Pada suatu sore, Bejo sedang mengobrol santai dengan Simbah di teras. Meskipun santai tetapi obrolan sore itu sedikit serius. Topiknya tentang medsos. Apa hukum medsos?
Suasana di luar hujan dengan curah sedang. Perpaduan bunyi air genteng, hembusan angin, dan derik pohon menghasilkan suara yang merdu. Orkestrasi musik alami yang indah, menenangkan.
Bejo bertanya : “Mbah, apakah alat musik itu haram?”
“Alat musik itu halal. Kalau tak pakai mukul kepalamu, baru haram,” jawab Simbah.
Bejo mengangguk. Ia membayangkan debat warganet di medsos sebulan kemarin. Debat tentang hal ini.
“Alat musik itu halal. Kalau tak pakai mukul kepalamu, baru haram,” jawab Simbah.
Hukum Medsos
Ngomong-ngomong soal medsos, Bejo lantas teringat pertanyaan Kang Asep. Teman sepermainannya dulu. Waktu main petak umpet, kelereng, dan karet.
Beberapa hari yang lalu, disela mencari suket, Kang Asep bertanya : “Apa hukum medsos?” Pertanyaan sederhana, yang tidak bisa ia jawab.
“Mbah, apa hukum medsos, seperti : FB, IG dan twitter? Katanya haram?” tanya Bejo.
“Medsos, halal. Kalau tak pakai pornografi, ujaran kebencian atau memfitnah, haram. Halal haram medsos bukan karena sebab adanya (zatnya) tetapi karena sebab penggunaannya,” jawab Simbah ringkas, padat, dan jelas.
Bejo mengangguk. Entah ia mengerti atau mengantuk.
Kemarin aku pergi ke sebuah mall terbaik di kota ini
Tempatnya mewah, bersih dan rapi
Acnya adem dan pengunjungnya ramai
Mereka menikmati dan sibuk belanja ke sana sini
Aku tak melihat kemiskinan di dalam gedung ini
Kata mereka, orang di negeriku terbelakang
Kata mereka, orang di negeriku tak disiplin dan sulit diatur
Kataku, mereka pasti belum pernah masuk ke mall ini
Kemudian, aku pulang
Aku melihat kotor di mana-mana
Di trotoar, di got, di taman, hingga di jalan raya
Ruang publik menjelma menjadi tempat sampah raksasa
Orang seenaknya melanggar lalu lintas
Atas dalih ingin pintas dan lekas
Keterbelakangan dan kesemrawutan
Seperti kata mereka ternyata bukan tipuan
Sampai di rumah
Badanku lelah
Namun
Pikiranku tekun
Aku melihat
Dua dunia tipis sekat
Antara kemewahan dan kemiskinan
Hanya bersekat tembok bangunan
Antara keteraturan dan keruwetan
Hanya bersekat parkiran
Antara kemajuan dan keterbelakangan
Hanya bersekat meteran
Sobat
Begitulah hidup ini adanya
Antara siang dan malam
Hanya berbatas senja
Antara senang dan sedih
Hanya berbatas syukur dan sabar
Antara kebaikan dan keburukan
Hanya berbatas pertaubatan
Sobat
Ingat, waktu semakin dekat
Seruput
Kapal apiku yang lembut
Sore itu, 2 November 1990, langit di atas Bendungan Karang Kates sangat cerah. Di ufuk Barat, sinar Surya sudah tidak lagi menyengat. Cahaya jingganya menyebar, mewarnai pepohonan, tebing dan air. Sungguh lukisan alam yang sangat indah.
Angin semilir menyaput wajah-wajah di pinggir bendungan. Siapapun yang terkena hembusannya nampak tak kuasa menahan daya nikmatnya. Mereka seperti terhipnotis masal oleh rekayasa alam.
Di antara wajah-wajah itu, seorang kakek sedang leyeh-leyeh di bawah rindangnya Pohon Akasia. Ia menikmati sekali waktu yang ada setelah mancing. Suasana tenang dan damai. Ikan sekepis dan dua palesan tergeletak di sampingnya.
Kakek ini mencari ikan untuk lauk keluarga. Tidak setiap hari dia pergi memancing. Hanya pas ingin saja. Ikan sekepis sudah cukup baginya untuk lauk makan malam bersama keluarga.
Bejo dan Kakeknya
Lima meter dari kakek, Bejo bermain pasir. Dia berlari-lari ngalor ngidul tanpa celana. Celananya basah setelah ia kecemplung sungai kecil di pinggir bendungan.
Anak sembilan tahun itu asik sekali menikmati dunianya. Dunia kanak-kanak yang mungkin tidak bisa dia ulangi lagi. Dunia yang sangat indah dimana tawa dan tangis bisa hadir bergantian bahkan terkadang bersamaan.
Bejo memang belum nalar. Ia belum mengerti apa itu baik buruk pun benar salah. Kata pak ustad, Bejo belum akil baligh.
Meskipun demikian, di usia sebelia itu, ingatan Bejo sangat tajam. Beberapa kejadian yang ia alami di usianya ini, puluhan tahun kemudian masih bisa ia ingat dengan detail dan jelas.
Sore itu, antara Bejo dan kakek dalam skala berbeda memiliki esensi yang sama. Mereka sama-sama menikmati waktu. Kakek menikmati waktunya dengan leyeh-leyeh seusai mancing. Sedangkan Bejo menikmati waktunya dengan bermain pasir tanpa kolor.
“Hawanya enak banget ya Kek,” kata Budi tiba-tiba memecah suasana. “Betul nak,” kata kakek.
Budi seorang musafir. Dia tinggal di ibu kota. Selesai tamat pendidikan menengah atas, nasib membawanya ke kota metropolitan itu.
Di ibu kota, Budi memiliki kesempatan untuk melanjutkan sekolahnya. Terakhir, ia menyelesaikan S2 nya di bidang manajemen.
Budi ingin pergi ke Blitar. Sebuah kota kecil, tempat ia dilahirkan. Sore itu, kebetulan ia lewat dan mampir untuk menikmati indahnya Bendungan Karang Kates.
Karang Kates memang tersohor. Selain keindahan alamnya, bendungan besar ini juga terkenal akan teknik bendungannya. Bendungan ini dibangun menggunakan teknik separo tebing dan separo tembok. Teknik membendung yang cerdas dan diakui dunia pada masanya.
“Habis mancing ya Kek?” kata Budi sambil memperhatikan ikan sekepis dan palesan. Sang kakek menjawab pertanyaan Budi dengan senyuman ramah dan anggukan beberapa kali.
Progresif dan Konservatif
Budi merasa kasihan melihat sang kakek. Batinnya bergemuruh. Jiwanya bergejolak. Hatinya prihatin. Ia tak nyaman melihat penderitaan sang kakek. Di usianya yang tak lagi muda, ia masih berjibaku dengan kerasnya dunia. Ia berpikir sang kakek menghidupi keluarganya dengan jualan ikan. Di mana anak cucunya? Sebuah gambaran realitas perih yang sepertinya memang layak mendapat label kasihan.
“Kalau kakek pakai jaring, tangkapan ikannya pasti lebih banyak. Tidak cuma sekepis, kakek bisa dapat ikan sepuluh ember lho!” kata Budi. Ia menjelaskan kepada kakek teknik menangkap ikan yang efektif dan efisien.
Puluhan tahun, kakek ini memang mencari ikan dengan cara memancing. Ia berhenti memancing jika ikan yang didapatnya dirasa sudah cukup untuk lauk sekeluarga.
“Untuk apa cari ikan sepuluh ember nak?” kata kakek.
“Untuk beli perahu kek. Nanti ikannya kakek jual ke pasar. Terus uangnya bisa kakek gunakan untuk membeli perahu,” kata Budi dengan nada bersemangat.
Mendengar penjelasan Budi, bukannya mengerti sang kakek malah bingung. “Untuk apa beli perahu nak?” kata kakek.
“Untuk cari ikan yang lebih banyak lagi kek. Dengan perahu kakek bisa cari ikan sampai ke tengah bendungan. Kakek bisa menjelajahi bendungan yang besar ini. Tidak hanya di pinggir sini saja. Nanti kakek bisa dapat ikan satu perahu. Tidak cuma sepuluh ember saja,” kata Budi dengan nada yang sama, semangat.
Sang kakek semakin tidak mengerti dengan pola pikir anak muda ini. Kesenjangan pendidikan mereka sangat tinggi. Sang kakek hanya tamat pendidikan sekolah dasar.
Selain itu, pengaruh lingkungan tempat tinggal mereka juga berbeda 180 derajad. Budi tinggal di ibu kota dengan segala kemodernnannya. Sedangkan sang kakek tinggal di desa dengan segala ketradisionalannya.
“Untuk apa cari ikan satu perahu nak?” kata kakek.
Mendengar pertanyaan kakek yang nampak antusias, Budi mulai menjelaskan soal dunia perikanan lebih luas. Dia menerangkan bahwa kebutuhan ikan di dalam negeri itu sangat tinggi. Saat ini , neraca perdagangan ikan kita defisit. Pemerintah dan swasta belum bisa memenuhi permintan ikan yang tinggi tersebut. Akibatnya, harga ikan mahal. Banyak masyarakat yang tidak bisa mengonsumsinya.
Padahal, ikan sangat dibutuhkan untuk membangun gizi masyarakat. Gizi yang baik diperlukan untuk mencetak generasi unggul. Nah, generasi itulah yang mampu membawa sebuah negeri ke masa kejayaannya.
Lihat Jepang, Eropa dan Amerika. Mereka maju karena masyarakatnya setiap hari cukup mengonsumsi protein, cukup makan ikan. Di sini, rakyat masih kurang protein, kurang makan ikan.
“Dengan ikan satu perahu, kakek bisa dapat uang banyak. Uang tersebut nanti kakek gunakan untuk membangun pabrik pengolahan ikan. Kakek akan jadi pengusaha besar. Dan Kakek bisa menolong sesama karena membuka lapangan pekerjaan. Kakek juga bisa beli sepeda motor, mobil, rumah yang besar dan makan di restoran mahal,” kata Budi dengan berapi-api.
Budi bercerita panjang lebar. Ia seperti sedang memberikan mata kuliah bisnis di depan kelas. Luapan pengetahuannya meluber. Ia gemas.
Bagaimana bisa maju kalau di zaman modern seperti ini cari ikan saja masih dengan pancing. Bagaimana bisa bersaing? Ia lalu teringat tayangan di saluran NGC tentang kapal pukat asing di lautan luas. Sekali tarik, ribuan ikan langsung terangkut ke kapal dalam hitungan detik.
Cara mencari ikan sang kakek sudah obsolote. Budi merasa terpanggil. Ia berniat memberikan pencerahan intelektual. Kebodohan harus diperangi. Kekunoan harus dimodernkan. Dan kemiskinan harus dientaskan.
Dari sekepis jadi sepabrik. Sepertinya sebuah judul buku yang berpotensi menjadi bestseller.
Waktu Luang
Sang kakek plonga plongo mendengar penjelasan Budi.
“Untuk apa membangun pabrik ikan nak?” kata kakek.
“Agar kakek bisa menikmati waktu di masa tua. Kakek tidak perlu kerja keras lagi seperti ini. Kakek bisa bermain dengan cucu,” kata Budi.
“Nak, sampeyan pikir dari tadi saya ini sedang apa. Dari tadi saya ini sedang menikmati waktu saya, menikmati masa tua saya. Dan saya juga sedang bermain sama cucu saya ini,” kata kakek dengan nada ramah sambil merangkul Bejo. Rupanya Bejo memperhatikan percakapan kakeknya dari awal.
Mendengar jawaban sang kakek, Budi terdiam. Mulutnya spontan terkunci. Raut mukanya berubah. Beberapa detik kemudian lantas ia pamit untuk melanjutkan perjalanan.
Setelah itu, sang kakek pun juga berbenah. Senja kian dekat. Ia dan Bejo waktunya pulang ke Wlingi. Keluarganya pasti sudah menunggu.
Di perjalanan pulang sang kakek bercerita kepada Bejo soal globalisasi. Di zaman itu, orang seperti kakek yang masih berjibaku di usia senja, yang berdikari memproduksi bahan pangan sendiri, sering dianggap sebagai potret kemiskinan.
Generasi sekarang tak mau berkeringat untuk pangannya. Kalau bisa beli kenapa harus bikin? Hidup mereka sudah digantung oleh orang lain. Kamu bayangkan kalau orang-orang seperti kakek ini mogok nanam padi, sayur dan buah. Kota metropolis itu akan kacau karena tidak ada persediaan makanan untuk penduduknya.
“Le, begitulah keinginan itu bekerja pada diri manusia. Kamu punya ikan sekepis pengen seember, seperahu hingga sepabrik. Jika rasa ini tak bisa kamu kendalikan maka kamulah yang akan dikendalikannya. Dan, untuk bisa menikmati waktumu kamu tidak harus punya perahu dan pabrik,” kata kakek kepada Bejo, sederhana dan mendalam.
melekberita.com – Marketing terus berkembang. Jika dulu kita mengenal ada marketing 1.0, sekarang sudah eranya marketing 4.0. Apa itu marketing 4.0?
Sebelum menjawab pertanyaan di atas, mari kita kilas balik untuk menyegarkan kembali ingatan kita.
Marketing 1.0 adalah marketing yang berfokus pada produk, disebut juga “Product-Centric Era”. Di sini produsen membuat produk yang bagus. Kegiatan marketing diarahkan sesuai dengan kemauan produsen. Misalnya persuasi orang untuk membeli produk tersebut lewat iklan dan sebagainya. Keinginan konsumen tidak terlalu diperhatikan.
Marketing 2.0 adalah marketing yang berfokus pada pelanggan, disebut juga “Customer-Centric Era”. Di sini produsen mencari pelanggan kemudian mempelajari need and want pelanggan. Setelah itu mereka membuat produknya. Kegiatan marketing diarahkan sesuai dengan kemauan pelanggan. Tidak hanya produk yang bagus, produsen memperhatikan juga keinginan pasar.
Marketing 3.0 adalah marketing yang berfokus pada kemanusiaan, disebut juga “Human-Centric Era”. Di sini produsen memperhatikan produk dan pelanggan. Kegiatan marketing diarahkan tidak hanya fungsional dan emosional tetapi lebih ke spiritual. Pelaku bisnis memperhatikan aktifitas kemanusiaannya, nilai-nilai universal.
Marketing 4.0 adalah marketing yang berfokus pada kemanusiaan di era digital (marketing 3.0 + digital). Di sini pendekatan pemasaran mengkombinasikan interaksi antara online dan offline. Selain itu juga mengintegrasikan antara style dan substance. Artinya, merek tidak hanya mengedepankan branding bagus, tetapi juga konten yang relevan dengan pelanggan.
Dalam menjalankan kegiatan brand terkadang sulitnya bukan main. Brand equity kita tinggi tapi penjualan tidak naik-naik, so what? Index brand awareness sudah 100% tapi penjualan masih biasa-biasa saja, so what? Apa yang bisa kita improve? Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin sering muncul.
Fenomena di atas jelas bahwa index tidak bisa berdiri sendiri sebagai suatu KPI yang dijalani sehari-hari. Kita butuh sesuatu yang langsung kelihatan dampaknya ke penjualan. Kalau kita punya awareness 100% apa dampaknya ke penjualan. Kalau kita punya awareness 80% apa dampaknya ke rekomendasi.
ALIRAN BRAND
Ada dua aliran brand, yaitu: index dan insight. Marketing 4.0 adalah aliran brand insight.
Dalam marketing 4.0, kita tidak hanya melihat index tapi juga insight. Kalau kita tahu index, kita kemudian tahu touch point dari pelanggan itu lewat mana. Di sinilah kita juga akan tahu insight.
Contoh: ada 80% dari jumlah populasi tahu brand kita. Dari jumlah ini ternyata hanya 30% orang yang beli. Dari insight ini, kita tahu bahwa ternyata dari jumlah orang yang mengetahui brand hanya 30% yang membeli.
Dari data di atas, kita bisa merencanakan anggaran dengan lebih baik. Kalau kita punya anggaran pengeluaran 1M, kurang lebih nanti akan balik 30%.
Perjalanan pelanggan (customer path) untuk menuju loyal, sebelum ada sosial media, ada 4A yaitu: aware, attitude, act, act again. Sekarang, setelah ada sosial media jadi 5A, yaitu: aware, appeal, ask, act, advocate.
Pada marketing 4.0, ada redefinisi tentang loyalitas. Dulu loyalitas diartikan sama dengan act again, berapa orang yang repeat. Sekarang, loyalitas tidak hanya repeat tetapi juga advokasi.
Dulu namanya word of mouth. Word of mouth sudah kurang relevan lagi, berat. Sekarang, di era digital lebih banyak kesempatan orang untuk advokasi. Orang sudah online kapan saja dan di mana saja.
Anda like itu advokasi. Anda share dan upload foto yang anda suka itu advokasi. Inilah tanda-tanda baru dari brand loyalty.
DARI TRADISIONAL KE DIGITAL
Di era ekonomi digital, marketing 4.0 tidak mengatakan 100% harus digital. Karena interaksi digital saja tidaklah cukup. Kenyataannya tetap dibutuhkan aktivitas offline.
Marketing 4.0 mengintegrasikan antara style dan substance. Style itu penting. Kalau kita tidak punya style, kita akan dilewati begitu saja. Namun, sekarang orang tidak hanya butuh style saja tetapi juga ingin tahu substansinya. Jadi substansi itu juga penting.
Pesatnya perkembangan teknologi digital, meniscayakan konektivitas antara machine-to-machine. Dan machine-to-machine juga harus mampu menciptakan relasi human-to-human. Sehingga perkembangan teknologi tidak berhenti pada teknologi itu sendiri.
Di dalam marketing 4.0, paradok-paradok seperti di atas tersebut diintegrasikan.
Ada dua metrik yang digunakan untuk mengukur atau mengevaluasi kinerja marketing 4.0, yaitu: PAR dan BAR.
PAR adalah jumlah orang yang beli dibagi dengan jumlah orang yang aware. PAR digunakan untuk melihat seberapa efektif iklan kita. Seberapa efektif awareness kita. Dari index 100%, berapa persen kah yang membeli produk kita. Berapa konversi atau perubahannya?
Misalnya ada 100 orang yang aware dengan produk kita dan yang beli cuma 30. Ini berarti nilai PAR-nya adalah 0,3.
Dari contoh di atas, bagaimana cara mengukur advokasi, berapakah orang yang advokasi? Orang yang advokasi bisa 50, bisa 20.
Kadang-kadang orang tidak beli produk tapi mereka mau advokasi. Hal ini biasanya ada di barang mewah. Saya tidak beli ferrari tapi saya merekomendasikan kepada orang. Kalau punya duit seperti kamu, saya akan beli ferrari, misalnya.
Nilai advokasi bisa lebih besar daripada jumlah orang yang beli, bisa juga lebih kecil.
Jika orang beli produk dan puas, tapi mereka tidak berani advokasi atau malas advokasi, inilah yang dinamakan BAR.
Jadi ada dua rasio untuk ukuran loyalitas pelanggan. PAR dan BAR. PAR itu untuk masa sekarang, BAR untuk masa yang akan datang. PAR untuk market share, BAR untuk growth.
Dulu, loyalitas dihitung cuma dari repeat. Sekarang dua-duanya, repeat dan advokasi sama-sama dihitung.
CUSTOMER PATH
Model customer path yang ideal di dalam marketing 4.0 adalah model dasi kupu-kupu (bow tie). Dengan model bow tie, kita punya orang yang aware dan bisa advokasi kita, walaupun dia tidak beli produk.
Ada Empat Bentuk Umum Customer Path.
1. Door Knob.
Biasanya industri barang konsumsi. Orang membeli produk tapi tidak mau advokasi. Orang sudah tahu ekspektasi dari produk yang dibelinya.
2. Goldfish
Industri yang bentuk produknya masih membingungkan konsumen. Di sini konsumen banyak bertanya. Sudah banyak tanya yang beli dan advokasi sedikit. Biasanya industri jasa.
3. Trumpet
Biasanya industri barang mewah. Yang beli sedikit tapi advokasi. Atau tidak beli tapi advokasi. Ferrari misalnya.
4. Funnel
Industri pada umumnya. Di sini dari yang aware ke advokasi semakin turun. Barang elektronik misalnya.
MASALAH CUSTOMER PATH
Dari empat bentuk customer path di atas, tentu akan ada masalah di setiap bagiannya. Bagaimana solusinya? Ada ACCA, yaitu: attraction, curiosity, commitment dan affinity.
1. Attraction
Pelanggan sudah tahu produk tapi belum muncul rasa suka. Solusinya butuh human-centric marketing.
2. Curiosity
Pelanggan sudah suka tapi belum tertarik untuk mengenal produk lebih dalam. Solusinya butuh content marketing.
3. Commitment
Pelanggan sudah suka, sudah tertarik tapi belum beli juga. Solusinya butuh omni channel.
4. Affinity
Pelanggan sudah beli tapi belum mau advokasi. Kebanyakan mereka tidak tahu apa yang mau diadvokasi. Solusinya butuh engagement marketing.
SOLUSI CUSTOMER PATH
1. Human-Centric Marketing
Buatlah brand jadi manusia. Karena yang menikmati produk kita adalah manusia. Kalau brand gagal jadi manusia, pelanggan sulit untuk tertarik.
Supaya menjadi manusia, brand harus mempunyai enam sifat, yaitu: physicality, morality, personability, intellectuality, emotionality dan sociability.
2. Content Marketing
Content marketing pada dasarnya adalah bagaimana cara berjualan ke pelanggan tapi pelanggan tidak merasa dijualin. Ada dua kunci dalam content marketing, yaitu: content creation dan content amplification.
Content creation adalah bagaimana cara membuat konten yang menarik, isinya apa. Sedangkan content amplification adalah mendistribusikan konten ke berbagai saluran, distribusinya bagaimana.
3. Omni Channel Marketing
Di era digital ini yang paling krusial adalah handphone. Yang dipegang orang sekarang adalah handphone. Orang maunya cepat. Sehingga mobile commerce perlu fokus tersendiri.
Omni channel adalah mengintegrasikan antara online dan offline. Tidak cukup mengandalkan salah satunya saja.
4. Engagement Marketing
Engagement marketing adalah cara mempertahankan pelanggan.
Banyak contohnya, seperti: meningkatkan pengalaman digital pelanggan lewat aplikasi mobile, memberikan solusi dengan menggunakan CRM, mengendalikan perilaku pelanggan lewat Gamifikasi.
RINGKASAN
Brand ada dua aliran, yaitu: index dan insight.
Customer path berubah. Perjalanan pelanggan untuk menuju loyal ikut berubah.