalam (CD) cewek kelihatan, muncul aksi untuk mengingatkan cewek tersebut. Mbak CDne ketok (CDnya kelihatan). Begitulah kira-kira aksi standar itu.

Biasanya reaksi cewek tersebut adalah malu dan langsung membetulkan pakaiannya yang menyebabkan celana dalamnya kelihatan.

Sekarang, di ruang publik, kalau ada cewek CDnya kelihatan lalu diingatkan : mbak CDnya kelihatan. Jawabnya: ini modelnya memang begini mas (dalam hati: norak banget ini cowok).

Kalau sudah begini, yang mengingatkan bisa mak pleng, malu.

Itulah zaman gaess. Dia berubah. Termasuk cara pandang terhadap sesuatu. Yang dalam hal ini bab celana dalam.

Baca juga: Molimo dan Tombo Ati

Dulu, dalam kasus celana dalam di atas, yang melihat dan dilihat sama-sama merasa ada yang tidak enak. Yang melihat merasa anu gitu karena melihat sesuatu yang tidak wajar. Sedangkan yang dilihat juga merasa sesuatu gitu karena apa yang terlihat tersebut tidak lazim, bukan karena disengaja.

Kini, saya merasa ada cara pandang yang berubah terhadap CD. Ada semacam dalil: dilihat boleh dipegang jangan. Jangan salahkan yang dilihat tapi salahkan matamu. Lebih ekstrem lagi, seperti ada tantangan: mau lebih wani piro?

Setidaknya ada tiga aliran terkait melihat CD ini. Pertama, mereka yang menganut prinsip: pandangan pertama itu rezeki selanjutnya zina. Kedua, mereka yang malu-malu tapi lirak-lirik. Tipe ini berprinsip tidak dilihat sayang, dilihat kok zina. Yang terakhir, mereka yang terang benderang melihat terus  dan gak berkedip.

Ya semua itu hanyalah opini saya yang mesti diuji kesahihannya. Ngemeng-ngemeng, Anda termasuk aliran yang mana gaess. Ngaku!

Salam ngaku.

(©DPS)

Jakarta, 20/02/2013 03:51

#melekcerita
#melekberita

Persepsi: AC Milan, Jakarta, dan Saya

0

melekberita.com – Sabtu, 9/2/2013, Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Milan Glorie melawan Indonesian All Star. Skor berakhir 2-4 untuk Milan Glorie.

Ribuan Milanisti Indonesia menonton pertandingan tersebut di SUGBK. SUGBK menyala merah hitam. Senayan Siro? Senayan seperti San Siro.

Selama pertandingan, aksi kedua tim sangat atraktif. Kedua tim saling menyerang secara terbuka. Mereka nampak tanpa beban.

Dan yang paling penting, pertandingan berlangsung dengan damai. Suasana meriah. Nyanyian Ale Ale Milan menggema sepanjang pertandingan. Layaknya soundtrack sebuah drama dua babak.

Saya heran. Kok bisa, ribuan orang Indonesia di stadion ini mencintai AC Milan. Sebuah klub sepakbola yang berada ribuan kilometer dari sini. Terpisah benua dan samudera.

Jawabannya adalah karena perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.

Dengan teknologi, saya bisa menyaksikan aksi heroik dan spektakuler pemain-pemain AC Milan sebelumnya. Bagaimana Maldini menghadang lawan, Shevchenko menjebol gawang, off set Inzaghi yang berujung gol. Sehingga apa yang terjadi di San Siro, Milan, Italia dapat saya saksikan secara langsung. Detik itu juga.

Otak menangkap fenomena itu. Kemudian otak menyimpannya menjadi informasi. Dengan kekuatan media, informasi bisa berubah menjadi persepsi. Di sinilah fakta di lapangan dan fakta di otak bisa berbeda.

Dengan persepsi itu muncullah ikatan batin antara saya dan AC Milan. Saya bisa sekejap seolah-olah menjadi penduduk kota Milan cabang Indonesia. Saya senang kalau AC Milan kalah dan juga sebaliknya. Ikatan emosional saya ini akan tumbuh dan berkembang seiring usaha saya untuk mengetahui lebih dalam tentang AC Milan.

Hal ini berlaku juga untuk Juventus, Manchester United, Real Madrid, Pak SBY, Pak JKW, dan juga Kota Jakarta.

Di stadion GBK ini, saya tinggal memutar kembali memori saya itu.

Baca juga: Kemenangan Digital atas Analog

Jakarta Ibu Kota Negara

Pada tahun 80-90 an, saat era pembangunan, orang desa ingin sekali datang dan melihat Kota Jakarta. Kok tahu? Ya tahu, wong saya ada di sana.

Waktu itu, di persepsi saya, Jakarta adalah kota yang maju. Kota yang modern. Banyak gedung bertingkat yang megah. Jalanannya ramai, kotanya bersih, penduduknya disiplin, tidak pernah banjir dan aneka label baik lainnya.

Kok bisa muncul persepsi itu. Bisa. Saya sering melihat Jakarta di TVRI. Satu-satunya televisi pada saat itu. TVRI sering menayangkan suasana bundaran HI, Sudirman-Thamrin, Monas-Istana. Suasana sebuah kemajuan ibu kota negara.

Daerah yang padat, kumuh, dan banjir, jarang bahkan nyaris tidak pernah saya lihat. Kalau pun ditayangkan, seinget saya tetap dalam persepsi yang baik.

Dari situlah, saya lantas punya ikatan emosional kepada negara. Kebanggaan kepada negara. Negara punya kota yang maju dan modern. Negara berhasil membangun. Jakarta menjadi simbol kemakmuran. Tidak seperti hidup saya di desa yang penuh keterbatasan.

Rasa seperti ini juga muncul saat saya melihat film-film Amerika. Film yang heroik, canggih, dan imajinatif.

Tsunami Informasi

Setelah revolusi industri muncullah zaman post industri. Zaman yang juga dinamakan zaman post modern. Zaman informasi.

Facebook, twitter, instragram, dan media sosial adalah karya monumental di zaman informasi.

Di zaman informasi terjadilah banjir bahkan tsunami informasi. Berlian dan sampah campur menjadi satu. Sulit untuk dibedakan. Setiap individu bisa dengan mudah mengakses berlian dan sampah tersebut.

Di era seperti ini, saya bisa tenggelam dalam lautan teks, gambar dan video jika tanpa filter.

Salam filter.

Jakarta, 28/05/2022 – 11:52

DPSasongko

#melekcerita

*artikel ini edisi revisi, terbit pertama 13/02/2013 – 03:10

Stiker, Sastra, dan Pasar

0

meleberita.com – Jumat, 11/1/2013, di perempatan Slipi, Jakarta, saya melihat stiker di sebuah sepeda motor. Tulisannya menggelikan, menghibur dan full of creativity.

Tulisan di stiker tersebut, yaitu :

  1. Bila pengemudi ini ugal-ugalan, silahkan laporkan sama istrinya atau selingkuhannya, hubungi 08XXXXXXXXXX.
  2. Antar kota, antar propinsi, antar sampai rumah.
  3. Kutunggu kau di lantai 2.

Jika melihat dari penampilan dan tongkrongannya, pemilik motor tersebut adalah kelompok marginal. Orang yang secara piramida ekonomi ada di bagian bawah.

Kelompok marginal kerap dilabeli sebagai biang keonaran, korak (kotoran rakyat), anti kemapanan dan aneka label miring lainnya oleh masyarakat.

Ketiga tulisan di atas membuat saya senyum takjub saat membacanya.

Pesan apa yang ingin disampaikan oleh pemiliknya? Seperti apa kepribadian pengemudi itu? Apakah dia tipe orang yang mendua dalam soal cinta? Apakah ia sebagai kurir? Bagaimana bentuk kantornya: tingkat dua, tiga atau tiga puluh?

Itulah beberapa pertanyaan yang spontan melintas di dalam kepala saya.

Satu stiker bisa merangsang banyak pertanyaan. Luar biasa.

Bagaimana menurutmu?

Kehidupan Sastra

Saya percaya bahwa sastra itu hidup di semua lapisan golongan. Ia tidak hanya hidup di golongan orang kaya, pandai, terdidik dan sejenisnya. Sastra juga hidup di arus bawah. Sastra hidup di akar rumput, kelompok marjinal dan sejenisnya.

Sastra adalah hak semua orang. Bukan milik kaum elit saja.

Sastra menurut wikipedia (http://id.wikipedia.org/wiki/Sastra) : Sastra (Sanskerta: शास्त्र, shastra) merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta śāstra, yang berarti “teks yang mengandung instruksi” atau “pedoman”, dari kata dasar śās- yang berarti “instruksi” atau “ajaran”. Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada “kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu.

Sastra menurut KBBI (http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php) : sas·tra n 1 bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yg dipakai dl kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari); 2 kesusastraan; 3 kitab suci Hindu; kitab ilmu pengetahuan; 4 kitab; pustaka; primbon (berisi ramalan, hitungan, dsb); 5 tulisan; huruf.

Coba Anda perhatikan pesan-pesan pada bak truk, metromini, angkot, odong-odong, gerobak dan aneka wahana yang dikendalikan oleh kaum bawah. Karya mereka liar, nakal, menghibur, unik dan bisa dinikmati.

Karya mereka seperti buku. Pesannya mudah dibaca. Ada energi, ideologi, pikiran, budaya, dogma atau entah apa namanya yang hidup pada karya-karya itu.

Pemilik modal tahu dan menangkap peluang ini. Mereka membuat produk dari apa yang hidup itu. Salah satunya, stiker di sepeda motor itu.

Begitulah bisnis itu bekerja. Sejatinya ia sederhana. Ada permintaan, ada persediaan. Kemudian mereka bertemu di dalam pasar.

Pasar

Bicara mengenai pasar, ada dua kelompok besar pemikiran.

Yang pertama adalah kelompok yang percaya dengan mekanisme pasar. Pasar akan mencapai keseimbangannya sendiri. Ada tangan tak terlihat yang mengaturnya. Pemerintah jangan turut campur urusan pasar.

Yang kedua adalah kelompok yang percaya bahwa mekanisme pasar itu tidak ada. Pasar tidak akan seimbang dengan sendirinya. Oleh karena itu diperlukan tangan yang terlihat untuk mengaturnya. Pemerintah harus turut campur mengurus pasar.

Dari dua pemikiran itu, kemudian mahzab ekonomi berkembang sedemikian rupa. Muncul kelompok ketiga. Yaitu kelompok 50:50. Kelompok ini percaya bahwa pemerintah harus ikut mengurus pasar. Tapi jangan 100%. Cukup 50% saja.

Anda ikut kelompok yang mana?

Kembali ke laptop.

Begitulah hebatnya sebuah stiker. Ia ternyata bisa merangsang ide hingga saya nglantur membahas sastra dan pasar begini.

Sebelum Anda bingung lebih dalam, saya akhiri sampai di sini saja.

Salam di sini saja.

Pondok Labu, Jakarta, 29/05/2022 14:36

*artikel ini edisi revisi, artikel pertama terbit 14/01/2013 3:42

Semalam Peno Tahun Baru di Mana?

0

melekberita.com – Adakah acara atau kegiatan yang bisa menggerakkan manusia di dunia ini secara serentak selain perayaan tahun baru? Olimpiade atau piala dunia sekalipun, kehebohannya belum menandingi acara perayaan pergantian tahun itu.

Tahukah anda, pada perayaan tahun baru, terjadi fenomena perpindahan uang dari kantong ke kantong. Dari kantong tamu ke kantong kasir hotel, dari kantong pegawai ke kantong penjual kembang api, terompet, kopi susu, nasi goreng, bakso, siomay, mie goreng, dan lain sebagainya.

Berapakah jumlah uang yang berpindah itu? Sepuluh juta, seratus juta, seribu juta (satu milyar)? Adakah yang pernah menghitungnya?

Adakah kegiatan ‘pemerataan’ atau peresapan ekonomi bisa bergerak serentak dalam waktu singkat seperti kemarin, Senin (31/12/2012). Di mana mereka yang makan nasi aking, singkong, nasi, burger, hingga steak bisa tumplek blek menjadi satu. Tidak ada perbedaan. Semua menikmati suasana pergantian malam.

Manusia mendadak sama derajadnya. Yang di pinggir jalan, yang kehujanan, yang di hotel bintang tujuh hingga hotel pucuk gunung, semua punya tujuan yang sama, yaitu: merayakan tahun baru. Sebuah semangat masal yang luar biasa.

Asiknya, tidak hanya hedonisme belaka. Pada perayaan tahun baru tempat ibadah juga ikut ramai. Di sana ada PKL (penjual bakso, siomay, nasi goreng dan lainnya) yang dapat ‘resapan’ uang dari jamaah.

Semesta mencari keseimbangannya sendiri. Antara dunia dan akhirat. Tidak tahu ini hukum apa. Apakah sudah sunatullah?

Baca juga: Logika Kang Paino dan Nalar Kang Ngatno

Kembang Api

Berapa biji/ton kembang api yang dibakar pada perayaan malam pergantian tahun baru di Jakarta. Ada yang tahu? Main salah-salahan saja yuk. Jika jumlah kembang api yang dibakar di Jakarta itu ada 100 K maka 100K x Rp. 50K = Rp. 5000 K2 (Rp. 5M). Bagaimana dengan Makassar, Surabaya, Medan, Sydney, London, New York, Dubai dan lainnya.

Dari mana sih kembang api itu?

Kembang api ditemukan di Cina sebelum abad 13. Pada waktu itu juru masak istana mencampur belerang, arang dan ‘garam hitam’ untuk bumbu masak. Gak tahunya bisa meledak dan menghasilkan cahaya yang apik.

Saat itu, orang Cina percaya menyalakan kembang api bisa mengusir roh jahat. Apakah kemarin, kembang api dinyalakan juga untuk mengusir roh jahat?

Abad ke-13, Marcopolo membawa bubuk mesiu kembang api dari Cina ke Eropa. Teknologi kembang api lalu berkembang pesat dan jadi populer seperti sekarang.

Akhirnya, kalau Peno gak bisa membuat acara yang sebegitunya, lebih besar, masif, ramai, menggerakkan ekonomi dan penuh hikmah. Gak zaman mencela, olok-olokan, sinis menyinisi dan berpolemik bab perayaan tahun baru.

Sekian, Selamat Tahun Baru 2013, semalam Peno merayakan tahun baru di mana?

(©DPS)

Neraca Jam Kerja

0

melekberita.com – Setelah revolusi industri, jam kerja dipercaya menjadi daya saing sebuah bangsa. Semakin banyak jam kerja, semakin berpeluang bangsa itu menjadi unggul atau maju.

Kenapa?

Karena di balik TV, HP, laptop, sepeda motor, mobil, kereta api, kapal, pesawat terbang, meja, kursi, baju, sepatu, bahkan kasur tempat Anda tidur sehari-hari itu ada jam kerja.

Menurut KBBI, jam kerja adalah waktu yang dijadwalkan bagi pegawai dan sebagainya untuk bekerja.

Sedangkan menurut Wikipedia, jam kerja adalah periode waktu di mana seseorang melakukan pekerjaan untuk mendapatkan upah tertentu.

Revolusi industri memungkinkan manusia untuk bekerja setahun penuh. Mereka tidak lagi tergantung pada musim dan waktu. Alat pengatur suhu memungkinkan manusia untuk bisa bekerja di musim dingin dan panas. Sedangkan lampu memungkinkan manusia untuk bisa bekerja di malam hari.

Saat itu, budak dan buruh tani pun mulai beralih untuk bekerja di pabrik. Sehingga jam kerja meningkat secara signifikan.

Baca juga: Ban Bocor, Ujian atau Azab?

Dengan jam kerja ini, berbagai ragam produk berstandar yang low cost dibuat. Produk untuk sandang, pangan, dan papan yang dibutuhkan setiap waktu. Di sinilah, jam kerja itu menjadi kunci kemajuan.

Mungkin Anda sering membaca berita terkait neraca perdagangan atau neraca pembayaran. Tapi pernahkah Anda membaca berita soal neraca jam kerja.

Bagaimana neraca jam kerja sebuah bangsa? Bagaimana kondisi, status, dan cara mengukurnya?

Dalam Presidential Lecture yang diadakan oleh Bank Indonesia, Senin, 13/02/2017, Presiden Habibie menegaskan perlunya neraca jam kerja, disamping neraca perdagangan dan pembayaran negara.

Neraca jam kerja akan menjadi strategi dalam menekan ketergantungan negara terhadap impor

Beliau kemudian mencontohkan negara harus memberi kesempatan kepada generasi penerus untuk mengembangkan inovasi. Tidak ada guna pendidikan tinggi jika negara kurang menciptakan wadah kreasi bagi mereka.

“Jadi profesor pun tidak berarti anda bisa membuat kapal, punya sistem pertanian yang unggul, itu hanya bisa ditempa jikalau yang bersangkutan tidak nganggur, ada kerjaannya, tidak di PHK,” kata Presiden Habibie seperti dikutip bisnis.com.

Jam kerja tidak bisa dilepaskan dengan lapangan kerja. Semakin banyak lapangan kerja, otomatis semakin banyak pula jam kerja. Untuk memperbanyak jam kerja, selain durasinya yang ditambah, tentu lapangan kerjanya yang harus diciptakan.

Jadi semua warga di sebuah bangsa, yang mampu, idealnya mereka harus bekerja. Kerja, kerja, kerja.

Salam kerja.

Jakarta, 26/05/2022

Image from Pixabay

*Artikel ini edisi revisi, dipublish pertama kali 31/12/2012 04:19

Apakah Media Cetak akan Punah?

melekberita.com – Perkembangan teknologi telekomunikasi dan informasi yang sangat pesat mengubah dunia jurnalisme. Internet mengubah cara penyampaian informasi dan format pemberitaan. Internet telah mengubah dunia informasi secara revolusioner.

Internet praktis menghancurkan peranan ruang redaksi sebagai gate keeper informasi. Wartawan kini tak memiliki peranan buat menentukan apa yang perlu diberitakan, apa yang tak perlu.

Dengan teknologi digital, informasi  sangat mudah dan murah untuk diproduksi dan disebarkan. Dampaknya, terjadilah ledakan data dan tsunami informasi.

Pasokan informasi yang membludak tersebut membuat masyarakat kesulitan menyaring berita. Informasi yang dapat dipercaya dan tidak campur menjadi satu. Manusia tenggelam dalam lautan teks, audio dan video.

Sekarang, setiap orang bisa menjadi wartawan sekaligus penerbit lewat blog. Setiap orang bisa menjadi penyiar sekaligus produser lewat YouTube. Lewat Facebook atau  Twitter, setiap orang juga bisa menjadi komentator atau pengamat.

Dulu, sepuluh tahun yang lalu, hal-hal di atas mustahil untuk dilakukan. Mahalnya harga mesin cetak membuat tak setiap orang mampu menjadi penerbit surat kabar. Untuk membangun stasiun radio dan tivi juga dibutuhkan modal yang tidak sedikit.

Berita tentang manusia menggigit anjing dulu hanya bisa dibaca di koran/majalah. Sekarang, artis potong rambut sekalipun, kita bisa langsung mengetahuinya. Teknologi digital telah mengubah semuanya.

Sepuluh tahun yang lalu orang masih mendengarkan musik dengan menyetel kaset.  Sepuluh tahun yang lalu orang masih memotret dengan film. Dan sepuluh tahun yang lalu orang masih membeli tivi tabung. Kini?

Nasib Media Cetak

Lantas bagaimanakah nasib media cetak sekarang dan yang akan datang. Apakah dia akan punah?

Perdebatan tentang masalah ini sudah lama diwacanakan. Ada dua aliran besar. Satu pihak percaya media cetak akan tetap ada. Pihak yang lainnya percaya media cetak akan punah, kalaupun tidak punah akan menyusut drastis.

Pihak yang percaya media cetak akan tetap ada beralasan bahwa kertas adalah peradaban kuno manusia yang sudah teruji oleh waktu. Manusia akan tetap tergantung sama kertas. Buktinya, printer sekarang malah kian beragam. Selain itu, kondisi infrastruktur teknologi informasi di negeri ini juga masih semrawut. Kecepatan akses internet masih putus nyambung.

Pihak lain yang percaya media cetak akan punah/menyusut drastis beralasan bahwa telah ditemukan teknologi pengganti kertas yang memudahkan manusia untuk memproduksi dan mengakses berita. Diciptakannya tablet dua tahun yang lalu adalah buktinya. Betul masih ada keterbatasan tapi teknologi informasi itu berkembang sangat cepat.

Dari dua pendapat di atas, manakah yang benar?  Biarlah waktu yang akan menjawabnya.

Newsweek Warning

Pada tanggal 18 Oktober 2012, Tina Brown mengumumkan bahwa Newsweek akan berhenti menerbitkan edisi cetak. Dengan edisi terakhir tanggal 31 Desember 2012 dan akan bertransisi ke format serba digital.

Newsweek berdiri pada 17 Februari 1933. Majalah ini oplahnya kedua terbesar di Amerika Serikat setelah Time dalam sirkulasi dan pendapatan iklan.

Apa yang terjadi pada Newsweek di atas, jelas bisa juga terjadi pada media cetak manapun. Dan saat era itu datang, rasanya sulit dicegah oleh siapa pun. Bukan menakut-nakuti, kasus Newsweek harus menjadi peringatan bagi pebisnis media cetak. Perubahan zaman meski disikapi dan dicermati dengan baik.

Sekarang, kalau mau buka data, adakah media cetak yang oplahnya terus naik dalam lima tahun terakhir. Kalaupun ada, lebih banyak mana, media cetak yang oplahnya naik atau turun.

Tanyakan juga pada generasi muda. Apakah mereka membaca media cetak? Seberapa sering mereka membaca media cetak? Lebih banyak mana, membaca media cetak atau internet? Jawabannya akan sangat mencengangkan.

Era Digital

“Web sudah menjadi kultur global, setelah jeans dan Coca cola, “ kata Budiono Darsono (CEO, detikcom) di PCplus dalam acara diskusi ‘Trend Media Digital di Era Mobile Data’ di Jakarta (5/12).

Budiono mengungkapkan bisnis media tidak akan mati dengan kehadiran digital media. Tapi hanya akan berubah bentuk dari print media menjadi media digital.

“Bisnis media tidak akan pernah mati. Yang mati hanya bentuk fisiknya saja, yakni dari dalam bentuk print media, berganti menjadi media digital,” kata Budiono Darsono di telsetnews dalam acara yang sama.

Kapan terakhir anda beli koran?

Salam koran.

(©DPS)