Home Blog Page 3

Hari Pembebasan: Era Baru Lokalisasi?

Awal tahun 2000 an, saya banyak terekspos ide globalisasi. Bahkan saat itu, saya cukup produktif menulis tentang ini. Mulai dari ranah publik hingga ranah privat sekaligus.

Seperti bagaimana mekanisme pasar, perdagangan bebas, perkembangan teknologi informasi, selera makan, berpakaian, film, olahraga, sampai urusan pemberian nama anak, bahkan urusan ranjang sekalipun, kita semua tak lepas, dicekoki oleh ide globalisasi.

Di mana, di sana ada hegemoni, penyeragaman, dan standarisasi.

Sehingga kalau Anda pergi ke New York dan Free York (baca priok), Anda tidak akan merasakan gap yang besar dalam hal selera makan misalnya. Karena di sana sama-sama ada McD, KFC, Starbucks. The world is flat.

Di sudut lain, kesatuan rantai pasok global, juga membuat negara-negara di dunia ini bekerja sama dan saling ketergantungan. Seperti pembuatan komputer dan laptop HP, Dell, Lenovo (US) yang chipnya di buat di Taiwan; sepatu Adidas dan Nike yang dibuat di Tangerang, Indonesia, dan lain sebagainya.

Abrakadabra, bak sulap, kita terhipnotis masal. Kita tunduk, takluk, dan menerima begitu saja ide itu.

Ada yang melawan sih. Tapi itu jumlahnya ga banyak, hanya sebagian kecil. Ibaratnya seperti riak di antara gelombang samudera. Ia terhempas begitu saja dan menjadi buih.

Wal hasil, dalam 10, 20, 30 tahun kemudian dunia berubah. Banyak negara yang tumbuh dan berkembang seperti Amerika. Termasuk desa saya, di Wlingi, Blitar, Jawa Timur. Desa agraris yang mulai ramai dengan perdagangan.

Hari Pembebasan dan Era Lokalisasi

Rabu, 2 April 2025, Presiden AS Donald Trump mengumumkan “Hari Pembebasan” atau Liberation Day di White House Rose Garden dalam acara formal bertajuk “Make America Wealth Again”.

Dengan kebijakan baru itu, Trump menerapkan bea masuk hampir ke semua negara untuk barang-barang yang masuk ke AS.

Duar! Bak petir di siang bolong. Dunia kaget dengan kebijakan ini. Mereka mencermati dan merespon situasi tersebut dengan berbagai strategi khas negara masing-masing. Ada yang bernegosiasi, wait and see, bahkan ada yang membalasnya.

Di tanah air, dalam acara Sarasehan Ekonomi bersama Presiden RI di Jakarta, Kamis (9/4/2025), Bu Sri Mulyani mengatakan:

“Tarif resiprokal yang disampaikan oleh
Amerika terhadap 60 negara menggambarkan cara penghitungan tarif
tersebut, yang saya rasa semua ekonom yang sudah belajar ekonomi tidak bisa
memahami. Jadi ini juga sudah tidak berlaku lagi ilmu ekonomi. Yang penting pokoknya tarif duluan karena tujuannya
adalah menutup defisit. Tidak ada ilmu ekonominya di situ. Menutup defisit itu artinya saya tidak ingin tergantung atau beli kepada orang lain lebih banyak dari apa yang saya bisa jual kepada orang lain. ltu is purely transactional. Enggak ada landasan ilmu ekonominya.”

Apakah hari pembebasan ini sebagai pertanda perubahan zaman, dari era globalisasi ke lokalisasi?

Salam lokalisasi.

(DPS)

Jakarta, 12 April 2025 10:28

#melekberita
#sruvuts

*Image by Pete Linforth from Pixabay

Sepak Bola: antara Permainan dan Pertandingan

Sepakbola antara permainan dan pertandingan. Apa maksudnya? Bedanya apa? Sebagai sebuah permainan, sepakbola bersifat rekreatif. Sedangkan sebagai sebuah pertandingan, sepakbola bersifat kompetitif.

Di dalam permainan sepakbola, ada dua hal utama yang menjadi dasar untuk menentukan permainan sebuah tim. Dua dasar ini menjadi penentu, apakah sebuah tim itu bagus atau tidak. Kedua hal dasar tersebut yaitu: penguasaan bola (possession) dan tendangan (shots).

Jika dibedah ke dalam teknis operasional, kedua hal pokok di atas meliputi: tendangan ke teman/umpan (passing), akurasi umpan (passing acuracy), tendangan ke gawang (shots on target), mempertahankan/merebut (defend/attack), pergerakan tanpa bola (positioning), pelanggaran (fouls), dan lainnya.

Tim yang bagus, harus memiliki skor yang bagus atas semua indikator di atas.

Skor yang bagus ini tidak ujug-ujug datang dari langit. Ia butuh latihan, latihan, dan latihan. Kawah Candradimuka, di sinilah sebuah proses panjang yang melelahkan itu ditempuh. Proses yang tidak selalu mulus. Ada kalanya penuh onak, duri, dan juga drama.

Di dalam latihan, kita mengenal strategi, taktik, dan juga formasi. Di sinilah semua indikator di atas dipraktekkan dan dievaluasi. Sepakbola menjadi rumit dan komplikatif.

Bagaimana sepakbola menjadi sebuah pertandingan?

Sebagai sebuah pertandingan, sepakbola hanya mengenal satu mahzab, yaitu: kemenangan. Kata ini adalah kunci dari kunci, core of the core. Tim yang bagus berpotensi besar mengantarkan Anda memenangkan permainan, tidak pertandingan.

Bagaimana memenangkan sebuah pertandingan? Ada banyak cara. Saya hanya akan menjelaskan dua cara saja. Yang pertama versi Machester United, dan yang kedua versi Machester City.

Apa itu?

Begini ceritanya. Untuk membentuk tim yang bagus seperti Manchester United (dulu), Anda harus membina pesepakbola dari dini. Anda membangun akademi dan memberikan lingkungan yang sehat untuk tumbuh kembang pemain.

Sedangkan untuk membangun klub yang bagus seperti Manchester City, lebih sederhana. Anda hanya perlu menyiapkan uang untuk membeli pemain yang berkualitas tinggi tahan kompetisi.

Baca juga: Duit Bicara Manchester City

Permainan dan pertandingan bisa berjalan seiring sejalan menemani sepakbola. Keduanya tidak untuk saling meniadakan, tetapi untuk saling melengkapi.

Namun, di dalam sebuah kompetisi, permainan bagus tetapi kalah di dalam pertandingan, buat apa?

Salam

(DPS)

Jakarta, Rabu Pahing (26/03/2025) 13:10

#melekberita
#sruvuts

Image by Łukasz Wyrwik from Pixabay

Insecure dan Overthinking: Dua Sisi Mata Uang yang Sama

Apa itu insecure dan overthinking? Dewasa ini, kedua topik tersebut sering kali diperbincangkan di kalangan warganet dan GenZ. Apakah kedua masalah itu berbahaya? Bagaimana mengatasinya? Itulah beberapa pertanyaan GenZ yang cukup menjadi perhatian.

Pernahkah Anda merasa tidak aman dengan diri sendiri, selalu membandingkan diri dengan orang lain, atau merasa khawatir berlebihan tentang apa yang orang lain pikirkan? Jika ya, Anda mungkin tidak asing dengan istilah insecure dan overthinking. Keduanya seringkali berjalan beriringan dan dapat memengaruhi kesehatan mental serta kualitas hidup seseorang.

Apa itu Insecure?

Insecure adalah perasaan tidak aman, tidak percaya diri, dan merasa tidak berharga. Orang yang insecure seringkali merasa takut ditolak, dikritik, atau tidak diterima oleh lingkungan. Perasaan ini bisa muncul karena berbagai faktor, seperti pengalaman masa lalu yang traumatis, perbandingan sosial, atau tekanan dari lingkungan.

Apa itu Overthinking?

Overthinking adalah kebiasaan berpikir berlebihan dan terus-menerus tentang sesuatu, bahkan hal-hal kecil. Orang yang overthinking seringkali terjebak dalam pikiran negatif, khawatir tentang masa depan, atau menyesali masa lalu. Kebiasaan ini dapat mengganggu konsentrasi, menyebabkan stres, dan bahkan depresi.

Hubungan Antara Insecure dan Overthinking

Insecure dan overthinking memiliki kaitan yang erat. Perasaan insecure dapat memicu overthinking karena orang yang merasa tidak aman cenderung lebih khawatir tentang apa yang orang lain pikirkan tentang mereka. Mereka juga lebih mungkin untuk meragukan kemampuan diri sendiri dan terus-menerus memikirkan kesalahan atau kekurangan mereka.

Sebaliknya, overthinking juga dapat memperburuk perasaan insecure. Terlalu banyak berpikir tentang kekurangan diri sendiri atau apa yang mungkin terjadi di masa depan dapat membuat seseorang merasa semakin tidak aman dan tidak percaya diri.

Dampak Negatif Insecure dan Overthinking

Keduanya dapat memiliki dampak negatif yang signifikan pada kehidupan seseorang. Beberapa di antaranya adalah:

  • Masalah Kesehatan Mental: Insecure dan overthinking dapat meningkatkan risiko gangguan kecemasan, depresi, dan stres kronis.
  • Hubungan yang Tidak Sehat: Orang yang insecure mungkin sulit membangun hubungan yang sehat dan langgeng karena mereka selalu merasa tidak cukup.
  • Performa Kerja atau Akademik Menurun: Overthinking dapat mengganggu konsentrasi dan fokus, yang pada akhirnya dapat menurunkan performa kerja atau akademik.
  • Kualitas Hidup Menurun: Keduanya dapat membuat seseorang merasa tidak bahagia dan tidak puas dengan hidupnya.

Cara Mengatasi Insecure dan Overthinking

Mengatasi keduanya membutuhkan waktu dan usaha, tetapi ada beberapa cara yang bisa Anda coba:

  • Identifikasi Penyebabnya: Cobalah untuk mengidentifikasi apa yang memicu perasaan insecure dan overthinking Anda. Apakah ada pengalaman masa lalu yang traumatis, perbandingan sosial, atau tekanan dari lingkungan?
  • Terima Diri Sendiri: Belajarlah untuk menerima diri sendiri apa adanya, termasuk kelebihan dan kekurangan Anda. Ingatlah bahwa tidak ada manusia yang sempurna.
  • Fokus pada Kekuatan Anda: Alihkan fokus Anda dari kekurangan pada kekuatan dan kelebihan Anda. Ingatlah semua hal baik yang telah Anda lakukan dan capai.
  • Berpikir Positif: Cobalah untuk mengganti pikiran negatif dengan pikiran positif. Ingatlah bahwa pikiran negatif tidak selalu benar.
  • Berbicara dengan Seseorang: Bicaralah dengan seseorang yang Anda percaya, seperti teman, keluarga, atau profesional kesehatan mental. Mereka dapat memberikan dukungan dan saran yang berharga.
  • Cari Bantuan Profesional: Jika Anda merasa kesulitan mengatasi insecure dan overthinking sendiri, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional dari psikolog atau psikiater.

Kesimpulan

Insecure dan overthinking adalah masalah umum yang dapat memengaruhi siapa saja. Keduanya memiliki kaitan yang erat dan dapat memiliki dampak negatif pada kesehatan mental dan kualitas hidup. Namun, dengan identifikasi penyebabnya, menerima diri sendiri, dan mencari bantuan jika diperlukan, Anda dapat belajar untuk mengatasi keduanya dan hidup yang lebih bahagia dan sehat.

(ADS)

Image by Mohamed Hassan from Pixabay

Spekulasi dan Bisnis

Dalam perjalanan ke Barat, Bejo bertemu dengan Simbah Wiseruh. Kali ini, ia mendapat pelajaran hikmah tentang spekulasi dan bisnis. Dua hal pokok yang sering kali membuat orang salah kaprah dan gagal paham. Spekulasi lebih banyak mengandung unsur taruhan. Sedangkan bisnis lebih besar unsur kepastiannya.

Apa itu maksudnya itu? Begini ceritanya:

Jo, kalau ada orang jual HP satu juta. Lalu dengan pengetahuanmu, kamu percaya bahwa HP itu bisa laku 1 juta 300 ribu. Kamu mau beli HP itu? tanya Mbah Wiseruh.

Mau guru, jawab Bejo ringan.

Lalu setelah kamu beli, ternyata enggak ada orang yang mau membeli HP itu dengan harga 1 juta 300 ribu. Mereka hanya mau membeli seharga 500 ribu, 600 ribu, atau paling pol 750 ribu. Ini namanya spekulasi. Di sini, kamu bergantung kepada pengetahuanmu. Kamu bertaruh kepada ketidakpastian, kata Mbah Wiseruh.

Bajo ndlongop. Ia ngangguk-ngangguk.

Mbah Wiseruh kemudian melanjutkan dengan kisah lain. Cerita lainnya begini Jo. Ada orang jual HP satu juta. Dengan ilmumu, kamu yakin bahwa HP itu bisa laku 1 juta 300 ribu. Kamu membeli HP itu. Setelah itu, ternyata orang berbondong-bondong menawar HP tersebut. Ada yang menawar 900 ribu, satu juta, bahkan ada yang mau dua juta. Di sinilah kamu bisnis. Kamu menyandarkan kepada ilmu. Unsur kepastiannya lebih besar.

Bagaimana? Sekarang, kamu sudah tahu bedanya Jo? Antara pengetahuan dan ilmu? Antara spekulasi dan bisnis?

Pengetahuan itu, ia masih belum teruji kebenaran dan kepastiannya. Namun tidak dengan ilmu. Kalau ilmu, ia sudah teruji. Orang sering salah kaprah di sini. Mereka baru punya pengetahuannya tetapi ia sudah merasa berilmu.

Bejo ngangguk-ngangguk. Tapi kali ini batinnya bergejolak. Ada semacam uneg-uneg yang ingin ia sampaikan.

Tapi Mbah, bukankah ilmu itu butuh pengetahuan lebih dulu? tanya Bejo.

Betul. Pengetahuan adalah salah satu dasar dari ilmu. Tetapi pengetahuan saja tidak cukup. Di sinilah pentingnya satu jembatan yang disebut praktek atau amal. Pendek kata, ilmu adalah pengetahuan yang dipraktekkan, diamalkan. Pengetahuan itu sebatas kamu mengenal bumbu-bumbuan, seperti: jahe, kencur, bawang, cabe, merica dan seterusnya. Sedangkan ilmu bicara lebih dalam. Dengan bumbu tersebut, kamu bisa masak soto, bakso, nasi goreng, dan lain sebagainya. Itu ilmu.

Pada dimensi ini, ada dinamika di dalamnya. Ada problematikanya tersendiri. Ada metodologi, dan ada juga peran hawa nafsu dalam pengamalannya. Apa dan bagaimana itu, lain kali aku jelaskan.

Bejo mengangguk. Ia paham. Tak terasa, hari sudah larut. Kopi disampingnya sudah dingin. Ia sruput kopi itu dengan nikmat. Sruvuts.

Salam

(ADS)

Kemayoran, Jakarta, 19/1/2024 22:50

#melekberita
#sruvuts

Image by Joachim Schnürle from Pixabay

Candu Belanja Online

Candu belanja online. Transaksi online dalam beberapa tahun semakin besar. Benarkah saya, Anda, dan kita telah kecanduan belanja online?

Total Gross Merchandise Value (GMV) TikTok Shop di Indonesia jadi salah satu yang terbesar di dunia. Tercatat nilainya mencapai US$6,198 miliar atau mencapai Rp 100,3 triliun.

Laporan tersebut berasal dari firma analitik data perdagangan video Tabcut.com. GMV Indonesia mengalami pertumbuhan 39% per tahunnya. Seperti yang dilaporkan CNBC Indonesia.

Belanja online, meski tidak cash and carry seperti belanja offline, namun ia telah memberikan pengalaman lain. Pengalaman unik yang belum pernah ada sebelumnya.

Pengalaman Unik Belanja Online

Setidaknya ada tiga pengalaman unik saat saya belanja online. Pertama adalah terkait waktu menunggu. Kedua soal harga. Dan ketiga yaitu pilihan barang.

Waktu menunggu menjadi semacam pengharapan di tengah rutinitas hidup sehari-hari yang sesak dengan hiruk pikuk, penuh kesuntukan dan problematika kehidupan.

Unsur kejut saat belanja online bisa menghasilkan kegembiraan sesaat. Cheap dophamine, hormon kegembiraan yang mudah. Jika tak dikelola dengan baik, ia akan menjadi candu. Efeknya, saya mau lagi, mau lagi.

Selain itu, ketika menunggu, saya seperti menanti teka-teki berhadiah. Kapan barang datang? Apakah barang sesuai ekspektasi, di bawah ekspektasi, atau melebihi ekspektasi? Semua itu ialah aneka pertanyaan yang menarik untuk lekas mencari jawabnya.

Hal yang kedua adalah harga. Harga belanja online lebih terbuka. Saya dengan mudah bisa membandingkan harga antar toko. Cukup dengan tap-tap jempol sekian detik/menit, saya sudah menemukan harga murah.

Entah kenapa, selama ini, pengalaman belanja saya, harga di online selalu lebih murah dibanding offline. Bahkan selisihnya bisa sampai ratusan ribu. Seperti pas musim promo, misal: 11.11 atau 12.12.

Dan terakhir adalah pilihan barang. Belanja online memudahkan saya dalam memilih barang. Aneka produk lekas tersaji di depan layar HP. Dalam sekilas saya bisa melihat 2, 3, 4 barang sekaligus.

Inilah salah satu keunggulan belanja online.

Bayangkan kalau saya harus membuka rak baju di toko satu persatu untuk mencari desain yang sesuai selera. Sudah lama dan biasanya belum tentu nemu barang yang diinginkan.

Belum lagi ketika belanja offline, saya mesti ada effort ke lokasi, mencari parkir, macet di jalan, kehujanan, plus ditambah ban bocor. Lengkap sudah.

Kesimpulan

Belanja online bisa menghasilkan kegembiraan sesaat. Jika tidak dikelola dengan baik, ia akan menjadi candu. Waktu, harga, dan pilihan barang adalah tiga kenikmatan dalam belanja online.

Pengalaman belanja unik, yang belum pernah ada sebelumnya telah merevolusi mental kita. Ia mengubah perilaku kita dalam jual-beli.

Bagaimana? Apakah Anda pernah belanja online? Seberapa sering?

Misi, paket. Tetiba sayup-sayup terdengar dari depan rumah. Saya mesti akhiri tulisan ini dan bergegas menghampiri pengantar paket.

Salam paket.

(DPS)

Jakarta, 11/1/2025 5:59

#melekide
#melekberita
#sruvuts

 

Jumat Berkah

Jumat Berkah adalah hari Jumat yang didedikasikan untuk memperbanyak ibadah, kebaikan, dan doa. Hari Jumat juga merupakan hari yang baik untuk bersedekah.

Pedagang kaki lima, mie ayam menyediakan porsi jumat berkah berbanderol 10 ribu di daerah Percetakan Negara, Jakarta, Jumat (10/1/2025). Harga normal adalah 13 ribu. Berarti ada selisih 3 ribu.

Membaca tulisan itu, jujurly, saya malu pada diri sendiri. Mereka yang jauh dari kata berlebih dalam materi, terkadang malah berlebih dalam bab sedekah.

Saya pernah beli ketoprak. Satu porsi 18 ribu pakai telor. Saya bayar dengan uang 50 ribu. Abangnya tak punya kembalian. Ia bilang: “Bawa saja dulu. Bayar besok saja.”

Bagaimana kalau besok saya ga bayar? Ia kan rugi satu porsi. Uang 18 ribunya, ada pada saya. Kenapa tidak uang 50 ribu itu yang saya titipkan ke dia. Di sinilah, saya kalah 1-0.

Di tempat lain, saya juga pernah beli bubur ayam. Satu porsi harganya 12 ribu dengan sate. Saya bayar 15 ribu. Abangnya tidak punya kembalian pas. Ia kasih kembalian 4 ribu. Dua ribuan dua.

Saya bilang, lebih seribu ini bang.
Udah gak papa, kata abangnya.

Saya terima kembalian itu. Dan jujurly, di situlah saya kalah, 1-0 lagi. Kenapa tadi tidak kembali dua ribu saja. Jadi saya yang lebih bayar seribu.

Cerita di atas hanya contoh kecil. Saya lazim mengalami hal yang seperti itu saat berinterkasi dengan pedagang kaki lima. Dan saya sering kalah. Saya dibuat malu berkali-kali.

Hal di atas juga memberikan pelajaran hidup bagi saya. Memberilah. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah, kata guru ngaji saya dulu.

Bagaimana temans? Apakah Anda pernah mengalami cerita yang sama?

Salam sama.

(DPS)

Kemayoran, Jakarta, 11/1/2025 12:44

#melekcerita
#melekberita
#sruvuts

Ada apa di Tahun Baru

Ada apa di tahun baru? Apa hal penting yang bisa dilakukan saat perayaan tahun baru? Pesta kembang api? Nonton konser? Bakar ikan? Menginap di hotel? Karaoke? Mendaki gunung? Kemah? Muhasabah?

Dari pertanyaan di atas, jelas ada banyak hal yang bisa Anda lakukan untuk merayakan semarak tahun baru. Anda tinggal pilah dan pilih saja. Sesuaikan dengan keinginan dan tentu isi dompet Anda.

Tahun Baru antara Waktu dan Anda

Menurut saya, ada dua hal penting yang bisa Anda lakukan untuk merayakan tahun baru, yaitu: mencocokkan jam dan menjadi pribadi baru yang lebih baik.

Pilihan pertama mudah dilakukan. Tidak seperti dulu ketika zaman manual. Saat semuanya masih serba analog. Belum terintegrasi dan tersinkronisasi seperti saat ini. Sehingga perlu kalibrasi termasuk soal waktu.

Dengan kecanggihan teknologi, sekarang hal di atas sudah mudah. Anda tinggal atur saja, jam di telepon genggam mengikuti waktu jaringan. Dalam hitungan detik, jam Anda akan tersinkronisasi dengan waktu global.

Pilihan kedua, yaitu menjadi pribadi baru yang lebih baik adalah hal tidak mudah. Di sini Anda perlu kalibrasi sepanjang waktu. Seumur hidup.

Jalan panjang yang penuh pembelajaran. Kadang jalan terjal berliku. Penuh onak dan duri. Kadang naik, kadang turun. Tetapi ada kalanya, jalan juga lurus, mulus, dan halus.

Semua dipergilirkan seperti siang dan malam. Gelap itu tidak selamanya. Demikian juga dengan terang. Termasuk tawa dan tangis. Pun suka dan duka. Semua ada waktunya.

Solusi menjadi Pribadi Baru

Ada beberapa hal, yang perlu diperhatikan untuk menjadi pribadi baru. Pribadi yang lebih baik.

Pertama adalah soal lawan. Anda akan berlomba dengan diri sendiri. Di sini Anda membandingkan diri Anda yang lalu, sekarang, dan yang akan datang. Apakah hari ini, saya lebih baik dari kemarin?

Kedua, terkait jalur edar (orbit). Anda memiliki orbit Anda sendiri. Orang lain juga. Masing-masing berjalan pada orbitnya. Fokuslah pada jalur edar Anda. Tak perlu kepo orbit orang lain.

Terakhir atau ketiga adalah soal waktu. Semua ada waktunya. Dan waktunya ada semua. Tak perlu ngoyo. Nerimo ing pandum. Tetapi tetap ikhtiar dan tawakal.

Kesimpulan

Ada apa di tahun baru? Banyak hal yang bisa Anda lakukan untuk merayakan tahun baru. Diantaranya ada dua hal, yaitu mencocokkan waktu dan menjadi pribadi baru yang lebih baik.

Tak perlu iri, dengki, sirik dengan orang lain. Kok dia sudah begini begitu sedangkan aku masih begini begitu saja. Kok dia punya ini itu sedangkan aku hanya punya itu ini saja.

Ingat, Anda hanya berlomba dengan diri sendiri. Setiap orang punya jalur edar dan waktunya. Fokuslah pada orbit, waktu, dan Anda sendiri. Wong kok ngene kok dibanding-bandingke?

Selamat jalan 2024, selamat datang 2025. Tahun 2024 sudah hilang. Ia tinggal kenangan. Tahun 2025 sedang berjalan. Waktu untuk membuat perbaikan.

Bagaimana?

Salam

(©️ DPS)

Kemayoran, Jakarta, Rabu Pon (1/1/2025) 19:36

#melekide
#melekberita
#sruvuts

Image by Gerd Altmann from Pixabay

Apa Investasi Terbaik

“Apa investasi terbaik?” tanya seorang kawan dalam sebuah obrolan santai beberapa hari yang lalu. Investasi yang paling menguntungkan. Investasi yang bisa mengalahkan inflasi. Apakah ada? Kalau ada apa itu?

Pertanyaan singkat, yang bertubi-tubi. Dalam suasana cair, kadang pertanyaan sepele seperti itu memantik ide-ide segar. Dan menghasilkan obrolan yang gayeng.

Saya jelas tak punya kapasitas untuk menghakimi pun menggurui terkait bab investasi. Jujurly saya awam.

Di momen seperti itu, kita hanya tukar tambah ide saja. Kita butuh opini yang lain untuk mengadu gagasan. Dan hal ini cukup nyaman. Masing-masing ambil yang baik, dan tinggalkan yang buruk. Menurut versi sendiri-sendiri.

Emas, obligasi, saham, dan properti. Mungkin kripto? Semua itu bisa mengalahkan inflasi. Jawab saya, ringkas.

Kuncinya di sini hanya satu, yaitu waktu. Waktu jual, nilainya harus lebih besar dari waktu beli.

Hahaha, iya ya betul. Saya paham. Tapi semua itu masuk obyek pajak. Teman saya ketawa ngakak.

Iya sih. Tapi kan tidak 12%. Hahaha, ganti saya yang ngakak.

Investasi terbaik

Tetiba saya ingat panutan para investor, Warren Buffett. Apa investasi terbaik menurut dia?

“Investasi terbaik sejauh ini adalah apa pun yang mengembangkan diri Anda, dan … tidak dikenakan pajak,” kata Warren Buffett dalam pertemuan tahunan Berkshire Hathaway pada 2022, seperti dikutip Kontan.

Kalau kata Tung Desem Waringin, investasi yang paling menguntungkan adalah investasi ilmu pengetahuan yang dipraktekkan. Investasi leher ke atas.

Kami tertawa ngakak bersama. Suasana mengalir begitu saja. Tidak ada kesimpulan apa-apa dari obrolan ringan itu. Semua hanya saling melepas dan menyerap energi saja.

Bagaimana? Apa investasi terbaik menurut Anda?

Salam

(©ADS)

Kemayoran, Jakarta, Jumat Pon (27/12/2024) 10:13

#melekduit
#melekide
#melekberita

*Image by Tumisu from Pixabay

Apa itu Fatherless: Dampaknya pada Anak dan Masyarakat

Apa itu fatherless? Fenomena fatherless atau ketiadaan figur ayah dalam kehidupan anak telah menjadi salah satu isu sosial yang semakin banyak dibicarakan. Istilah ini merujuk pada situasi di mana seorang anak tumbuh tanpa kehadiran ayah, baik secara fisik, emosional, maupun finansial.

Ketidakhadiran ayah dapat terjadi karena berbagai alasan, seperti: perceraian, kematian, pekerjaan yang terlalu menyita waktu, atau bahkan ketidakinginan ayah untuk bertanggung jawab.

Artikel ini akan membahas pengertian fatherless, penyebab, dampak terhadap perkembangan anak, serta solusi untuk memitigasi efek negatifnya.


Apa Itu Fatherless?

Fatherless merujuk pada kondisi di mana seorang anak tumbuh tanpa kehadiran seorang ayah yang berfungsi sebagai figur orang tua. Kehadiran ayah tidak hanya penting untuk memenuhi kebutuhan material anak, tetapi juga untuk memberikan dukungan emosional, pembentukan karakter, dan teladan dalam kehidupan.

Menurut penelitian, ayah memiliki peran signifikan dalam perkembangan psikologis dan sosial anak. Namun, ketika peran ini tidak terpenuhi, anak mungkin menghadapi berbagai tantangan di berbagai aspek kehidupannya.


Penyebab Fenomena Fatherless

  1. Perceraian atau Perpisahan Orang Tua
    Salah satu penyebab utama adalah perceraian, yang sering kali mengakibatkan anak tinggal hanya dengan ibu.
  2. Ayah yang Tidak Bertanggung Jawab
    Beberapa ayah memilih untuk meninggalkan keluarga mereka dan mengabaikan tanggung jawab sebagai orang tua.
  3. Kematian Ayah
    Kehilangan ayah karena kematian juga dapat membuat anak menjadi fatherless, meskipun konteksnya berbeda dengan ketidakhadiran karena pilihan.
  4. Kehadiran yang Tidak Aktif
    Meski hadir secara fisik, seorang ayah yang terlalu sibuk dengan pekerjaan atau tidak terlibat secara emosional juga bisa menciptakan efek fatherless.
  5. Pengaruh Sosial dan Ekonomi
    Kemiskinan, tekanan pekerjaan, atau masalah kesehatan mental dapat membuat seorang ayah tidak mampu memenuhi perannya.

Baca juga: Apa itu Willpower: Kekuatan untuk Menguasai Diri dan Meraih Impian

Dampak Fatherless pada Anak

1. Dampak Emosional dan Psikologis

  • Kehilangan Rasa Aman: Anak tanpa figur ayah sering merasa kurang terlindungi.
  • Stres dan Depresi: Ketidakhadiran ayah dapat memicu perasaan kesepian, stres, atau bahkan depresi.

2. Masalah Perilaku

  • Anak fatherless cenderung lebih rentan terhadap perilaku agresif, kenakalan remaja, atau penyalahgunaan narkoba.
  • Tingginya risiko terlibat dalam perilaku kriminal.

3. Gangguan dalam Prestasi Akademik

  • Anak tanpa figur ayah sering mengalami kesulitan konsentrasi di sekolah.
  • Kurangnya dukungan emosional dapat memengaruhi motivasi belajar.

4. Kesulitan Relasi Sosial

  • Anak fatherless mungkin mengalami kesulitan membangun hubungan interpersonal yang sehat.
  • Ketidakhadiran ayah dapat memengaruhi cara anak memandang dan membangun hubungan romantis di masa depan.

5. Ketidakstabilan Identitas Diri

  • Anak laki-laki sering kali kehilangan sosok teladan maskulin, sedangkan anak perempuan mungkin kesulitan memahami hubungan sehat dengan laki-laki.

Fatherless merujuk pada kondisi di mana seorang anak tumbuh tanpa kehadiran seorang ayah yang berfungsi sebagai figur orang tua.

Dampak Fatherless pada Masyarakat

Fenomena fatherless tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada struktur sosial secara keseluruhan:

  • Tingginya Tingkat Kriminalitas: Anak-anak tanpa bimbingan yang baik lebih cenderung terlibat dalam perilaku antisosial.
  • Beban Ekonomi: Keluarga tanpa ayah sering menghadapi kesulitan finansial, yang dapat berdampak pada tingginya angka kemiskinan.
  • Krisis Keluarga: Fenomena fatherless berkontribusi pada siklus disfungsi keluarga antar generasi.

Solusi untuk Mengatasi Efek Fatherless

1. Peran Ibu yang Kuat dan Dukungan Keluarga

  • Ibu yang menjadi orang tua tunggal dapat berperan sebagai pendidik sekaligus pembimbing.
  • Dukungan dari anggota keluarga lain, seperti kakek-nenek atau paman-bibi, sangat membantu anak mendapatkan figur pengganti ayah.

2. Keterlibatan Komunitas

  • Program mentoring atau pendampingan dari figur pria dewasa, seperti guru, pelatih olahraga, atau pemimpin komunitas, dapat memberikan bimbingan yang dibutuhkan.

3. Edukasi tentang Pentingnya Peran Ayah

  • Kampanye kesadaran untuk meningkatkan pemahaman tentang pentingnya peran ayah dalam keluarga.

4. Penyediaan Bantuan Psikologis

  • Terapi atau konseling bagi anak-anak fatherless untuk membantu mereka mengatasi dampak emosional dan psikologis.

5. Kebijakan yang Mendukung Keluarga

  • Pemerintah dapat menyediakan program dukungan bagi keluarga yang menghadapi tantangan menjadi orang tua tunggal, seperti bantuan finansial, pendidikan, atau program pengasuhan anak.

Kesimpulan

Fenomena fatherless adalah masalah yang kompleks dengan dampak luas pada anak dan masyarakat. Meskipun kehadiran seorang ayah tidak selalu menentukan kebahagiaan dan kesuksesan seorang anak, perannya sebagai figur pendukung emosional, pembimbing, dan pelindung sangat penting.

Dengan dukungan keluarga, komunitas, dan kebijakan yang tepat, anak-anak fatherless dapat mengatasi tantangan ini dan tumbuh menjadi individu yang kuat dan resilien. Investasi pada kesehatan keluarga dan kesadaran akan pentingnya peran ayah merupakan langkah penting menuju masyarakat yang lebih stabil dan sejahtera.

(ADS)

#melekbahasa
#melekberita

Image by Sasin Tipchai from Pixabay

Apa itu Willpower: Kekuatan untuk Menguasai Diri dan Meraih Impian

Apa itu willpower? Willpower atau kekuatan kehendak (tekad), adalah kemampuan untuk mengendalikan diri, bertahan dari godaan, dan tetap fokus pada tujuan yang ingin dicapai. Dalam kehidupan sehari-hari, willpower sering menjadi fondasi dari setiap keputusan besar dan kecil, membantu kita mengatasi hambatan dan menghadapi tantangan.

Apa Itu Willpower?

Willpower adalah kombinasi dari kekuatan mental, disiplin diri, dan kemampuan untuk mengendalikan emosi serta dorongan impulsif. Dalam psikologi, willpower dianggap sebagai keterampilan yang memungkinkan seseorang untuk menunda kepuasan demi tujuan jangka panjang.

Willpower melibatkan:

  1. Kontrol Diri: Mengelola tindakan dan respons secara sadar.
  2. Fokus: Tetap teguh pada prioritas utama meskipun ada gangguan.
  3. Ketahanan: Tidak menyerah saat menghadapi kesulitan atau kegagalan.

Mengapa Willpower Penting?

  1. Menggapai Tujuan Hidup
    Setiap impian membutuhkan usaha dan pengorbanan. Willpower membantu Anda tetap berada di jalur yang benar meskipun ada hambatan.
  2. Mengatasi Kebiasaan Buruk
    Dengan kemauan yang kuat, Anda dapat melawan kebiasaan buruk seperti merokok, konsumsi berlebih, atau menunda pekerjaan.
  3. Membangun Kebiasaan Positif
    Proses menciptakan kebiasaan baru, seperti berolahraga atau membaca, memerlukan konsistensi yang dipandu oleh willpower.
  4. Menghadapi Godaan
    Dalam kehidupan modern yang penuh dengan distraksi, seperti media sosial atau hiburan instan, willpower menjadi alat untuk tetap produktif dan disiplin.

Baca juga: Apa itu Femisida: Kejahatan Berbasis Gender

Cara Mengasah Willpower

Willpower adalah keterampilan yang bisa dilatih. Berikut adalah beberapa cara untuk memperkuatnya:

  1. Tetapkan Tujuan yang Realistis
    Pastikan tujuan Anda jelas, terukur, dan dapat dicapai. Tujuan yang terlalu besar tanpa perencanaan sering kali menguras kemauan Anda.
  2. Mulai dari Hal Kecil
    Uji kemauan Anda dengan langkah-langkah kecil, seperti bangun pagi 10 menit lebih awal atau mengurangi konsumsi gula sedikit demi sedikit.
  3. Kelola Energi Anda
    Tubuh dan pikiran yang lelah lebih sulit mengontrol dorongan. Pastikan Anda mendapatkan tidur cukup, makan dengan nutrisi seimbang, dan berolahraga.
  4. Ciptakan Lingkungan yang Mendukung
    Hilangkan godaan dari sekitar Anda. Misalnya, jika Anda ingin menabung, jauhi belanja impulsif dengan menghapus aplikasi belanja online.
  5. Gunakan Pengingat Visual
    Tempelkan catatan kecil di tempat yang sering Anda lihat untuk mengingatkan tujuan Anda. Misalnya, “Tetap Fokus!” di layar laptop.
  6. Berikan Hadiah pada Diri Sendiri
    Rayakan keberhasilan kecil Anda untuk menjaga motivasi dan memperkuat perilaku positif.

Willpower adalah kombinasi dari kekuatan mental, disiplin diri, dan kemampuan untuk mengendalikan emosi serta dorongan impulsif.

Tantangan dalam Menguatkan Willpower

Willpower bisa terkuras, terutama saat Anda menghadapi banyak tekanan, stres, atau godaan yang terus-menerus. Inilah yang disebut ego depletion. Namun, dengan istirahat yang cukup dan strategi pengelolaan stres, Anda dapat memulihkan kekuatan tersebut.

Kesimpulan

Willpower adalah kekuatan luar biasa yang dimiliki setiap individu. Dengan kemauan yang kuat, Anda dapat mengatasi rintangan, menciptakan perubahan positif, dan mencapai impian yang tampaknya mustahil. Ingatlah, willpower seperti otot: semakin sering Anda melatihnya, semakin kuat pula kekuatannya. Mulailah dari hal kecil, dan jadikan willpower senjata utama Anda dalam perjalanan menuju kesuksesan.

(© ADS)

Image by Myléne from Pixabay