Home Blog Page 29

Duit Bicara Manchester City

0

melekberita.com – Lima tahun yang lalu, rasanya tidak ada yang ‘kenal’ Manchester City. Seperti dalam dongeng, dalam sekejap, ujug-ujug The Citizens menjadi raksasa sepakbola yang patut diperhitungkan dalam perburuan gelar juara Liga Inggris. Kok bisa, bagaimana ceritanya?

Apakah City membina pemainnya sejak dini lewat akademi seperti yang dilakukan oleh tetangganya? Tidak.

Setelah dibeli oleh Sheikh Mansour dari Thaksin Shinawatra yang juga Perdana Menteri Thailand periode 2001-2006 seharga 200 juta poundsterling, Manchester City dibanjiri duit.

Beberapa hari setelah pindah kepemilikan, City langsung membeli Robinho dari Real Madrid sebesar 32,5 juta poundsterling. The Citizens ‘rebutan’ sama The Blues. Chelsea hanya mau mengeluarkan uang 28 juta poundsterling. Pembelian Robinho ini memecahkan rekor transfer Liga Inggris, saat itu.

Tidak hanya Robinho, pemain-pemain mahal juga mulai didatangkan ke Etihad Stadium. Ada Tevez, Silva, Nasri, Balotelli hingga Aguero. Tidak ada waktu untuk membina pemain sejak dini.

Kekuatan duit mampu menyulap The Citizens. Duit bicara, prestasi City melesat bak roket.

Di bawah lindungan uang Sang Sheikh, The Citizens berhasil finish posisi kelima di musim 2009-2010. Tahun berikutnya, musim 2010-2011, City finish di posisi ketiga.

Musim 2011-2012 adalah puncak prestasi Manchester City. Di musim ini, Manchester City menjuarai Liga Inggris setelah puasa gelar selama 44 tahun. City terakhir kali juara liga tahun 1968.

Musim ini juga musim yang sangat dramatis bagi The Citizens. Lewat kompetisi yang ketat dengan Manchester United, Manchester City berhasil menjadi juara dengan perbedaan selisih gol yang lebih baik. Total poin mereka sama 89.

Masih di musim yang sama, Manchester United, pemegang rekor juara liga sebanyak 19 kali juga bisa dikalahkan Manchester City dengan skor telak 1-6. Old Trafford menjadi saksi bisu kisah ini.

Senada dan seirama dengan semua itu, brand Manchester City mulai mengglobal. Di desaku pucuk gunung sana, lazim melihat orang memakai kaos The Citizen yang jelas mustahil kita lihat lima tahun yang lalu.

Bendera Manchester City berkibar di mana-mana. Duit yang dikeluarkan juga mulai masuk kembali ke saku Sang Sheikh lewat penonton, merchandise, sponsor dan lain-lain. Apakah sudah BEP, entahlah.

Mengambil Pelajaran dari Manchester City

Itulah ker, manusia itu hanya tahu kemenangan. Juara itu ya juara satu. Tidak ada juara dua atau tiga, apalagi harapan.

Untuk mudah dicintai brandmu harus menjadi juara. Jika sudah menjadi juara maka mau ngomong apa saja enak dan biasanya juga laku.

Pelajaran berikutnya yang bisa kita petik adalah untuk menjadi juara butuh biaya. Kata orang Jawa Timur, Jer Basuki Mawa Beya, untuk mencapai keberhasilan diperlukan biaya. Untuk mendapatkan uang yang banyak harus dipancing dengan uang yang banyak juga. Pernah dengar ayat high risk high return kan?

Langkah inilah yang juga pernah dilakukan The Blues, Chelsea, saat Roman Abramovich membelinya pada tahun 2003. Uang Roman juga mampu mengubah Chelsea dari nothing menjadi something.

Uang memang bukan segalanya ker tapi dia bisa menjadi jalan singkat untuk memperoleh segalanya.

Mustahil rasanya tanpa gelontoran uang em-em an, warung kaki lima bisa mengalahkan restoran besar. Atau toko kelontong bisa mengalahkan supermarket.

Namun ada anomali. Dengan perbuatan baik, sesuatu yang mustahil itu bisa terjadi. Kekuatan uang bisa dikalahkan oleh kekuatan perbuatan baik. Misalnya saja anak tukang becak bisa  berprestasi daripada anak pemilik pabrik.

Ah tapi hari gini, ngomongin ide perbuatan baik di tengah tsunami ide tentang uang, masih relevan?

Salam uang.

(©DPS)

*Photo by Jonny Gios on Unsplash

Faktor Perbandingan Kehidupan

0

katasimbah.com – Ada orang yang hobi membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Macam-macam niat dan tujuannya. Ada yang sekedar untuk kaca benggala atau instropeksi diri. Ada juga yang buat adu gengsi.

Yang biasa dibandingkan, fisik. Misal : ketampanan atau kecantikan. Meski njlimet dan relatif tapi hal ini bisa dinilai. Bahkan ada kontesnya. Kulit putih, rambut lurus, kaki jenjang, dada subur, tubuh langsing barangkali adalah dambaan perempuan pun lelaki.

Hal berikutnya yang biasa diperbandingkan adalah kecerdasan. Pernah dengar unen-unen, beauty is nothing without brains. Keindahan tidak jadi apa-apa tanpa kecerdasan. Dibandingkan dengan kecantikan, kecerdasan lebih mudah diukur.

Selain dua hal di atas, ada satu hal lagi yang sering juga dijadikan bahan untuk perbandingan, yaitu : harta atau kekayaan. Rumahnya tipe berapa, mobilnya apa, hpnya merk apa, lsp. Dibanding dua pendahulunya, kekayaan paling gampang diukur.

Dari tiga faktor itu ada satu faktor penting yang menentukan, yaitu kebahagiaan. Karena tidak bisa diukur, kebahagian dapat diklaim oleh siapa saja.

Yang cantik, cerdas dan kaya belum tentu bahagia. Pun sebaliknya, yang jelek, bodoh dan miskin tidak selalu menderita. Orang kaya sering kasihan kepada orang miskin. Padahal orang miskin juga sering kasihan kepada orang kaya. Di sinilah lahir ayat, “Kehidupan manusia itu sawang-sinawang.”

“Boleh jadi Tuhan, Allah SWT memang tidak menitipkan kecantikan, kecerdasan dan kekayaan kepada setiap manusia. Tapi Dia menciptakan kebahagiaan pada setiap manusia,” tutur Katasimbah.

Ngomong-ngomong, jika kita libatkan Tuhan, Allah SWT dalam hidup maka ada satu faktor maha penting yang harus diikutkan, yaitu: iman.

Kecantikan, kecerdasan, kekayaan dan kebahagiaan ada dan dibuktikan di dunia. Mereka semua fana. Namun tidak demikian dengan iman. Iman pembuktiannya di ba’da dunia.

Di hadapan orang, derajad manusia dinilai dari yang kasat mata. Yang bisa diukur dengan mudah seperti kecantikan, kecerdasan dan kekayaan. Allah SWT meninggikan beberapa derajad manusia yang beriman dan berilmu. DihadapanNya, yang membedakan derajad manusia adalah ketakwaannya.

Meski demikian, kebodohan dan kemiskinan itu juga bukan suatu anjuran ker. Sebab ada ayat yang mengatakan kebodohan itu dekat dengan kemiskinan dan kemiskinan itu dekat dengan kekufuran.

Jadi, dalam hidup ini, ada yang bisa dinilai dengan kasat mata seperti kecantikan, kecerdasan dan kekayaan. Namun, ada juga yang tidak bisa dinilai dengan kasat mata, yaitu: kebahagiaan dan keimanan.

Tidak ada dikotomi from part of them, idealnya semua harus diusahakan oleh manusia itu. Tidak hanya diusahakan, selesai itu, semua juga harus ditawakalkan.

Seperti neraca, keduanya harus seimbang. Usaha terus tanpa tawakal akan membawamu ke alam kesombongan atau pengingkaran. Pun sebaliknya tawakal saja tanpa ada usaha keras juga adalah kemalasan.

Itulah tikungan-tikungan kehidupan ker. Ada katup-katup misteri atau rahasia yang sulit peno ungkap semua. Apakah peno hobi juga membandingkan kehidupanmu ker?

Pesan saja, jika kecantikan, kecerdasan, kekayaan dan kebahagiaan tidak bisa peno miliki di dunia ini. Jangan sampai peno juga tidak memiliki keimanan. Sepakat?

(@DPSasongko)

Sinergi Positif

0

katasimbah.com Satu ditambah satu sama dengan dua. Dua ditambah dua sama dengan empat. Begitulah bunyi lagu satu ditambah satu yang sangat akrab di telinga anak-anak.

Sejak kecil, kita sudah dikenalkan berhitung meski belum mengerti angka sekalipun. Seperti dalam lagu itu, sedini mungkin kita diajarkan konsep penjumlahan, 1+1=2.

Setelah remaja atau ABG, kita mulai mengenal berbagai macam bilangan. Tidak hanya bilangan desimal, kita juga mulai belajar tentang bilangan biner, oktal dan heksadesimal.

Seiring dengan proses pembelajaran ini, pengetahuan kita pun bertambah. Kita mulai tahu dalam bilangan biner ternyata 1+1=10 tidak 2.

Waktu terus berganti, era pun berubah. Kita semakin menua, semakin banyak makan asam garam kehidupan. Pengalaman hidup kita pun semakin kaya.

Jika dulu kita hanya tahu 1+1=2 dan 1+1=10, kini kita juga harus tahu bahwa 1+1<>2 atau 1+1<>10 saja tapi 1+1=3, 1+1=30, 1+1=3 juta, 1+1=~. Inilah yang dinamakan sinergi positif.

Sinergi positif adalah persamaan dalam matematika kehidupan. Persamaannya : x+y=0≤XY≤~. Sinergi positif bukan persamaan matematika umum. Persamaan ini tidak ada pada pelajaran matematika.

Sinergi positif hasilnya selalu atau pasti positif. Hasilnya >0 sampai ~ (tak terhingga). Misalnya : peno + ojob = sakinah mawadah warahmah. Contoh lain : peno + partner = nilai tambah, manfaat, produktif, hebat, untung 100 ribu, 1 juta, 1 M, 1 T, lsp.

Ada kisah yang cukup apik tentang sinergi positif ker. Kisah ini bisa dijadikan pelajaran untuk kita semua. Kisah singkatnya sebagai berikut : Dua pemuda saling mengikat janji. Diawal pernikahannya mereka adalah nothing alias bukan siapa-siapa dan tidak punya apa-apa.

Setelah menikah, mereka berdua tinggal di rumah kontrakan di Jerman. Jauh dari sanak saudara mereka mulai membina keluarga. Seiring berjalannya waktu, mereka akhirnya bisa membeli rumah kecil hingga rumah besar.

Sang suami yang diawal karirnya hanya karyawan biasa, bisa menjadi direktur teknologi di perusahaan pesawat terbang di Jerman. Sebuah prestasi yang sangat gemilang. Dialah satu-satunya orang Asia yang berhasil menduduki jabatan nomor dua di perusahaan pesawat terbang di Jerman.

Pulang ke tanah air, beliau dipercaya mendirikan industri strategis. Dari karyawan 20 orang, industri strategis dibangunnya hingga memiliki 48 ribu karyawan dengan turn over US$ 10 billion. Wow.

Benua Maritim yang konon bangsa kuli dan kulinya bangsa-bangsa bangkit menjadi Macan Asia. Negara yang membuat peniti saja tidak bisa, tiba-tiba bisa membuat pesawat terbang, kereta api, telepon, kapal, nuklir, senapan, roket lsp.

Ker, pada suatu era, beliau ini juga pernah menjadi mimpi anak Indonesia. Banyak anak kecil yang bercita-cita ingin menjadi seperti beliau. Nasib akhirnya membawa beliau menjadi RI 1.

Dalam berbagai kesempatan, beliau sering membagi resep kesuksesannya. Semua itu terjadi karena ada sinergi positif antara beliau dan almarhum istrinya. “Rahasia untuk sinergi positif hanya satu, yaitu cinta,” katanya.

Menurut beliau ada tiga 3 grup cinta, yaitu :

Grup pertama, cinta kepada sesama manusia. Ini berarti : cinta kepada orang tua, kakek, nenek, cucu, anak, masyarakat, rakyat, bangsa. Termasuk cinta kepada yang tidak cinta kepadamu.

Grup kedua, cinta pada karya-karya sesama manusia. Apakah itu karya budaya, filsafat, pemikirannya, atau penghayatan dari agamanya. Kenapa? Karena kita sudah mencintai sesama manusia (grup pertama).

Grup ketiga, cinta pada pekerjaannya. Kalau melaksanakan tugas selesaikan secara profesional, tuntas dan obyektif sesuai dengan harapan yang memberi tugas. Ada orang yang bisa menyelesaikan pekerjaannya dalam lima menit dan ada juga yang lima hari.

Begitulah sinergi positif itu bekerja ker. Dia bisa membuat nothing menjadi something. So, sudahkah peno membangun cinta?

(@DPSasongko)

+Bonus

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=dvXOZNz5S5A]

Pengajian, Jaranan dan Koplo Garis Keras

0

Katasimbah.com – Keluarga itu rajin ngaji dan dikenal ‘alim’ di lingkungannya. Agustus, 2013, putra tertua keluarga tersebut dikhitan. Setelah mengadakan pengajian, keesokan harinya hajatan besar digelar di depan rumah sohibul hajat. Dua hari dua malam berturut-turut.

Penulis kaget. Di kota kecil ini, sunatan sudah seperti mantenan. Sama dengan kota metropolitan, Jakarta. Lima belas tahun yang lalu tidak seperti ini. Waktu benar-benar angkuh, bisa mengubah semuanya.

Musik dangdut menghibur tetamu sepanjang acara. Sesekali waktu diselingi campur sari dan pop. Hadirin tampak menikmati. Tidak cuma hidangannya tetapi juga suara ‘menggoyang’ yang keluar dari sounds system yang diracik dengan equalizer canggih.

Di Wlingi/Blitar dan sekitarnya, antara ngaji, hajatan dan dangdut itu tidak bertentangan. Sebuah keluarga yang rajin ngaji dan dikenal ‘alim’ nyetel dangdut saat hajatan (sunatan, mantu) itu lazim.

Masyarakat Adaptif dan Suksesi Kepemimpinan Es Campur

0

Katasimbah.com – Konon, kita adalah masyarakat yang sangat adaptif. Teman memakai BB/Android/iPhone, kita juga ikut memakainya. Kita memakai aneka gadget ter-wah itu alasannya biar gak dilabel gaptek, kuno atau ingin dicap kaya.

Jadi kita memakai atau tidak memakai sesuatu itu ditentukan oleh teman, gengsi, melu-melu. Bukan karena perlu atau butuh.

Di tingkat korporasi ternyata juga serupa. Korporasi berusaha menggunakan sistem ERP (Entreprise Resource Planning) terkini karena korporasi lain sudah memakainya.

Ada semacam kekhawatiran di sini. Korporasi yang tidak memakai sistem terkini akan kalah bersaing dalam bisnis. Akibatnya terjadilah jor-joran dalam penggunaan SAP, BSC, lsp, misalnya.

Toa dan Ramadan

0

Katasimbah.com – Tempat tinggalku 15 meter dari Musholla. Dan aku gak pernah merasa terganggu dengan toa/speaker/corong musholla. #toa

Tuhan memang tdk perlu dipanggil pakai toa.Peno ngaji jg gk perlu sekampung tahu.Tp bkn berarti lantas toa masjid/musholla=mengganggu. #toa

Di sini toa musholla digunakan u/ mcm2. Seperti : ngumumin kalau ada yg meninggal, kerja bakti, kegiatan2 dari RT,RW, Kelurahan, dll. #toa

Kalau Peno dari kecil biasa ndengerin orang ngaji, ndengerin orang ngaji via toa itu rasanya kyk Peno ndengerin lagu yg Peno senengi. #toa

Kalau Peno biasa bangun Subuh dari kecil. Ndengerin sahut2an azan Subuh via toa itu syahdu sekali. Sesuatu gt rasanya. #toa

Kalau Peno biasa sholat jamaah di masjid/musholla dari kecil, ndengerin adzan via toa itu rasanya mak deg gitu. #toa

Rasanya seperti ndengerin bell di sekolah gitu. Entah itu bell istirahat, ganti jam pelajaran pun jam pulang. Jadi.. #toa

Jadi sekali ndengerin rasanya macam-macam, warna warni. Bergantung sikon Peno saat itu. #toa

Dulu aku pernah tinggal depan masjid pas selama 6 tahun. Adzan Subuh yg katanya suaranya keras sekali itu bisa g kedengaran sm sekali. #toa

Kalau Peno nalar memang aneh, ada suara yg katanya ‘keras+berisik’ dari toa tp Peno gak kebangun sama sekali. Aneh tp nyata. #toa

So semua itu bergantung pada niat, motif dan kebiasaanmu ker. Bukan karena ada toa atau tidak. Wassalam. #toa

(@DPSasongko)

Mayday, Sebuah Fenomena

Katasimbah.com – Mayday, hari buruh. Selamat merayakan bagi yang merayakan ker. Btw buruh itu siapa?

Dulu pra kemerdekaan RI, di barat, kaum proletar adalah mereka yang tidak punya modal selain tenaganya. Di sini different. Proletar di sini masih punya modal selain tenaga, misalnya : cangkul, tanah yang seadanya, gerobak, lsp.

Itulah yang sama Bung Karno dinamakan kaum Marhaen itu ker. Asli RI.

Sebelum merdeka, bangsa kita pernah dicap sebagai bangsa kuli dan kulinya bangsa-bangsa.

Beruntunglah saat itu lahir Putra Sang Fajar, Penyambung Lidah Rakyat dari rahim ibu pertiwi. BK membawa RI yang semula dianggap bangsa kuli menjadi bangsa yang diperhitungkan dunia, disegani.

Pembeli Lontong, Membeli karena Kasihan

0

melekberita.com – Seorang nenek renta berjualan lontong isi di depan sebuah minimarket Kemayoran, Jakarta, Minggu (28/4/2013) pukul 9:45 WIB. Ia memakai pakaian tradisional, kebaya dan jarik. Satu pertanyaan yang menggelitik saya, di mana keluarganya?

Dari satu pertanyaan itu lalu muncul pertanyaan lainnya. Bagaimana beliau berproduksi, memasarkan produk, siapa customer segmentnya? Bagaimana kualitas produknya, apakah unggul? Subtitusinya ada enggak? Value added seperti apa? Packaging bagaimana?

Melihat usaha yang dijalankan, ilmu manajemen/ekonomi/bisnis modern akan sulit menalar/menilai usaha si mbah ini?

Hampir 40 tahun berjualan, tidak pernah terlintas untuk berjualan lain. Sampai kini usahanya masih eksis. Apakah ini bukan dedikasi/konsistensi/pengabdian pada pekerjaannya? Piye?

Pertanyaan yang menarik adalah apakah usaha si mbah ini profit ker? Jawabannya, kalau si mbah tidak profit, apa mungkin dia bisa usaha selama hampir 40 tahun?

Padahal setiap hari yang dilakukannya nyaris monoton: bangun pagi, bikin lontong lalu memasarkannya keliling. Keesokannya begitu lagi dan seterusnya. Dulu daya jangkaunya masih luas, sekarang beliau sering ngetem, di depan minimarket misalnya.

Si mbah tidak tahu ilmu pemasaran mutakhir ker, beliau, maaf, seperti ayam, bangun lalu keluar kandang mencari ‘makan’/uang.

Oya, harga satu lontong seribu. Pada satu pembeli aku tanyakan kenapa dia beli lontong si mbah itu, apakah enak? Saya kasihan mas jawabnya singkat.

Jawaban ini menarik ker. Rasanya ilmu bisnis terkini sekalipun luput akan hal ini.

Yang sering Peno dengar kan orang membeli itu karena butuh atau ingin. Ternyata ada profil pembeli baru. Yaitu orang membeli karena kasihan. Aku rasa ini level pembeli paling tinggi untuk saat ini.

Mulai saat ini, profil pembeli seperti itu aku namakan pembeli lontong. Pembeli lontong adalah mereka yang membeli karena kasihan, bukan sekedar karena ingin/butuh.

Bayangkan: kenapa peno beli Alphard? Aku kasihan sama yang membuat mobil ini mas, mereka sudah bekerja siang malam, menjadi ‘sekrup’ industri untuk membuat produk ini.

Pembeli lontong tidak hanya melihat kemanfaatan dari suatu produk ker tapi dia think behind the produk.  Entah prosesnya, entah pembuatnya, entah karena apa. Pokoknya ada faktor x nya.

Kapan-kapan hal ini bisa digali lebih dalem, mungkin.

Kembali ke si mbah, akhirnya manusia boleh mendefinisikan/berteori tentang ilmu ekonomi tercanggih sekalipun, seperti : produksi harus begini, produk harus beginu, distribusi begono, revenue dan cost begene dan lain sebagainya.

Tapi tetap saja ada yang Maha Menentukan, Maha Memberi Rezeki ker. Sekian puluh tahun simbah itu tidak menerapkan ilmu ekonomi termaju, beliau tetap masih bertahan. Dan si mbah seperti itu bertebaran di bumi Indonesia ini. Bukan berarti ilmu ekonomi/manajemen/bisnis itu tidak perlu lho ya.

Apakah peno pernah menjadi pembeli lontong ker? Sekian.

(DPS)

4 Mutiara dan 4 Penghilangnya

0

Katasimbah.com – Ada empat mutiara agar hidup manusia bahagia. Empat mutiara itu adalah akal, agama, malu dan amal soleh.

Dengan akal, manusia berbeda dengan ciptaan Allah yang lain. Manusia adalah ciptaan Allah yang paling sempurna. Akal membuat manusia menjadi khalifah/pemimpin di bumi. Berbekal akal, manusia bisa mengolah sumber daya di bumi menjadi hal yang bermanfaat untuk kehidupan.

Namun tanpa agama, akal tak mengenal Yang Maha Menciptakannya. Agama menuntun akal ke jalan yang lurus.

Malu adalah ‘pakain’ orang beriman. “Bapak kok enggak bisa baca Al-Qur’an?” tanya pak ustad. “Saya malu pak ustad, sudah tua kok baru belajar baca Al-Qur’an” jawabnya.

Panggung Depan dan Belakang

0

melekberita.com – Pada umumnya, setiap rumah itu terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu: panggung depan dan belakang. Ruang tamu adalah manifestasi panggung depan. Dan dapur adalah manifestasi panggung belakang.

Panggung depan boleh dilihat oleh semua orang. Sedangkan panggung belakang, tidak semua orang boleh mengetahui urusan dapur.

Meski tak nampak oleh tamu, dapur adalah bagian yang menggerakkan urusan rumah tangga. Dan bagian dapur ini tak melulu soal masak-memasak tetapi juga soal urusan sumur (kamar mandi) dan juga.

Ruang tamu dan dapur saling berkaitan erat dalam tugas dan fungsinya di dalam sebuah rumah.

Lebih penting mana, ruang tamu atau dapur? Jawabannya adalah tergantung kepada pemilik rumah. Bagian mana yang ingin ditonjolkan oleh pemilik rumah. Panggung depan kah? Atau panggung belakang?

Jika pemilik rumah punya banyak tamu maka bisa jadi ruang tamu lah yang penting. Sebaliknya, jika pemilik rumah suka masak-memasak, dapurlah yang jadi utama.

Baca juga: Ada Makna di balik Tanda

Panggung Depan dan Belakang

Ruang tamu yang menjadi panggung depan, pemilik rumah biasa memajang dan menata barang-barang yang bisa dilihat oleh tamu. Di sanalah etalase sebuah rumah itu ditempatkan. Mulai dari foto keluarga, sertifikat prestasi, piala penghargaan, dan aneka pernik oleh-oleh nasional pun mancanegara.

Selain itu, sarana penunjang lain seperti sofa, kipas angin, AC, TV, jam, lampu juga diperhatikan betul. Tata letak dan apa saja yang harus dipertontonkan di ruang ini menjadi pertimbangan tersendiri.

Bagaimana dengan dapur?

Dapur sebagai panggung belakang menjadi ruang untuk mengolah masakan. Terdapat kitchen set, rice cooker, kompor, panci, wajan, penggorengan, cobek, dan kulkas di sana. Ada juga bahan-bahan atau bumbu untuk membuat makanan dan minuman yang lezat, gurih, dan penuh gizi.

Seberapa enak, cepat dan bervariasi masakan yang bisa dihasilkan dari dapur? Selain dari sarana, ini juga bergantung dari koki.

Pemilik rumah tidak harus menjadi koki handal. Dia bisa mendelegasikan tugas masaknya sama juru masak yang mumpuni.

Dalam arti luas, panggung depan dan panggung belakang ini ada di mana-mana. Di pesawat, kapal, kereta api, mobil, ada ruang mesin dan ruang kabin. Buku, majalah, koran punya sampul dan isi. Dalam dunia politik pun bisnis ada front office dan back office. Bahkan tubuh manusia juga terdiri dari kulit dan jeroan.

Di dalam dunia bisnis misalnya, produk adalah manifestasi dari panggung depan. Sedangkan proses produksi adalah manifestasi dari panggung belakang.

Dalam dunia politik juga demikian. Apa yang ada di panggung depan (kebijakan, paslon pemimpin: cabup, cagub, capres) seringkali adalah produk hasil dari proses panggung belakang.

Begitulah, ada dua panggung pertunjukan saling mengisi di dalam kehidupan ini. Panggung depan dan belakang. Panggung depan ialah apa saja yang bisa langsung dilihat. Sedangkan panggung belakang ialah apa saja yang mendukungnya.

Mana yang lebih penting, panggung depan atau belakang?

Kedua panggung ini mesti bersinergi positif, saling mendukung satu sama lain agar the big show bisa enak ditonton. Sehingga pertunjukan tampil penuh harmoni dan sempurna.

Salam sempurna.

– © DPS

Jakarta, 28/3/2013 09:49

#melekbahasa
#melekberita