Home Blog Page 24

Diplomasi Bubur Ayam

katasimbah.com – Beberapa hari yang lalu, ada bagi-bagi sembako di monas. Ribuan orang berdatangan. Ada dua orang meninggal dunia.

Menyikapi peristiwa ini, netizen berbeda pandangan. Suaranya pun terbelah. Katanya, semua ini salah A. Tidak, ini semua karena salah B, balasnya.

Adu argumentasi ini terjadi berhari-hari. Bahkan hingga kini. Dan mungkin juga sampai nanti.

Sehari setelah peristiwa sembako monas, terjadi kasus kaos di acara CFD. Ada gesekan antara pendukung kaos ganti vs pendukung kaos tetap.

Kata yang sering disebut saat itu adalah persekusi dan bully.

Serupa dengan sembako monas, tone netizen pun terbelah. Adu argumentasi juga terjadi berhari-hari. Bahkan hingga merambah ke layar tivi.

Uniknya, peristiwa monas ikut dibawa-bawa di sini. Seperti tambahan amunisi. Kedua kubu saling menguliti. Seolah ada kaitannya. Drama kian berseri-seri.

Terkini, ada kerusuhan di mako brimob. Enam orang meninggal dunia, lima polisi dan satu napi. Penyebabnya masih teka-teki.

Di sini, netizen pun tetap terbelah tentang pandangannya.

Banyak yang bingung melihat fenomena semua ini (sembako monas, kaos CFD, mako brimob). Termasuk aku sendiri. Ada yang mempertanyakan dan menggugat akalnya, perasaannya, hingga hati nuraninya.

Mari tepikan semua nafsu kita dulu dan yuks sama-sama kita kutuk dan kecam keras tragedi kemanusiaan itu. Agar tidak terulang lagi. Bisa?

Ah, tiba-tiba aku teringat bubur ayam. Ketika makan bubur ayam, kamu aduk atau enggak?

Salam bubur ayam. (DPS)

Djakarta, 10/05/2018 14:31

Robohnya Daya Pikir Kami

melekberita.com – Dulu, di zaman offline, masyarakat atau bisa juga disebut citizen yang ‘mencari’ berita. Dalam kasus terbaru, kerusuhan di mako brimob misalnya. Citizen harus nonton tv atau beli koran jika ingin mengonsumsi berita tersebut.

Hari berganti bulan, zaman pun berubah. Fajar online sudah menyingsing.

Di zaman online ini, masyarakat atau bisa disebut netizen tak perlu lagi ‘mencari’ berita. Tetapi beritalah yang mencari mereka.

Kapan saja, di mana saja, saat buka gawai, berita apa saja menghampiri mereka. Terjadilah banjir atau tsunami informasi.

Otak meski bekerja keras untuk menyaring informasi tersebut. Sebab tak semua informasi yang masuk akurat, terpercaya dan berimbang.

Dalam proses ini, kapabilitas otak setiap individu berbeda. Ada faktor pembudidayaan yang mempengaruhinya.

Otak ada batasnya. Dalam durasi tertentu, otak akan kewalahan sehingga tak lagi mampu mengerjakan tugasnya. Di kondisi ini, otak mulai menelan mentah-mentah dan bulat-bulat semua informasi yang masuk. Dan, robohlah daya pikir kami.

Jika informasi yang masuk itu kebanyakan, katakanlah 50% + 1 adalah informasi yang baik, benar, berimbang dan bukan artifisial tentu tak jadi soal. Namun, jika informasi yang masuk itu sebaliknya, tentu ini akan jadi soal.

Soal apa? Soal jeruk misalnya.

Ada pemuda memegang jeruk. Ada orang lewat kemudian bertanya, itu apel apa jeruk? Pemuda itu menjawab, jeruk.

Kemudian ada orang lewat lagi dan bertanya, itu apel beli di mana? Pemuda itu menjawab, ini jeruk.

Lalu ada orang lain lewat dan bertanya, enak ya apelnya? Pemuda itu menjawab, ini jeruk.

Hampir setiap orang yang lewat bertanya apel kepada pemuda tersebut. Kira-kira sudah seribuan orang.

Orang ke-1001 bertanya, itu apel apa jeruk? Pemuda itu mulai goyah dengan kebenarannya sendiri. Kebenaran yang telah ia pertahankan di depan 1000 orang. Ia ragu. Dengan mengejutkan, ia menjawab, ini apel tapi rasa jeruk.

Jeruk ada di sekitar kita. Ia berserakan. Salam apel rasa jeruk. (DPS)


Djakarta, 10/05/2018 10:46

Lagu Lama di atas Kaset Rusak

0

katasimbah.com – Dewasa ini, di negeri dongeng, tetiba muncul kasus lama yang diperbincangkan hangat kembali di media. Negeri dongeng memasuki tahun politik atau ada yang lebih suka menyebutnya pesta demokrasi.

Apakah membuka kasus lama tersebut ada kaitannya dengan hajatan akbar lima tahunan itu? Kenapa seolah ada siklus? Entahlah.

Kasus lama yang aku maksud di atas adalah kasus yang tidak selesai di era dulu. Bisa karena yang didakwa sudah almarhum pun karena penegakkan hukumnya yang dirasa belum putus (tuntas).

Kasus apa saja itu, misalnya kasus Mei98, BeElBeI, dan Senturi.

Mendengar obrolan itu di media maya pun nyata, telingaku terganggu. Aku seperti mendengar lagu lama yang disetel di atas kaset rusak. Jelas tak merdu lagi. Kata orang kampungku, mbliyut.

Selain mengganggu pendengaran, lagu mbliyut tersebut juga membuat sulit move on.

Kenapa kami (aku) mesti diajak memperdebatkan nada-nada lama yang dikompose oleh orang-orang tua kami dulu. Sehingga kami (aku) jadi terkotak-kotakkan.

Bukan tak mau mengerti dan belajar sejarah, mendengarkan lagu lama di kaset yang rusak itu memang anu.

Kedepan, agar kaset rusak itu tidak disetel lagi, aku usul, bagaimana kalau diadakan pemutihan lagu saja. Toh eranya juga sudah mp3/digital.

Jadi mulai dari nol, yang sudah ya sudah, memaafkan tapi tidak melupakan, dan mikul duwur mendem jero.

Kenapa? Agar kids zaman now (aku) juga mulai belajar dan fokus dengan lagu-lagu kekinian. Lagu yang aransemen dan liriknya berbeda dengan lagu lama. Lagu yang sesuai zamannya.

Bukankah setiap zaman ada lagunya. Dan setiap lagu ada zamannya.

Tapi ini kan soal selera. Tentu ada juga yang bisa menikmati lagu lama itu meski kasetnya rusak. Malah menganggapnya tembang kenangan.

Gess, piye kabare? Kamu sukak lagu yang mana? Cukup jawab di hati saja.

Salam lagu. (DPS)

Djakarta, 18/04/2018 09:05

Jangan Menawar

0

melekberita.com – Beberapa hari yang lalu, aku beli tas koper di kaki lima. Penjualnya adalah seorang wanita muda, sebut saja Bunga.

Bunga dibantu oleh seorang asisten, yang juga wanita muda. Mungkin adik atau saudaranya. Mereka akrab dan hangat.

Lapak Bunga sepi. Setengah jam di sini, tak ada satupun orang mampir. Koper memang tak seperti sembako. Tidak setiap hari orang membutuhkannya.

Lapak Bunga tidak jauh dari kosannya, sekitar 15 meter. Kos Bunga masuk ke gang kecil. Di sana ada beberapa petak kamar. Di dalam kosan itu, Bunga juga menyimpan dagangannya.

Bunga menjual tas koper tersebut 350 ribu. Aku tawar 300 ribu tidak dikasih. Sedikit negosiasi, kami akhirnya sepakat di harga 330 ribu.

Ada semacam rasa menang-menang di situ. Bunga turunkan harga dan aku naikkan harga. Inilah teknik negosiasi yang lazim dan ampuh.

Tas koper tersebut adalah barang lelangan dari sebuah mall. Kalau di mall, tas tersebut harganya mungkin 600 ribuan.

Sampai di rumah, aku menyesal. Kenapa tadi aku menawar. Terbayang jelas paras Bunga yang bimbang, ragu. Takut aku tak jadi beli. Namun disaat yang sama juga ingin aku membeli.

Sorot mata Bunga berisi. Tingkah luwes. Wajahnya sumringah setelah dagangannya aku beli.

Selisih dua puluh ribu saja, perhitungan. Mana, katanya mau menolong sesama. Emang berapa koper yang bisa Bunga jual sebulan (penghasilannya). Bagaimana Bunga bertahan hidup hari ke hari, bayar kos, makan. Tega, jangan bakhil. Dan pertanyaan serupa yang terus menggelayut.

Selow, aku mendadak melow. Ingat tentang nasehat beli di kaki lima. Ingat nasehat tentang jangan menawar. Tetiba hatiku gerimis. Aku belum bisa menjalaninya.

Gess, Bunga ada di mana-mana. Tukang buah, bakul ember, penjual mainan, penjual ikan, tempe, sayur. Mereka gigih bekerja di tengah terik, becek, berdebu. Merekalah sejatinya yang menggerakkan roda ekonomi negeri ini.

Mereka bekerja keras hanya untuk sekadar bertahan hidup. Bukan untuk menjadi kaya. Di belakangnya mungkin ada anak yang minta susu, buku, tas, seragam, uang sekolah, paket data, dan lainnya.

Gess, jika kamu makan di resto habis 500 ribu tak pernah menawar. Jika kamu belanja di mall habis satu dua juta tak pernah menawar. Sesekali, belanjalah ke mereka, kaki lima dan jangan menawar. Bisa?


Bogor, 07/04/2018 14:27

Algoritma

0

katasimbah.com – Dengan algoritma, jika kamu suka cari kopi maka yang akan sering tampil di ‘berandamu’ juga kopi.

Setiap hari, kamu akan dicekoki info tentang kopi. Mulai jenis kopi, faedah, sejarah, filosofi, beda instan dan giling, pernak-pernik, cara mengolah, hingga cara menyeduh.

Otak kamu akan penuh dengan kopi. Pengetahuan kamu tentang selain kopi bisa minim. Bahkan bisa nol.

Akibatnya, kamu jadi kurang mengenal teh, sirup, wedang jahe, jus, susu atau air putih.

Akibatnya lagi, kamu akan menganggap minuman yang paling enak itu adalah kopi. Selain kopi, salah.

Di level inilah, kecerdasan natural kamu (aku) hilang. Kecerdasan kamu (aku) sudah diobrak-abrik oleh kecerdasan buatan. Tanpa kecerdasan natural, kamu (aku) akan menjadi mesin.

Ngomongin mesin, mesin zaman now itu memungkinkan mengerjakan apa saja. End to end, dari awal sampai akhir. Dari pembibitan, panen, pengolahan, pembungkusan, penyeduhan, hingga penyajian.

Kamu tinggal sruput saja. Enak, bukan?

Namun, ada satu hal yang mesin tak punya. Apa itu? Perasaan.

Akhir kata, tidak hanya kopi. Algoritma juga bisa berjalan di produk dan jasa lainnya. Termasuk juga pada calon presiden.

Salam algoritma. (@DPSasongko)

Djakarta, 31/04/2018 17:06

Membedah Rasio Utang

0

Dalam berbagai kesempatan, para ahli ekonomi dan pengamat keuangan sering mengatakan bahwa jumlah maksimal rasio utang terhadap pendapatan adalah 30% itu masih aman. Benarkah?

Mari kita kupas lebih mendalam.

Saya bukan ahli ekonomi dan keuangan. Saya tidak paham dan mengerti darimana teori di atas berasal?

Namun mari kita gunakan ilmu jalanan saja. Ilmu kehidupan untuk membedah ‘mitos’ rasio utang seperti di atas.

Ilmu ini memungkinkan dipraktekkan oleh siapa saja, di mana saja, status sosial apa saja.

Cicilan Ideal

Studi kasusnya, begini ceritanya:

Ada dua pemuda harapan bangsa. Sebut saja namanya Paijo dan Paimo.

Paijo berumur 30 tahun dan bekerja di perusahaan swasta dengan gaji 10 juta per bulan. Di usianya yang matang, pemuda ganteng ini belum menikah. Ia masih betah sendiri.

Paimo adalah teman seangkatan Paijo, satu kantor. Gaji mereka sama. Paimo sudah menikah dengan gadis cantik pujaannya. Mereka dikaruniai dua orang anak yang sangat lucu. Yang pertama masuk TK dan yang terakhir baru dua tahun.

Dalam sebulan, Paijo menghabiskan sekitar 5 juta untuk kebutuhan hidupnya. Seperti bayar kos, makan, belanja online, ngopi cantik, dan lainnya.

Tidak demikian dengan Paimo. Ia mesti menghidupi tiga orang anggota keluarganya. Paimo menghabiskan sekitar 9 juta untuk kebutuhan hidupnya. Paimo membeli susu, popok, mainan, baju anak, biaya sekolah, kontrak rumah, token listrik, biaya internet, makan keluarga, kesehatan anak, hingga kosmetik istri tercinta.

Singkat kata, kebutuhan bulanan Paimo lebih besar dari Paijo.

Mitos rasio utang

Dari cerita pendek di atas, apakah teori rasio utang maksimal 30 persen dari ahli ekonomi di atas masih relevan? Menurut saya, tidak.

Kenapa?

Setelah dipotong biaya kebutuhan hidup, Paijo mempunyai dana bebas sebesar 5 juta. Setara dengan 50% dari pendapatannya. Dana ini aman atau ideal untuk dijadikan cicilan.

Tidak demikian dengan Paimo. Paimo hanya memiliki dana bebas sebesar 1 juta. Atau setara 10% dari pendapatannya yang aman untuk dijadikan cicilan.

Jadi, meski Paijo dan Paimo sama-sama mempunyai pendapatan 10 juta namun kemampuan cicilan mereka tidak sama.

Jika Paimo nekad mengambil KPR dengan cicilan 30% per bulan, konsekuensinya adalah banyak kebutuhan yang mesti ia kurangi. Terutama kebutuhan sekunder pun tersier.

Ketika Paimo mesti membayar KPR selama 20 atau 25 tahun, tentu ini adalah sesuatu yang tidak mudah. Ketika Paimo tidak memiliki likuiditas atau ruang fiskal lagi, bagaimana ia bisa memenuhi kebutuhan sekunder dan tersiernya?

Di sinilah, orang rawan masuk ke fasilitas kartu kredit, paylater, atau pinjol. Akhirnya yang terjadi adalah mereka gali lubang tutup lubang.

Maka, sudah saatnya teori rasio hutang 30% ini saya koreksi.  Bagaimana? Anda boleh sepemahaman, boleh juga tidak.

Beban utang

Utang adalah beban di masa mendatang. Menanggung beban dalam jangka waktu panjang dibutuhkan ketahanan yang prima. Ketahanan yang luar biasa.

Banyak krisis rumah tangga terjadi karena utang. Oleh karena itu, utang harus bisa dikelola sebaik mungkin.

Jika utang terlalu besar, bisa membuat pengeluaran Anda terganggu. Akibatnya, Anda terlalu banyak membayar cicilan sehingga kebutuhan sehari-hari menjadi sangat minim atau bahkan tidak tercukupi.

Di sinilah alarm krisis mulai menyala. Peringatan dini bagi keluarga untuk waspada. Situasi seperti ini harus segera dicarikan solusi sebab kalau tidak akan mengganggu kedaulatan sebuah keluarga.

Dalam level ekstrim, tidak hanya krisis, jerat utang bahkan bisa membuat sebuah keluarga hancur. Bubar di tengah jalan.

Keuangan negara juga seperti keluarga. Ia harus dikelola dengan baik dan benar. Bahasa kerennya, profesional.

Berapa rasio utang negara saat ini?

Menurut informasi di jagad maya: Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat total utang pemerintah hingga akhir Februari 2018 sebesar Rp 4.034,80 triliun. Setara dengan 29,24% terhadap PDB.

Apakah dengan utang sebesar itu, rasio di bawah 30%, masih aman? Saya tidak tahu. Dan kalau saya tahu, Anda juga tidak akan mempercayai saya. Emang saya ini siapa!

Kalau sampeyan kepo tentang kinerja keuangan negara kita, monggo langsung ke TKP saja: https://www.kemenkeu.go.id/apbn2018.

Akhir kata, sampeyan termasuk yang mana, pengikut aliran rasio atau bukan?

Salam rasio.

(©ADS)

Djakarta, 29/03/2018

*Image by Rilson S. Avelar from Pixabay

Kripik Kritik

0

katasimbah.com – Beberapa hari yang lalu, seorang senior menyoroti soal kebijakan bagi-bagi sertifikat tanah di negeri ini. Setelah itu, jagad nyata dan maya langsung terbelah. Pro kontra.

Ada yang menganggap, apa yang dilakukan sang senior adalah fitnah. Ada yang menganggap itu ujaran kebencian. Ada yang menganggap itu cuman pendapat. Dan ada juga yang menganggap sebagai kritik.

Terus apa bedanya semua itu?

Hmmm, rumit jelasinnya. Panjang kali lebar. Butuh kajian yang mendalam, kalau mau serius.

Sebelum ke sana, ada pertanyaan sepele yang harus saya jawab. Yang renyah itu kripik atau krupuk, apa bedanya?

Menjawab soal sepele ini saja saya masih kesulitan, bingung.

Bukannya tidak paham. Saya mengerti krupuk dan kripik. Tapi kalau didebat sama politisi, bisa jadi apa yang saya pahami itu akan berubah.

Belum lagi kalau mereka bertanya soal peyek atau ciki yang juga bisa renyah. Jelas, saya akan semakin kelabakan.

Lho, apa hubungannya sama kripik dan krupuk?

Enggak ada. Tapi kalau dihubung-hubungkan juga bisa. Hubungan soal rasa. Hehe.

Maksudnya bagaimana?

Muter-muter ya. Saya sendiri juga mulai bingung. Begini, antara krupuk dan kripik, kira-kira ada gak khilafiyah. Bisakah krupuk disebut kripik, dan juga sebaliknya?

Kok malah ke mana-mana?

Ya sudah, biar langsung to the point, sampeyan suka kripik pedas atau krupuk gurih? Apapun pilihanmu, saya percaya sampeyan tidak alergi sama kripik atau krupuk, kan?

Salam kriuk. (@DPSasongko)

Djakarta, 25/03/2018

Sunat, Nyali dan Kedewasaan

0

katasimbah.com – Dulu, waktu kami kecil, ketika menginjak masa-masa mau disunat, kami sering ditakut-takuti sama masyarakat.

Bagaimana wujud penakutan itu?

Begini. Nanti sebelum disunat, dokter akan mengasah goloknya dulu lho. Nanti sebelum disunat manukmu dilandesne rel sepur (burungmu diletakkan di atas rel kereta api). Nanti pas disunat ladinge ketul dadi pas diiris gak langsung tugel (pisaunya tumpul jadi pas dipotong tidak langsung putus). Wingi onok sing manukke katut keiris (kemarin ada yang burungnya ikut kepotong). Nanti pas disunat getihe sak ember (darahnya satu ember), dan lain sebagainya.

Lalu apa sikap kami sebagai calon pesunat. Kami nyatakan dengan tegas, kami tidak takut. Dan kami juga tidak pernah mengurungkan niat sedikitpun untuk tidak jadi disunat. Kami maju terus, pantang mundur.

Dan, kami juga tidak menuduh masyarakat yang menakuti kami tersebut sebagai golongan yang menebar pesimisme, memecah belah, apalagi melakukan ujaran kebencian dan fitnah.

Bagi kami, hal ini adalah ujian nyali kami saat itu. Tidak ada situasi yang memanas. Biasa saja, semua terkendali.

Kami tahu betul bahwa ini adalah dialog hangat, sebuah proses untuk membangun keakraban dan kedewasaan di antara kami.

Begitulah gess. Sejatinya, di urat nadi kami itu mengalir darah keberanian dan kelapangan dada. Jadi kalau ditakut-takuti tahun 2030 EFBE bubar, ya rasanya itu sudah sego jangan (akrab) buat kami.

Salam satu nyali. (DPSasongko)

Djakarta, 25/03/2018 09:23

Sajak Makna

0

Wahai sang bijaksana
Ajarkan aku tentang peristiwa
Sang bijaksana berkata
Peristiwa adalah soal konteks

Wahai sang bijaksana
Ajarkan aku tentang makna
Sang bijaksana berkata
Makna adalah soal tanda

Wahai sang bijaksana
Ajarkan aku tentang kata
Sang bijaksana berkata
Kata adalah soal kode

Wahai sang bijaksana
Ajarkan aku tentang kesadaran
Sang bijaksana berkata
Kesadaran adalah soal membaca

Awalnya adalah sebuah peristiwa
Yang dibaca melalui kata
Kemudian ia menjadi makna
Yang akan melahirkan kesadaran paripurna

Ketika terjadi perebutan tanda
Ketika teks lepas dari konteks
Ketika kata hanya sekadar wacana
Maka ia akan melahirkan kesadaran semu yang kompleks

Oleh karena itu bacalah peristiwa dengan pikiran jernih
Bacalah dengan hati bersih
Adillah sejak dari pikiran dan hatimu
Dan bacalah itu semua atas nama Tuhanmu

© DPS

Jakarta, 16/2/2018 13:50

#melekpuisi

Sajak 1990 an

0

1990 an
Transmigrasi, urbanisasi, imunisasi, reboisasi
Ialah kata-kata yang sering digaungkan
Di ruang sosial si Budi

2018 an
Cebonger, bani taplak, sumbu pendek, bumi datar
Ialah kata-kata yang sering digaungkan
Di ruang media sosial yang ingar-bingar

Budi melamun
Mencoba memahani kata-kata itu dengan tekun
Sesekali dia menengadah
Pikirannya mengembara ke alam antah berantah

Nyinyir bully menghakimi
Hitam putih cara memandang duniawi
Seolah hidup ini hanya aku dan kamu
Kita tidak laku

Budi mengingat masa kecilnya
Saat medsos belum berkuasa
Di mana toleransi tak hanya jargon semata
Tetapi realitas hidup di depan matanya

Eka prasetiya pancakarsa
Wawasan wiyata mandala
Kesetiakawanan sosial dan pramuka
Masih lekat di kepalanya

Saat guru SD mengajarkan sara
Membayangkan pun Budi tak kuasa
Karena tak ada contoh di negerinya
Yang aman damai melaksanakan pelita

Ah Budi terjebak masa lalu
Tak bisa move on dari orde enak zamanku
Kalau begitu tafsirmu
Apalah dayaku

Sobat
Medsos itu berat
Kamu gak akan kuat
Gunakanlah dengan bijak


Djakarta, 11/2/2018 12:21