Home Blog Page 26

Buku: Marketing 4.0 Hermawan Kartajaya?

melekberita.com – Marketing terus berkembang. Jika dulu kita mengenal ada marketing 1.0, sekarang sudah eranya marketing 4.0. Apa itu marketing 4.0?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, mari kita kilas balik untuk menyegarkan kembali ingatan kita.

Marketing 1.0 adalah marketing yang berfokus pada produk, disebut juga “Product-Centric Era”. Di sini produsen membuat produk yang bagus. Kegiatan marketing diarahkan sesuai dengan kemauan produsen. Misalnya persuasi orang untuk membeli produk tersebut lewat iklan dan sebagainya. Keinginan konsumen tidak terlalu diperhatikan.

Marketing 2.0 adalah marketing yang berfokus pada pelanggan, disebut juga “Customer-Centric Era”. Di sini produsen mencari pelanggan kemudian mempelajari need and want pelanggan. Setelah itu mereka membuat produknya. Kegiatan marketing diarahkan sesuai dengan kemauan pelanggan. Tidak hanya produk yang bagus, produsen memperhatikan juga keinginan pasar.

Marketing 3.0 adalah marketing yang berfokus pada kemanusiaan, disebut juga “Human-Centric Era”. Di sini produsen memperhatikan produk dan pelanggan. Kegiatan marketing diarahkan tidak hanya fungsional dan emosional tetapi lebih ke spiritual. Pelaku bisnis memperhatikan aktifitas kemanusiaannya, nilai-nilai universal.

 

Marketing 4.0 adalah marketing yang berfokus pada kemanusiaan di era digital (marketing 3.0 + digital). Di sini pendekatan pemasaran mengkombinasikan interaksi antara online dan offline. Selain itu juga mengintegrasikan antara style dan substance. Artinya, merek tidak hanya mengedepankan branding bagus, tetapi juga konten yang relevan dengan pelanggan.

Dalam menjalankan kegiatan brand terkadang sulitnya bukan main. Brand equity kita tinggi tapi penjualan tidak naik-naik, so what? Index brand awareness sudah 100% tapi penjualan  masih biasa-biasa saja, so what? Apa yang bisa kita improve? Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin sering muncul.

Fenomena di atas jelas bahwa index tidak bisa berdiri sendiri sebagai suatu KPI yang dijalani sehari-hari. Kita butuh sesuatu yang langsung kelihatan dampaknya ke penjualan. Kalau kita punya awareness 100% apa dampaknya ke penjualan. Kalau kita punya awareness 80% apa dampaknya ke rekomendasi.

ALIRAN BRAND

 

Ada dua aliran brand, yaitu: index dan insight. Marketing 4.0 adalah aliran brand insight.

Dalam marketing 4.0, kita tidak hanya melihat index tapi juga insight. Kalau kita tahu index, kita kemudian tahu touch point dari pelanggan itu lewat mana. Di sinilah kita juga akan tahu insight.

Contoh: ada 80% dari jumlah populasi tahu brand kita. Dari jumlah ini ternyata hanya 30% orang yang beli. Dari insight ini, kita tahu bahwa ternyata dari jumlah orang yang mengetahui brand hanya 30% yang membeli.

Dari data di atas, kita bisa merencanakan anggaran dengan lebih baik. Kalau kita punya anggaran pengeluaran 1M, kurang lebih nanti akan balik 30%.

 

Perjalanan pelanggan (customer path) untuk menuju loyal,  sebelum ada sosial media, ada 4A yaitu: aware, attitude, act, act again. Sekarang, setelah ada sosial media jadi 5A, yaitu: aware, appeal, ask, act, advocate.

Pada marketing 4.0, ada redefinisi tentang loyalitas. Dulu loyalitas diartikan sama dengan act again, berapa orang yang repeat. Sekarang, loyalitas tidak hanya repeat tetapi juga advokasi.

Dulu namanya word of mouth.  Word of mouth sudah kurang relevan lagi, berat. Sekarang, di era digital lebih banyak kesempatan orang untuk advokasi. Orang sudah online kapan saja dan di mana saja.

Anda like itu advokasi. Anda share dan upload foto yang anda suka itu advokasi. Inilah tanda-tanda baru dari brand loyalty.

DARI TRADISIONAL KE DIGITAL

Di era ekonomi digital, marketing 4.0 tidak mengatakan 100% harus digital. Karena interaksi digital saja tidaklah cukup. Kenyataannya tetap dibutuhkan aktivitas offline.

Marketing 4.0 mengintegrasikan antara style dan substance. Style itu penting. Kalau kita tidak punya style, kita akan dilewati begitu saja. Namun, sekarang orang tidak hanya butuh style saja tetapi juga ingin tahu substansinya. Jadi substansi itu juga penting.

Pesatnya perkembangan teknologi digital, meniscayakan konektivitas antara machine-to-machine. Dan machine-to-machine juga harus mampu menciptakan relasi human-to-human. Sehingga perkembangan teknologi tidak berhenti pada teknologi itu sendiri.

Di dalam marketing 4.0, paradok-paradok seperti di atas tersebut diintegrasikan.

 

Ada dua metrik yang digunakan untuk mengukur atau mengevaluasi kinerja marketing 4.0, yaitu: PAR dan BAR.

PAR adalah jumlah orang yang beli dibagi dengan jumlah orang yang aware. PAR digunakan untuk melihat seberapa efektif iklan kita. Seberapa efektif awareness kita. Dari index 100%, berapa persen kah yang membeli produk kita. Berapa konversi atau perubahannya?

Misalnya ada 100 orang yang aware dengan produk kita dan yang beli cuma 30. Ini berarti nilai PAR-nya adalah 0,3.

Dari contoh di atas, bagaimana cara mengukur advokasi, berapakah orang yang advokasi? Orang yang advokasi bisa 50, bisa 20.

Kadang-kadang orang tidak beli produk tapi mereka mau advokasi. Hal ini biasanya ada di barang mewah. Saya tidak beli ferrari tapi saya merekomendasikan kepada orang. Kalau punya duit seperti kamu, saya akan beli ferrari, misalnya.

Nilai advokasi bisa lebih besar daripada jumlah orang yang beli, bisa juga lebih kecil.

Jika orang beli produk dan puas, tapi mereka tidak berani advokasi atau malas advokasi, inilah yang dinamakan BAR.

Jadi ada dua rasio untuk ukuran loyalitas pelanggan. PAR dan BAR. PAR itu untuk masa sekarang, BAR untuk masa yang akan datang. PAR untuk market share, BAR untuk growth.

Dulu, loyalitas dihitung cuma dari repeat. Sekarang dua-duanya, repeat dan advokasi sama-sama dihitung.

CUSTOMER PATH

 

Model customer path yang ideal di dalam marketing 4.0 adalah model dasi kupu-kupu (bow tie). Dengan model bow tie, kita punya orang yang aware dan bisa advokasi kita, walaupun dia tidak beli produk.

 

Ada Empat Bentuk Umum Customer Path.

1. Door Knob.

Biasanya industri barang konsumsi. Orang membeli produk tapi tidak mau advokasi. Orang sudah tahu ekspektasi dari produk yang dibelinya.

2. Goldfish

Industri yang bentuk produknya masih membingungkan konsumen. Di sini konsumen banyak bertanya. Sudah banyak tanya yang beli dan advokasi sedikit. Biasanya industri jasa.

3. Trumpet

Biasanya industri barang mewah. Yang beli sedikit tapi advokasi. Atau tidak beli tapi advokasi. Ferrari misalnya.

4. Funnel

Industri pada umumnya. Di sini dari yang aware ke advokasi semakin turun. Barang elektronik misalnya.

MASALAH CUSTOMER PATH

Dari empat bentuk customer path di atas, tentu akan ada masalah di setiap bagiannya. Bagaimana solusinya? Ada ACCA, yaitu: attraction, curiosity, commitment dan affinity.

 

1. Attraction

Pelanggan sudah tahu produk tapi belum muncul rasa suka. Solusinya butuh human-centric marketing.

2. Curiosity

Pelanggan sudah suka tapi belum tertarik untuk mengenal produk lebih dalam. Solusinya butuh content marketing.

3. Commitment

Pelanggan sudah suka, sudah tertarik tapi belum beli juga. Solusinya butuh  omni channel.

4. Affinity

Pelanggan sudah beli tapi belum mau advokasi. Kebanyakan mereka tidak tahu apa yang mau diadvokasi. Solusinya butuh engagement marketing.

SOLUSI CUSTOMER PATH

1. Human-Centric Marketing

 

Buatlah brand jadi manusia. Karena yang menikmati produk kita adalah manusia. Kalau brand gagal jadi manusia, pelanggan sulit untuk tertarik.

Supaya menjadi manusia, brand harus mempunyai enam sifat, yaitu: physicality, morality, personability, intellectuality, emotionality dan sociability.

2. Content Marketing

 

Content marketing pada dasarnya adalah bagaimana cara berjualan ke pelanggan tapi pelanggan tidak merasa dijualin. Ada dua kunci dalam content marketing, yaitu: content creation dan content amplification.

Content creation adalah bagaimana cara membuat konten yang menarik, isinya apa. Sedangkan content amplification adalah mendistribusikan konten ke berbagai saluran, distribusinya bagaimana.

3. Omni Channel Marketing

 

Di era digital ini yang paling krusial adalah handphone. Yang dipegang orang sekarang adalah handphone. Orang maunya cepat. Sehingga mobile commerce perlu fokus tersendiri.

Omni channel adalah mengintegrasikan antara online dan offline. Tidak cukup mengandalkan salah satunya saja.

4. Engagement Marketing

 

Engagement marketing adalah cara mempertahankan pelanggan.

Banyak contohnya, seperti: meningkatkan pengalaman digital pelanggan lewat aplikasi mobile, memberikan solusi dengan menggunakan CRM, mengendalikan perilaku pelanggan lewat Gamifikasi.

RINGKASAN

Brand ada dua aliran, yaitu: index dan insight.

Customer path berubah. Perjalanan pelanggan untuk menuju loyal ikut berubah.

Dulu 4A (aware, attitude, act, act again) sekarang 5A (aware, appeal, ask, act, advocate).

Untuk membuat 5A berhasil ada ACCA (attraction, curiosity, commitment, affinity).

Untuk mengukur produktifitas, efisiensi dari uang yang sudah dikeluarkan:  PAR dan BAR.

+BONUS

 

Sevel Resmi Tutup, Analisa Bisnis Rhenald Kasali

melekberita.com –  Seven eleven (7-Eleven) adalah jaringan toko kelontong (convenience store) 24 jam asal Amerika Serikat yang sejak tahun 2005 kepemilikannya dipegang Seven & I Holdings Co., sebuah perusahaan Jepang. Pada tahun 2004, lebih dari 26.000 gerai 7-Eleven tersebar di 18 negara;  antara pasar terbesarnya adalah Amerika Serikat dan Jepang.

Didirikan pada tahun 1927 di Oak Cliff, Texas (kini masuk wilayah Dallas), nama “7-Eleven” mulai digunakan pada tahun 1946. Sebelum toko 24 jam pertama dibuka di Austin, Texas pada tahun 1962, 7-Eleven buka dari jam 7 pagi hingga 11 malam, dan karenanya bernama “7-Eleven” (7-Sebelas).

Mulai 30 Juni 2017, gerai 7-Eleven atau Sevel di Indonesia resmi tutup setelah perusahaan asal Thailand, Charoen Pokphand gagal mengakuisisi Sevel. Padahal ritel yang hadir di tanah air sejak 2009 ini sempat menjadi tempat nongkrong paling favorit anak muda di kota-kota besar di Indonesia.

Apa yang terjadi sehingga Sevel mengibarkan bendera putih?

Berikut ini adalah hasil cuplikan perbincangan Eva Yunizar dengan Guru Besar Ilmu Manajemen di Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, Rhenald Kasali yang disiarkan CNN Indonesia, 28 Juni 2017.

Selamat sore Pak Rhenald.
Selamat sore Eva.

Delapan tahun Sevel akhirnya menyerah dan menutup gerainya. Menurut Anda apa alasan utama yang membuat Sevel akhirnya tak mampu bertahan?
Tentu apa yang disampaikan oleh Sevel itu menarik bahwa mereka telah ketidakmemiliki persoalan dalam sumber daya. Sumber daya itu artinya adalah yang masuk dibandingkan yang keluar, itu jauh lebih besar yang keluar daripada yang masuk. Bisnis itu hanya bisa survive kalau yang masuk atau revenue atau penjualannya lebih tinggi daripada biayanya. Itu hukum dasarnya. Nah di mana letak persoalannya. Tentu di situ ada cara-cara yang dilakukan tidak sesuai. Dan ada penyebabnya mengapa cara-cara yang tidak sesuai itu terjadi. Saya melihat antara tahun 2009 sampai 2012/2013, itu relatif bagus sekali. Bahkan sempat dipuji oleh harian The New York Times. Jadi tidak usah penutupan, pada waktu gerainya ramai saja, itu sudah menarik perhatian harian The New York Times di halaman depan, dengan konsep nongkrong anak mudanya itu. Karena mereka juga menggunakan sosial media, twitter, facebook, dan sebagainya. Sehingga anak muda ngumpul dan di situ ada wifinya dan disesuaikan dengan budaya asli Indonesia. Karena anak-anak Indonesia itu di seluruh Indonesia, mulai dari Banda Aceh kumpulnya di kedai kopi Ulee Kareng, di kedai kopi di Medan, di Pekanbaru, Palembang sampai ke Pontianak, Jakarta, Surabaya, NTT. Kita senang nongkrong orang-orang kita. Nah di situlah terjadi transaksi dan terjadi loyalitas. Ada ikatan, ada kedekatan, ada konsumsi. Tetapi ketika sekarang terjadi berbagai persoalan tapi saya kira persoalannya adalah kalau kita lihat angka mulai merosot 2013 sampai 2016/2017, parah 2017. Tetapi penyebabnya adalah apa yang terjadi di titik awalnya 2012, itu menarik perhatian. Saya melakukan riset, tahun 2012 saya pernah mengirim mahasiswa saya untuk melakukan praktek di beberapa ritel, salah satunya di Sevel. Saya masih ingat apa yang terjadi di sana. Dan kemudian saya membaca liputan, pada waktu itu 2012 ada kehebohan karena di kementerian perdagangan, tiba-tiba Sevel dijewer oleh petugas di sana, ada dimuat di detikfinance yang mempersoalkan bisnis modelnya kayak apa. Ini kalau dibilang restoran kok ada convenience store nya. Kalau dibilang convenience store kok ada meja bangkunya. Itu yang dipersoalkan. Sehingga regulator pada saat itu mulai intervensi. Nah yang menarik perhatian, di situ dia mulai grogi menurut hemat saya. Karena ada beberapa bulan mereka terhambat untuk melakukan adjusment. Tiba-tiba kompetitornya semua menerapkan apa yang diterapkan oleh Sevel. Kira-kira begitu.

Artinya, lebih kepada faktor internalnya yang tidak bisa menyesuaikan terhadap perubahan yang terjadi, begitu pak Rhenald? Ataukah faktor eksternal ini lebih kuat?
Ada dua-duanya. Internal dan eksternal. Jadi faktor eksternal itu membuat mereka grogi. Saya kira ya, Sevel ini kan lanjutan dari grup modern yang pernah mengalami kebangkrutan karena fuji film itu tidak bisa lagi mereka jual. Jadi mereka mempunyai titik-titik outlet yang bagus dan mereka tawarkan. Dan Sevel di Dallas itu tertarik dengan Sevel Indonesia dengan modern grup karena mereka ini adalah memiliki jiwa kewirausahaan yang tinggi. Dan punya pengalaman tinggi yang bagus dalam ritel. Pernah menjual film roll. Dan kemudian mereka ini tidak punya pilihan lain. Mereka mengatakan, we are dying. Kita mau mati kalau kita enggak punya Sevel. Dan Sevel kemudian tertarik karena mereka punya bisnis model baru. Begitu regulator saat itu mempersoalkan dan meminta agar Sevel Indonesia mereformat bisnisnya, perencanaan mereka jadi kacau. Karena kalau franchise itu tidak seperti milik kita di Jakarta, kita langsung melakukan adjusment, adaptasi. Tapi kalau Internasional, apalagi itu Amerika, sangat rigid. Jadi mereka harus report dulu ke Amerika, regulator di Indonesia melarang kami untuk digabungkan antara convenience store dengan tempat makan. Nah, mereka di sana mikir harusnya bagaimana. Rapat lagi. Itu prosesnya panjang. Apalagi pemiliknya bukan orang Amerika tapi adalah orang Jepang. Orang Jepang itu mengambil keputusannya memang lama.

+BONUS

Tayangan selengkapnya:

Buku: Empat Jenis Konsumen Muslim Zaman Now

melekberita.com – Data Bank Dunia menunjukkan sebagai negara terbesar di Asia Tenggara, Indonesia telah memperlihatkan pertumbuhan ekonomi yang sangat baik sejak krisis finansial Asia di akhir 1990an. PDB Indonesia terus meningkat, dari $857 pada tahun 2000 menjadi $3.603 pada 2016.

Jumlah kelas menengah Indonesia juga terus tumbuh, dari nol persen penduduk pada tahun 1999 menjadi 6,5 persen pada 2011 atau setara dengan lebih dari 130 juta orang. Pada tahun 2030, jumlah kelas menengah diperkirakan akan melesat menjadi 141 juta orang.

Saat ini Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, dengan ekonomi terbesar kesepuluh berdasarkan paritas daya beli, dan merupakan anggota G-20. Indonesia telah berhasil mengurangi kemiskinan lebih dari setengahnya sejak tahun 1999, menjadi 10,9% pada tahun 2016.

Dalam satu dekade terakhir, ekonomi Indonesia tumbuh rata-rata diatas 5,5%.

 

Sebagai negara mayoritas (85%) berpenduduk Islam, konsumen kelas menengah muslim di Indonesia berubah sangat cepat dan fundamental. Semakin meningkatnya kemakmuran mereka sebagai akibat keberhasilan pembangunan selama ini justru mendorong mereka semakin religius dan spiritual. “Makin makmur, makin pintar, makin religius.” Kalimat ini sangat pas menggambarkan pergeseran itu.

Lihat fenomena menarik berikut ini. Dalam beberapa tahun terakhir, “revolusi hijab” terjadi di Indonesia. Hijab menjadi tren gaya hidup (fesyen, kosmetik, asesoris) yang menjalar ke seluruh pelosok tanah air. Berhijab menjadi sesuatu yang cool, modern, trendy, techy dan begitu diminati. Hijab hadir di mana-mana. Di jalan-jalan, sekolah, kantor, mal, seminar, dan acara-acara TV.

Tidak hanya itu, dulu kaum muslim juga kurang begitu peduli dengan label makanan halal, kini mereka menjadi sangat peduli. Dulu kaum muslim kurang peduli dengan praktek riba dalam perbankan, kini mereka mulai peduli untuk menghindarinya.

Dalam buku yang berjudul Marketing to the Middle Class Moslem, Mas Yuswohady membagi konsumen muslim ke dalam empat sosok, yaitu: Apathist, Conformist, Rationalist, dan Universalist.

Apathis: “Emang Gue Pikirin?”

Sosok ini adalah tipe konsumen yang memiliki pengetahuan, wawasan dan seringkali tingkat kesejahteraan ekonomi yang masih rendah. Selain itu, konsumen ini memiliki tingkat kepatuhan dalam menjalankan nilai Islam yang juga rendah. Konsumen tipe ini umumnya tidak memiliki pemahaman yang cukup mengenai produk-produk berlabel Islam atau menawarkan value proposition yang Islami. Karena itu mereka tak begitu peduli apakah suatu produk bermuatan nilai-nilai keislaman ataupun tidak.

Rationalist: “Gue Dapat Apa?” 

Sosok ini adalah tipe konsumen yang memiliki pengetahuan tinggi, open-minded, dan wawasan global, tetapi memiliki tingkat kepatuhan pada nilai-nilai Islam yang masih rendah. Segmen ini sangat kritis dan pragmatis dalam melakukan pemilihan produk berdasarkan parameter kemanfaatannya. Namun dalam memutuskan pembelian, mereka cenderung mengesampingkan aspek-aspek ketaatan pada nilai-nilai Islam. Bagi mereka label Islam, value proposition syariah, atau kehalalan bukanlah menjadi konsideran penting dalam mengambil keputusan pembelian.

Conformist: “Pokoknya Harus Islam” 

Sosok ini adalah tipe konsumen muslim yang umumnya sangat taat beribadah dan menerapkan nilai-nilai Islam secara normatif. Karena keterbatasan wawasan dan sikap yang konservatif/tradisional, sosok konsumen ini cenderung kurang membuka diri (less open-mindedless inclusive) terhadap nilai-nilai di luar Islam khususnya nilai-nilai Barat. Untuk mempermudah pengambilan keputusan, mereka memilih produk-produk yang berlabel Islam atau yang di-“endorsed” oleh otoritas Islam atau tokoh Islam panutan.

Universalist: “Islami Itu Lebih Penting”

Sosok konsumen muslim ini di satu sisi memiliki pengetahuan/wawasan luas, pola pikir global, dan melek teknologi; di sisi lain juga secara teguh menjalankan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Mereka memahami dan menerapkan nilai-nilai Islam secara substantif, bukan normatif. Mereka lebih mau menerima perbedaan dan cenderung menjunjung tinggi nilai-nilai yang bersifat universal. Mereka biasanya tidak malu untuk berbeda, tetapi di sisi lain mereka cenderung menerima perbedaan orang lain. Singkatnya mereka adalah sosok yang open-minded dan inkulsif terhadap nilai-nilai di luar Islam.

Setelah mengetahui tipe-tipe konsumen muslim serta melihat perubahan besar yang terjadi pada konsumen kelas menengah muslim di Indonesia, pertanyaan besar muncul di kalangan pemasar: bagaimana mereka harus merespons? Apa saja strategi dan taktik ampuh yang harus dijalankan? Anda bisa baca lebih dalam di buku: Marketing to the Middle Class Moslem, Yuswohady.

Paijo: Kenapa Impor Sembako

katasimbah.com – Beberapa tahun yang lalu, pada suatu pagi di sebuah desa yang terletak di lereng gunung, Paijo terlibat obrolan yang serius tapi santai dengan Simbah. Saat itu Paijo sedang heran melihat kondisi negerinya yang tidak semandiri dulu. Khususnya bidang pangan.

“Mbah, tahu enggak, masak sekarang garam saja kita mesti ‎impor,” kata Paijo.

“Oya?” ‎kata Simbah.

“Tidak hanya garam lho mbah tapi juga beras, bawang merah, bawang putih, jagung, singkong, cabai dan sembako lainnya,” kata Paijo.

“Terus?” kata Simbah.

“Berarti kita gak berdaya dong mbah. Masak menanam padi, jagung, singkong saja gak bisa. Pantai kita sebagai negara di benua maritim kan panjang sekali, masak bikin garam juga ga bisa? Belum lagi soal daging, masak ternak sapi juga gak bisa?” kata Paijo berapi-api.

Jalur Sol Sepatu

katasimbah.com “Soooool sepatu,” kata seorang bapak. Suaranya saya dengar dari teras. Singkat, bernada, terukur, mantab dan enak di telinga.

Yang mendengarkan, tanpa perlu penjelasan, paham betul tafsir dari suara tersebut. Ya, Anda tepat sekali. Jasa ‘penyolan’ (pe + sol + an) sepatu, termasuk sandal.

Di sinilah sebuah tanda itu ditafsirkan tunggal. Tidak ada tafsir lain. Telah terjadi mufakat meski tanpa musyawarah. Baik lokal pun nasional.

Ada Makna Dibalik Tanda

katasimbah.com Bahasa adalah salah satu puncak penemuan (pemberian) tertinggi makhluk hidup dari golongan mamalia, omnivora dan berakal. Makhluk hidup yang menempati puncak piramida rantai makanan. Makhluk hidup ini bernama manusia.

Dengan bahasa, sebuah ide atau gagasan bisa ditransfer dari makhluk yang satu ke yang lainnya. Sehingga yang lain bisa paham dan memahami.

Agar mudah dipahami, ada kalanya bahasa ini harus dikodekan terlebih dulu menjadi tanda. Setelah itu baru dikirim dan digandakan.

Jangan Bawa Tuhan

Katamu
Jangan bawa-bawa Tuhan dalam kampanye

Katamu
Jangan bawa-bawa Tuhan dalam politik

Katamu
Jangan bawa-bawa Tuhan dalam bisnis

Katamu
Jangan bawa-bawa Tuhan dalam medsos

Kawan, izinkan aku bertanya
Ketika Tuhan tidak kamu bawa, Tuhan kamu tinggal di mana?

Djakarta, 7/5/2017 12:37
@DPSasongko

Identitas

0

Di ibu kota ada kontestasi
Para kontestan berebut persepsi

Politik identitas kembali diapungkan
Katanya rawan dan sebaiknya jangan dimainkan

Sebab bisa merobek tenun kebangsaan
Intoleran dan anti kebhinekaan

Aku bertanya kepada mereka agar jelas
Apa itu politik identitas?

Katanya memainkan suku agama ras antargolongan
Bukan lagi adu program dan gagasan

Aku mengangguk
Antara paham dan mengantuk

Keesokan harinya
Rasa penasaranku kembali menyerua

Aku bertanya kepada gugel biar makin cerdas
Apa itu identitas?

Kata gugel tidak hanya sara
Tetapi juga gender, orientasi seksual, tingkat pendidikan, status ekonomi, bahkan hingga gaya bercelana

Aku semakin bingung
Rasa penasaranku kian menggunung

Aku bertanya kepada simbah
Apa itu identitas?

Kata simbah tadi pagi
Hanya mayat yang bisa diidentifikasi

Djakarta, 29-4-2017 9:37
@DPSasongko

Gema Pilkada

0

Pilkada telah terlaksana
Gemanya masih ada

Suara pro-kontra yang terus menyala
Terdengar di mana-mana

Di gang dan jalan raya
Di desa juga kota

Di golongan muda dan tua
Di dunia nyata pun maya

Sahabat citizen dan netizen
Semoga kita tak lupa komitmen

Katanya siap menang siap kalah
Dan menjaga persatuan tanpa kenal lelah

Izinkan sekali lagi saya bertanya
Kepada Anda semua

Sampai kapan kegaduhan ini kawan
Apakah kita tiada bosan

Ataukah ini memang pelanggengan
Sebagai ajang pemanasan

Pesta rakyat lima tahunan
Yang akan digelar dua tahun ke depan

Djakarta, 24-4-2017 10:10
@DPSasongko

Seni untuk Siapa

0

Aku bertanya kepada mereka
Seni itu untuk siapa?
Mereka berpedapat
Seni harus untuk seni itu sendiri

Aku bertanya kepada mereka
Seni itu untuk siapa?
Mereka berpedapat
Seni harus untuk rakyat

Aku bertanya kepada mereka
Seni itu untuk siapa?
Mereka berpedapat
Seni harus untuk Tuhan Yang Maha Esa

Sekarang
Aku bertanya kepadamu
Seni itu untuk siapa?
Bagaimana jawabanmu?

© DPS

Jakarta, 22-4-2017 18:36

#melekpuisi