Home Blog Page 2

Efek Kobra

0

Kemarin, Simbah Wiseruh bercerita tentang Efek Kobra. Apa itu? Begini ceritanya.

Alkisah, pada zaman dahulu kala, di sebuah desa yang adem ayem, wabah ular kobra menyerang pelosok desa. Di berbagai tempat banyak sekali berkeliaran ular kobra yang mematikan. Warga geger dan resah.

Pemerintah, dalam hal ini perangkat desa mulai memikirkan cara, bagaimana membasmi ular kobra tersebut.

Setelah melalui kajian strategis, akhirnya dikeluarkan kebijakan bahwa pemerintah akan membayar 1 perak (rupiah) per ular kepada setiap orang yang berhasil menangkap kobra.

Dalam setahun, kebijakan publik ini cukup berhasil. Populasi ular kobra berkurang secara signifikan. Warga senang.

Keadaan mulai seru ketika muncul Lek Paino. Dengan idenya yang di luar nurul, Lek Paino punya gagasan untuk beternak kobra secara diam-diam. Kalau saya punya seribu kobra maka saya bisa dapat seribu perak, lumayan, pikir Lek Paino.

Saat itu, harga sepiring nasi hanya 10 sen. Satu rupiah adalah 100 sen.

Langkah Lek Paino itu viral. Idenya diikuti oleh Kang Jumadi, Pak Dhe Agus, Asep, dan lainnya. Muncullah peternakan kobra di berbagai titik desa.

Pemerintah mengetahui situasi ini. Pemerintah mulai mengevaluasi kebijakannya terkait 1 rupiah per ular.

Tahun berikutnya, pemerintah mencabut kebijakan tersebut. Sejak saat itu, tak ada lagi 1 rupiah per ular.

Kang Paino dan kawan-kawan terkena langsung imbas kebijakan pemerintah yang baru itu. Ular kobranya sudah puluhan bahkan ratusan.

Mereka emosi. Dilepaskanlah ular-ular kobra itu ke alam. Dalam sekejap, populasi kobra naik drastis. Bahkan jadi lebih banyak dari kondisi sebelumnya. Sebelum ada kebijakan 1 rupiah per ular.

Peristiwa ini, kelak dinamakan Efek Kobra.

Demikian Le, terkadang kebijakan publik yang dimaksudkan untuk memperbaiki keadaan malah memperburuk keadaan. Misalnya kebijakan ganjil genap, tanpa diikuti perbaikan transportasi umum dan pajak progresif kendaraan, malah akan memperbanyak kendaraan itu sendiri. Karena orang akan membeli kendaraan dengan plat ganjil dan genap. Itulah Efek Kobra.

Salam kobra.

(DPS)

Jakarta, 18/10/2025 16:01

#sruvuts

Image by Ajay jangid from Pixabay

Antara Nyinyir dan Berpikir Pener

0

Paijo baru saja membeli iPhone 16. Ia adalah karyawan yang bergaji UMR, sekitar lima jutaan. Harga iPhone yang dibelinya di atas 20 juta.

Gendon, si tukang nyinyir protes. Ia tak bisa menerima fakta keras ini. Di belakang Paijo, ia menggerutu.

Begini ceritanya:

Paijo itu dungu banget yah. Gaji UMR sok beli iPhone segala. Banyak gaya. Buat apa coba. Mending uangnya ditabung. Bisa buat beli rumah. Lebih bermanfaat. HP lima jutaan, sudah bagus lah.

Saya hanya menggeleng mendengar cerita Gendon ini. Sifat Gendon ternyata tidak berubah. Ia tetap saja suka nyinyir kepada siapa saja. Bahkan waktu itu, dia pernah nyinyir habis kepada pengemis. Katanya masih muda kok malas. Daripada mengemis kan bisa nguli, dan lain sebagainya.

Lunyu sekali mulut Gendon. Seperti perosotan TK terkena air hujan.

Saya jadi teringat pesan Simbah Wiseruh. Watuk mudah disembuhkan tapi watak sulit diobati. Begitulah watak Gendon.

Saya nyeletuk:

Mungkin beli iPhone itu, cita-cita tertinggi Paijo. Ia ga pengen beli mobil mewah lengkap dengan AC, tape, dan sopir pribadi. Apalagi rumah gedong lengkap dengan pelayan.

Banyak lho Ndon, orang yang seperti Paijo itu. Cita-cita mereka tidak ndakik-ndakik. Kadang hanya pengen punya roadbike, gopro, DSLR, atau motor scrambler.

Cita-cita mereka tentu tak seperti cita-cita cerdasmu yang penuh pertimbangan itu.

Lagian orang ingin mewujudkan cita-citanya, ingin muwujudkan keinginannya, kok kamu nyinyir.

Gendon menjawab:

Ya itu namanya dungu sih. Mereka itu orang yang mesti dicerahkan. Karena kesadaran mereka palsu.

Hegemoni iPhone telah merasuki kesadarannya. Mereka mudah dikendalikan oleh ideologi mblangsak, marketing, dan juga algoritma. Bak buih dilautan. Banyak tapi nirguna. Cepat hilang disapu gelombang. Pantas hidupnya mengeluh mulu.

Saya hanya menggeleng saja. Saya paham betul Gendon. Saya akui Gendon memang pintar. Saya tidak ragukan itu. Saya banyak sekali belajar darinya. Namun satu hal yang ia tak punya, empati kepada yang lain.

Di lain waktu, saya pernah menanyakan hal ini kepadanya. Ia menjawab, ga perlu empati kepada mereka. Mereka yang mestinya belajar agar bisa mengerti kita. Bukan kita yang harus mengerti mereka.

Saya kembali menggeleng. Argumen Gendon yang ceplas-ceplos itu memang logis. Ia memang benar. Tapi ia ga pener. Bener dan baik.

Ah, tetiba saya bertanya kepada diri saya sendiri. Apakah kebaikan itu sekarang masih diperlukan? Apalagi di kota metropolitan yang menjunjung tinggi individualisme ini?

Salam individualisme ini.

(DPS)

Jakarta, 21/8/2025 21:47

#sruvuts
#opoini

*Image by Penny from Pixabay

Teori Keseimbangan dan Aliran 200 T

0

Di dalam dunia ekonomi terdapat persamaan dasar akutansi yang menyatakan bahwa aset sama dengan liabilitas ditambah ekuitas. Dalam bahasa sederhana sering dikenal dengan istilah debet sama dengan kredit. Debet ditulis di kolom kiri, sedangkan kredit ditulis di kolom kanan.

Teori persamaan di atas menjelaskan bahwa antara kolom kiri dan kanan, jika dijumlahkan maka hasilnya harus sama (seimbang). Jumlah kolom di kiri tidak boleh lebih banyak daripada kolom di kanan. Demikian juga sebaliknya. Sehingga teori persamaan terpenuhi.

Bagaimana jika tidak seimbang?

Jika tidak seimbang mungkin terdapat kesalahan. Baik kesalahan pencatatan maupun kesalahan penghitungan. Atau, bisa juga memang ada pemasukan atau pengeluaran yang lebih besar.

Kolom Kiri Lebih Besar

Di dalam pencatatan, jika kolom kiri lebih besar, artinya pendapatan Anda lebih banyak dibanding pengeluaran. Ada saldo.

Apakah ini baik? Jawabannya tergantung. Untuk keamanan dan kenyamanan, bisa jadi iya. Dengan saldo besar, Anda akan merasa aman dan nyaman dalam hal keuangan. Pada posisi ini, Anda mungkin sudah bisa membeli apa yang anda inginkan, bukan butuhkan.

Namun, jika dilihat dari sisi pemanfaatan, tentu hal itu tidak optimal. Saldo Anda yang besar tersebut tidak bisa Anda manfaatkan secara maksimal. Dalam bahasa anggarannya, tidak terserap.

Ibarat air, saldo yang besar itu bak genangan. Genangan yang kecil akan membuat air keruh, tidak sehat, dan menjadi sarang nyamuk. Sedangkan genangan besar, membuat siklus air tertahan. Terjadi kekeringan likuiditas di tempat lain.

Jadi harus bagaimana?

Saran saya, alirkanlah. Jika Anda menjadi genangan, baik kecil atau besar, alirkanlah air itu. Sehingga ekosistem tetap terjaga, tidak terjadi paceklik, dan terjadi harmonisasi alam.

Bagaimana caranya?

Setidaknya, ada dua cara, yaitu:

Pertama, belanja. Gunakanlah uang Anda untuk belanja. Baik belanja kebutuhan primer, sekunder, atau tersier. Anda bisa belanja di kaki lima, warung tetangga, pasar tradisional, pasar modern, toko elit, dan juga mal yang mewah. Bebas.

Kedua, sedekah. Selain belanja, berbagilah kepada sesama. Kepada saudara, tetangga, anak yatim, duafa, dan mereka yang membutuhkan.

Kolom Kanan Lebih Besar

Kembali ke buku. Lalu bagaimana jika kolom kanan lebih besar.

Jika kolom kanan lebih besar artinya pengeluaran Anda lebih besar daripada pemasukan. Uang yang bisa Anda hasilkan lebih kecil daripada uang yang Anda butuhkan. Ada hutang.

Apakah kondisi ini baik?

Sama seperti jawaban di atas. Jawabannya adalah tergantung. Jika pengeluaran Anda lebih besar karena hutang untuk investasi yang hasilnya akan dipetik dalam 2-5 tahun ke depan, tentu ini tidak buruk.

Dalam kondisi kolom kanan lebih besar, Anda harus berhati-hati. Waspada, siaga, awas. Kenapa? Karena kondisi seperti itu kurang ideal. Hal ini cenderung buruk buat Anda.

Kekurangan likuiditas berpotensi membuat paceklik. Musim kemarau panjang yang bisa membuat layu. Anda sulit tumbuh dan berkembang.

Dalam banyak kasus, hutang seringkali membuat stres. Apalagi jika hutang dalam jangka panjang. Hal ini perlu daya tahan yang luar biasa.

Sebab, jika daya tahan Anda lemah, hutang bisa menimbulkan gangguan kecemasan dan depresi. Sepanjang waktu, Anda akan memikirkan hutang tersebut. Bagaimana cara membayarnya.

Karena fokus pikiran Anda setiap hari kepada hutang, Anda menjadi sulit bahkan nyaris tidak bisa lagi memikirkan hal lain.

Bagaimana cara mengatasinya?

Ada dua cara, yaitu: mengurangi pendapatan atau menambah pemasukan.

Aliran 200T

Pemerintah Indonesia mulai mengalirkan dana sebesar Rp200 triliun ke lima bank milik negara pada Jumat, 12 September 2025. Dana ini, yang sebelumnya tersimpan di Bank Indonesia (BI) sebagai saldo anggaran lebih (SAL), mulai disalurkan untuk meningkatkan likuiditas perbankan dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Merujuk pada teori di atas, semoga saldo ini bermanfaat dan juga bisa digunakan secara optimal untuk membangun perekonomian. Sehingga kolom kiri dan kanan seimbang.

Angka 200 T, jelas jumlah uang yang sangat besar. Dan tentu tidak semua orang bisa mengetahui cara memanfaatkan uang sebesar itu.

Kesimpulan

Setiap orang punya kemampuan dan keahliannya sendiri dalam bab ekonomi. Terutama dalam hal pemasukan dan pengeluaran. Ada orang yang pandai menghasilkan uang tetapi ia tak pandai menghabiskan. Demikian juga sebaliknya, ada orang yang pandai menghabiskan uang tapi kurang pintar menghasilkan. Selain itu juga ada kombinasi diantara keduanya, yaitu orang yang pandai menghasilkan dan menghabiskan.

Bagaimana kondisi yang baik?

Kondisi yang ideal adalah seimbang. Uang yang dihasilkan sama dengan yang dikeluarkan sehingga kolom kiri sama dengan kanan. Dengan catatan, saldo lebih banyak adalah kondisi yang relatif bagus daripada hutang lebih banyak.

Apa yang Anda lakukan jika Anda diberi uang Rp.200 T?

Salam 200T

(DPS)

Jakarta, 20/9/2025 8:39

#sruvuts

Image by Steve Buissinne from Pixabay

Americano dan Filosofi Teras

0

Saya dan Simbah Wiseruh berbincang santai di teras sebuah mini market, Sabtu (13/9/2025). Teras adalah tempat yang nyaman buat kami mengobrol, yang kata anak muda deep talk. Di tempat itu tak jarang ide-ide besar dilahirkan.

Simbah Wiseruh bercerita, begini ceritanya:

Le, ada tiga tipe orang di dunia ini dalam hal melihat kesenangan. Yang pertama adalah orang yang senang mengeluh. Kedua, orang yang tidak senang mengeluh. Dan yang terakhir adalah orang yang senang tidak senang tetap mengeluh.

Seperti biasa, saya hanya manggut-manggut. Lalu saya bertanya, yang terbaik yang mana, Mbah?

Simbah menyeruput kopi susunya. Minimarket ini menjadi hub buat anak-anak muda. Lokasi yang strategis, parkiran luas, area makan yang nyaman, dan harga yang ramah di kantong adalah alasannya.

Di sana mereka bisa mengobrol dengan bebas. Mulai dari mau kuliah di mana, kerja di mana, kapan putus, hingga kapan menikah. Semuanya mengalir begitu saja, bak aliran banjir kanal barat di musim penghujan. Melimpah dan lancar.

Hutan beton sukses membuat hidup kita tersekat-sekat. Di lingkungan kerja kita pun tersekat oleh workstation. Sekat-sekat itu tak hanya membatasi fisik kita. Ia juga menyentuh pribadi kita. Kita tumbuh dan berkembang menjadi semakin individualis.

Di teras minimarket ini, sekat-sekat itu sedikit hilang. Paling tidak, ia tidak nampak secara signifikan.

Simbah kemudian melanjutkan ceritanya. Ingat, teko akan mengeluarkan isinya. Jika ia berisi kopi maka tak mungkin susu yang akan keluar. Demikian juga dengan kita. Jika kebencian yang ada di dalam dirimu maka ia yang akan keluar. Pun sebaliknya.

Setiap orang itu punya masalah masing-masing. Tidak ada manusia yang tidak punya masalah. Mereka yang sudah selesai masalahnya di dunia ini, tempatnya di alam kubur.

Mengeluh itu wajar. Normal. Namun ketika ia sudah menguasaimu, ini yang menjadi soal. Kamu mesti mengelolanya.

Seperti tadi, saya hanya manggut-manggut. Kemudian, saya mengulangi lagi pertanyaan. Jadi yang bagus, yang mana, Mbah?

Jka kamu adalah seorang pencinta maka pilihan kedua adalah opsi terbaik, jawab simbah ringkas tanpa catatan kaki.

Saya coba mencernanya. Sama seperti kemarin, kata-kata simbah masuk mengisi relung hati dan pikiran. Kali ini, giliran saya yang menyeruput americano.

Salam americano

(DPS)

Jakarta, Sabtu (13/9/2025) 17:23

#sruvuts

Kajian Strategis: Telu Ngo

0

Pada suatu hari, di suatu sore, di tengah hujan, ditemani kopi dan gedang goreng, di ruang tengah, saya dan Simbah Wiseruh menonton TV. Demo diikuti kerusuhan dengan pembakaran terjadi di berbagai daerah, seperti Jakarta, Makasar, Yogyakarta, Surabaya, dan Bandung.

Simbah Wiseruh bercerita.

Begini ceritanya:

Le, kami, generasi simbah ini percaya bahwa di sebuah masyarakat itu berjalan suatu sistem operasi, namanya telu ngo (3 Nga): ngalah, ngaleh, ngamuk. Masyarakat disakitin, mereka diam saja, sabar. Sampai kapan? Bisa 1 hingga ribuan kali. Mereka ngalah.

Jika sudah ngalah, mereka masih disakitin lagi maka mereka akan menghindar, pergi, ngaleh. Meskipun, kasarnya, mereka meski meninggalkan harta bendanya. Harta yang telah dicari puluhan tahun. Mereka mau. Mereka bersedia ngaleh dengan harapan agar tidak disakiti kembali. Mereka ingin tenang dan damai. Hidup guyub rukun. Adem ayem.

Jika sudah ngaleh, mereka tetap disakitin maka mereka bisa ngamuk. Di sinilah batas kesabaran itu menemui ujungnya. Pada tahap ini, bumi hangus bisa terjadi meski nyawa taruhannya. Nggegirisi.

Saya hanya manthuk-manthuk. Kata-kata Simbah terus membekas. Simbah selalu bisa membuka pintu-pintu pikiran di otak saya.

Simbah melanjutkan..

Dari satu Ngo ke Ngo yang lain itu Le, tidak instan. Ia melewati berbagai tahapan. Mulai tahap pemikiran, perenungan, pengendapan, hingga pengambilan keputusan. Oleh karena itu, jika ngamuk sampai terjadi, maka ia adalah hasil dari sebuah pengendapan yang bertahap, lama.

Tapi di era sekarang, Simbah juga paham, pesatnya kemajuan teknologi bisa membuat percepatan. Dalam hal ini termasuk percepatan amuk itu.

Misalnya, kamu baru saja terkena PHK masal. Teman-teman kamu juga. Lingkungan sekitarmu sulit. Kehidupan terasa terjal, berliku, dan mendaki. Tetiba kamu lihat di HP, tetanggamu yang sombong, suka flexing, minim empati itu dapat tunjangan 100 juta per bulan dari uang warga. Ditambah teman tetanggamu itu meledek kamu dengan kata-kata titttttttttt. Video tetanggamu dan temannya itu kemudian viral. Lewat beranda kamu terus menerus setiap waktu. Belum lagi jika video tersebut beranak pinak dengan bumbu-bumbunya. Hal-hal seperti ini akan membuat kamu menjadi sumbu pendek. Mudah terbakar.

Oleh karena itu, bijaklah Le, jika kelak kamu sudah menjadi orang. Yang tahu diri dan tempat, mengerti empan dan papan.

Salam papan.

Kemayoran, Jakarta, 30/8/2025 8:33

#sruvuts

Sambel Colek, Jaranan, dan Hak Kekayaan Intelektual

0

Simbah saya pernah berkata, salah satu substansi dari sistem masyarakat kita dengan nilai gotong royong itu adalah berbagi. Berbagi waktu, tenaga, pikiran, dana, dan lainnya.

Contoh kecil, di desa-desa, kalau Anda bisa memasak sayur lodeh yang dinilai enak nan oleh masyarakat, Anda dengan bangga dan senang hati akan membagikan resep tersebut ke masyarakat. Termasuk jika Anda mahir bikin sambel, roti, dan kue.

Sambil ngriung di dapur, sebut saja Yu Nem dengan bangga akan membagikan resep sambel coleknya yang tersohor di desa Suka Makmur kepada teman-temannya. Mereka akan kupas tuntas bab perdapuran tersebut. Mulai dari porsi gula, garam, jenis bumbu, hingga cara nguleg. Tanya jawab juga berlangsung dengan seru. Semua mengalir begitu saja dalam suasana hangat nan guyub.

Di akhir sesi, masing-masing peserta sudah mendapat pengetahuan yang lengkap tentang tips dan trik cara membuat sambel colek ala Yu Nem.

Keesokan harinya, beberapa teman Yu Nem itu mempraktekkan pengetahuannya. Hasilnya akan dites oleh anggota keluarganya. Apakah sambel colek bikinannya tersebut sudah pas atau ada yang kurang.

Jika ada waktu luang lagi, Yu Nem dan temannya akan ngriung lagi. Mereka akan evaluasi hasil praktek. Di sini, setiap orang akan menceritakan proses membuat sambel colek, mulai dari beli cabe, ngulek, hingga testing di depan juri/keluarga. Sesekali gelak tawa akan terdengar. Karena komentar seperti sambel kok kecut, dan semacamnya.

Sekali lagi, suasana di sini hangat penuh dengan canda tawa dan kekeluargaan.

Untuk urusan laki-laki juga begitu. Kang Yatno, seniman jaranan itu akan dengan bangga dan senang hati membagikan cara memainkan musik jaranan yang ulem, selaras, dan harmoni. Bagaimana memukul gong, bonang, saron, kendang, hingga meniup suling. Bagaimana cara menyanyi, mengorkestrasi, pun membuat lagu jaranan hingga musik jaranan menggema ke berbagai pelosok desa.

Yu Nem dan Kang Yatno adalah gambaran umum masyarakat negeri dongeng.

Angin berganti, musim pun berubah. Ide baru masuk ke desa Suka Makmur. Namanya kekayaan intelektual dan undang-undang hak cipta.

Resep sambel dan musik jaranan itu adalah kekayaan intelektual. Resep masuk bab rahasia dagang sedangkan musik ada di ranah hak cipta.

Dengan kekayaan intelektual ini, memungkinkan resep sambel colek Yu Nem dan musik jaranan Kang Yatno jadi tidak mudah diakses seperti sebelumnya. Kenapa? Karena ada perlindungan hak di dalamnya. Ada hak moral dan hak ekonomi di dalamnya.

Barangsiapa yang mempraktekkan resep sambel Yu Nem dan menyetel musik jaranan Kang Yatno sembarangan, berpotensi mendapat masalah hukum.

Warga resah. Desa Suka Makmur yang dulu adem ayem, kini menjadi gaduh. Keresahan, kritik, diskusi, pro kontra, terjadi di mana-mana. Di pos ronda, warung kopi, pinggir kali, sawah, di dalam keluarga, bahkan hingga podcast-podcast desa.

Dengan undang-undang hak cipta, Kang Asep harus membayar 2 miliar karena ia memutar berbagai musik jaranan tanpa izin di seluruh warung mienya.

Yu Nem, Kang Yatno, dan Kang Asep adalah kisah unik warga di negeri dongeng. Bagaimana akhir ceritanya? Bagaimana kelak ide baru bisa berharmonisasi dengan local wisdom yang sudah mengakar lama? Menarik untuk disimak. Dan biarkan waktu yang akan menjawabnya.

Salam

(DPS)

Jakarta, 9/8/2025 11:08

Image by Mohamed Hassan from Pixabay

Jalan Braga: Jantung Bersejarah dan Gaya Hidup Modern Bandung

Jalan Braga, sebuah nama yang tak asing bagi para pelancong maupun warga Bandung, adalah urat nadi sejarah dan denyut kehidupan kontemporer kota kembang. Berlokasi strategis di pusat kota, jalan ini bukan sekadar deretan bangunan tua, melainkan sebuah living museum yang memancarkan pesona dari era kolonial hingga gemerlap masa kini.

Jejak Sejarah Braga yang Mengagumkan

Nama Braga sendiri berasal dari bahasa Sunda “ngabaraga” atau “ngabaraga” yang berarti berbangga. Sejak abad ke-19, Jalan Braga telah menjadi pusat aktivitas sosial dan ekonomi di Bandung. Pada masa Hindia Belanda, jalan ini dijuluki “De Vien van Java” atau “Paris van Java” karena kemiripan arsitektur bangunannya dengan kota-kota di Eropa, khususnya Paris.

Bangunan-bangunan bergaya Art Deco dan Neo-Klasik yang masih kokoh berdiri di sepanjang Braga adalah saksi bisu kejayaan masa lalu. Gedung-gedung seperti Gedung Merdeka (dulunya Gedung Concordia), Bioskop Majestic, hingga deretan toko-toko kuno dengan fasad uniknya, seolah mengajak kita melintasi lorong waktu. Dahulu, Braga adalah tempat para meneer dan mevrouw Belanda bersosialisasi, berbelanja di butik-butik mewah, atau menikmati hiburan di kafe dan bioskop.

Transformasi Menjadi Destinasi Gaya Hidup

Meskipun akar sejarahnya sangat dalam, Jalan Braga tidak pernah berhenti berinovasi. Setelah kemerdekaan, Braga mengalami beberapa periode pasang surut, namun pesonanya tak pernah pudar. Kini, Jalan Braga telah bertransformasi menjadi salah satu destinasi utama di Bandung yang menawarkan perpaduan menarik antara warisan budaya dan tren modern.

Apa yang Bisa Dinikmati di Jalan Braga Hari Ini?

* Arsitektur dan Fotografi: Bagi pecinta fotografi, Braga adalah surga. Setiap sudut jalan menawarkan latar belakang yang estetik dengan bangunan-bangunan klasik yang memukau. Berjalan kaki menyusuri Braga adalah cara terbaik untuk mengagumi detail arsitektur yang memesona.

* Kuliner Kekinian dan Legendaris: Dari kafe-kafe hipster dengan desain interior Instagramable hingga restoran-restoran legendaris yang menyajikan hidangan tradisional, Braga memiliki segalanya untuk memanjakan lidah. Jangan lewatkan kesempatan mencicipi kopi khas Bandung atau hidangan lokal yang otentik.

* Belanja Unik: Meskipun toko-toko mewah zaman Belanda sudah jarang ditemukan, Braga kini dipenuhi dengan butik-butik independen, toko cinderamata, dan galeri seni yang menjual produk-produk unik dan kerajinan tangan lokal.

* Seni dan Hiburan: Malam hari, Braga semakin hidup. Beberapa kafe dan bar menyuguhkan pertunjukan musik live, menciptakan suasana yang semarak dan energik. Tak jarang pula ditemukan seniman jalanan yang menambah semarak suasana.

* Pusat Pertemuan dan Kreativitas: Braga juga menjadi titik kumpul bagi komunitas kreatif dan para seniman. Berbagai acara seni dan budaya sering diselenggarakan di area ini, menjadikannya pusat inovasi dan ekspresi.

Tips Berkunjung ke Jalan Braga

* Waktu Terbaik: Kunjungi Braga pada sore hari menjelang malam untuk merasakan suasana yang lebih hidup dengan lampu-lampu kota yang mulai menyala.

* Transportasi: Braga sangat mudah diakses. Anda bisa menggunakan kendaraan pribadi, taksi online, atau angkutan kota. Jika Anda menginap di area pusat kota, Braga bisa dicapai dengan berjalan kaki.

* Jelajahi dengan Berjalan Kaki: Cara terbaik untuk menikmati Braga adalah dengan berjalan kaki. Luangkan waktu untuk mengagumi setiap detail bangunan dan merasakan atmosfernya.

* Abadikan Momen: Jangan lupa membawa kamera atau smartphone Anda. Setiap sudut Braga adalah potensi spot foto yang menarik.

Jalan Braga adalah bukti nyata bagaimana sebuah jalan dapat menjadi lebih dari sekadar jalur transportasi. Ia adalah cerminan sejarah, pusat gaya hidup, dan magnet bagi mereka yang mencari pengalaman unik di Bandung. Mengunjungi Braga berarti menyelami kekayaan budaya dan dinamika kota yang terus berdetak.

Salam (DPS)

#melekberita

Photo by Ahmad Fahmi Hasby on Unsplash

Matrik Eisenhower: Kunci Menentukan Prioritas Secara Efektif

Apakah kamu pernah merasa kewalahan dengan banyaknya tugas yang harus diselesaikan dalam satu waktu? Salah satu cara sederhana namun sangat efektif untuk mengelola waktu dan pekerjaan adalah dengan menggunakan Matrik Eisenhower.

Apa Itu Matrik Eisenhower?

Matrik Eisenhower adalah alat bantu pengambilan keputusan yang membagi tugas atau aktivitas ke dalam empat kategori berdasarkan dua kriteria utama: kepentingan (important) dan kesegeraan (urgent). Alat ini dinamai dari Dwight D. Eisenhower, seorang jenderal sekaligus Presiden Amerika Serikat yang dikenal akan kemampuannya dalam mengelola waktu secara efisien.

Empat Kuadran Matrik Eisenhower

Matrik ini membagi tugas ke dalam empat kuadran:

1. Penting dan Mendesak (Do)

Tugas-tugas yang sangat krusial dan harus segera diselesaikan. Keterlambatan bisa menyebabkan konsekuensi serius.
Contoh: Deadline laporan hari ini, tugas darurat, krisis mendadak.

2. Penting tapi Tidak Mendesak (Schedule/Decide)

Tugas-tugas yang sangat penting untuk jangka panjang, tetapi tidak harus dilakukan segera.
Contoh: Perencanaan strategi, pengembangan keterampilan, olahraga, waktu bersama keluarga.

3. Tidak Penting tapi Mendesak (Delegate)

Tugas-tugas yang tampak mendesak tetapi tidak terlalu penting secara pribadi. Idealnya bisa didelegasikan ke orang lain.
Contoh: Panggilan telepon yang bisa dijawab oleh orang lain, sebagian email, rapat yang bisa diwakilkan.

4. Tidak Penting dan Tidak Mendesak (Eliminate)

Tugas-tugas yang tidak memberikan nilai tambah dan bisa dihindari agar tidak membuang waktu.
Contoh: Scrolling media sosial tanpa arah, menonton video yang tidak penting, gosip kantor.

Manfaat Menggunakan Matrik Eisenhower

  • Membantu kamu fokus pada prioritas utama
  • Mengurangi stres karena tidak harus memikirkan semuanya sekaligus
  • Memisahkan antara aktivitas penting dan pengalih perhatian
  • Meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja

Cara Menggunakan Matrik Eisenhower

1. Tulis semua tugas yang kamu miliki.
2. Evaluasi berdasarkan dua pertanyaan:

  • Apakah ini penting?
  • Apakah ini mendesak?

3. Tempatkan setiap tugas ke dalam kuadran yang sesuai.
4. Ambil tindakan sesuai kuadran:

  • Kuadran 1: Kerjakan segera.
  • Kuadran 2: Jadwalkan dan lakukan secara konsisten.
  • Kuadran 3: Delegasikan ke orang lain jika memungkinkan.
  • Kuadran 4: Hapus atau hindari.

Kesimpulan

Matrik Eisenhower bukan sekadar teknik manajemen waktu, tetapi juga strategi berpikir yang membantu kamu lebih bijak dalam memilih tugas. Dengan menggunakan matrik ini secara rutin, kamu akan lebih fokus, tenang, dan mampu mengelola pekerjaan dengan lebih terarah.

(ADS)

*Artikel dan ilustrasi terinspirasi oleh ChatGPT

Orang Tua Menceritakan Masa Lalu

Semalam, di depan teras rumah, Bejo menyruput kopinya yang sudah dingin itu. Angin malam yang berhembus sepoi membawa pikirannya mengembara, melintasi masa lalu. Dalam benaknya, tetiba tergambar jelas tentang dulu.

Dulu, rakyat mudah dalam sandang, pangan, dan papan. Sembako terjangkau. Harga beras, minyak, hingga cabai sangat terkendali. Bahkan hingga diumumkan oleh menteri. Harga sembako seragam, mulai dari pasar tradisional, pasar modern, hingga pasar induk. Harga BBM lebih murah daripada air minum dalam kemasan. Harga rumah juga relatif terjangkau. Kuli pun kernet bis kota, mampu membeli rumah.

Dulu, pendidikan di sekolah murah dengan SPP dan maju dengan ebtanasnya. Siswa giat dan semangat belajar, ingin menjadi tukang insinyur agar bisa membuat pesawat terbang untuk bangsa dan negaranya. Tidak ada yang tantrum pun kesurupan dalam menghadapi ujian nasional dan kelulusan. Mereka berani meski keadaan sulit sekalipun. Study tour tetap ada. Meski tidak ada wisuda tetapi tetap ada perpisahan yang membahagiakan dengan tradisi corat-coret seragamnya itu.

Dulu, kehidupan rakyat aman, tenang, dan guyub rukun. Tidak ada radikalisme pun isu sara yang memecah belah keluarga, tetangga, dan bangsa. Kerjabakti dan teposeliro berjalan lancar. Pendidikan P4 meresap hingga ke akar, dari siswa, PKK, dasawisma, hingga RT/RW. Warga sehat lewat posyandu. Program keluarga berencana sukses.

Dulu, berita terkontrol dan tidak ada hoax pun ujaran kebencian. Warga sibuk bekerja dan pelajar semangat belajar untuk membangun negaranya. Tidak ada waktu ghibah. Obrolan di warung kopi adalah tentang kebanggaan akan negaranya menjadi macan asia. Bangga akan segudang prestasi: prestasi bulutangkis, renang, atletik, sepakbola, pencak silat, dan menjadi dominasi juara seagames. Belum lagi akan keberhasilan di bidang telekomunikasi, kereta api, baja, otomotif, elektronik, dan lainnya.

Dulu, negara punya garis besar haluan negara. Pembangunan terencana yang diejawantahkan lewat rencana pembangunan per lima tahun. Misalnya 25 tahun pertama untuk membangun sektor pertanian. Membuka lahan, membangun bendungan dan saluran irigasi. Tak lupa juga dengan peternakannya. Pembanguanan yang memperkuat pondasi sebagai negara agraris untuk selanjutnya tinggal landas menuju negara maju pada periode 25 tahun berikutnya.

Dulu begini, begitu, dan beginu. Dulu ini, itu, dan inu.

Tetiba Bejo ngeh, sekarang, ia banyak sekali menceritakan tentang masa lalu. Ah, ia mulai sadar. Ia sudah tua. Tidak muda lagi. Gairahnya saja, yang berasa masih muda.

Salam lagi.

©️ DPS

Kemayoran, Jakarta, 1/5/2025 14:42

#sruvuts
#mayday

Image by Pexels from Pixabay

Kamu Tahu enggak?

Dulu, saya punya teman, sebut saja Joni, yang sering tanya kamu tahu enggak, dalam hampir setiap obrolan. Misalnya: kamu tahu enggak, kenapa bbm naik? Kamu tahu enggak, kenapa daya beli menurun? Kamu tahu enggak, kenapa uu abc direvisi? Kamu tahu enggak, kenapa mbg itu belum merata? Kamu tahu enggak, siapa huhuhaha itu?

Dan simpel, saya jawab gak tahu. Kemudian teman saya itu mulai menjelaskan panjang lebar, begini begitu beginu terkait bab di atas. Penjelasan yang ia dapatkan dari hasil membaca media plus penafsirannya, yang menurut saya seenaknya dewe.

Jujurly, saya hanya ngangguk-ngangguk mendengar penjelasannya yang panjang dan pepesan kosong itu. Saya tidak mendebatnya. Karena pernah kita berdiskusi tetapi teman saya ini kurang bisa menerima pendapat or pandangan yang berbeda. Hanya adu otot, bukan otak.

Dalil ia sederhana, saya benar, kamu salah. Menurut teman saya itu, pengetahuan dia yang banyak adalah segalanya. Padahal, ia miskin dalam berlogika. Tidak bisa membedakan antara premis dan kesimpulan. Sejak saat itu, obrolan di antara kami, saya biarkan monolog.

Begini ya manteman. Tahu itu berbeda dengan mengerti pun paham. Kita tahu satu hal, belum tentu mengerti pun paham hal tersebut. Kita tahu lampu merah itu harus berhenti. Tetapi kita gagal paham, kenapa kita mesti berhenti.

Seringkali kita (saya) sulit mencerna sebuah fakta yang nampak sederhana itu dengan baik, benar, dan indah. Kenapa? Karena hal tersebut adalah jalan ninja yang terjal, berliku, dan mendaki.

Akibatnya kita gagal paham. Sehingga kita dengan mudah mengambil sebuah kesimpulan dan menelannya sebagai sebuah kebenaran.

Kita tumpul dalam berpikir kritis pun ilmiah. Yang dalam kata populer sering disebut dungu itu. Pernah dengar, kan? Kita acap kali berkesimpulan jika tidak A maka Z, abai terhadap B-Y.

Saya melihat Joni ini ada di mana-mana. Di sana, di sini, pun di sono. Joni adalah kita.

Salam kita.

©️ DPS

Image by Piyapong Saydaung from Pixabay