Home Blog Page 14

Ciuman adalah Keberanian?

0

melekberita.com – Dewasa ini, kita sedang menuju zaman kebangkitan dunia perfilman. Banyak film dalam negeri diproduksi. Lusinan judul tersaji di bioskop. Genre seks dan horor paling banyak dan mendominasi.

Digemari adalah kata kuncinya. Jika sebuah film sudah digemari maka harapannya adalah dikonsumsi. Di sinilah transaksi jual beli terjadi. “Kenikmatan” ditukar dengan uang.

Apakah produk tersebut harus mencerdaskan (jadi tuntunan sekaligus tontonan)? Idealnya sih iya. Ini kalau produser mau mencerahkan. Tapi jika tidak, pun bukanlah soal. Yang penting film tersebut laku jual.

Di negeri ini, hiburan adalah barang mewah. Tidak hanya lapar, masyarakat juga sudah rakus akan hiburan. Merasa hidup terhimpit, masyarakat membutuhkan obat penawar kepedihan. Obat itu mereka temukan dalam bentuk pil hiburan.

Yang sehat tentu tak membutuhkan pil tersebut. Mereka mempunyai daya tahan cukup prima, punya mazhab sendiri. Sayangnya, jumlah golongan ini masih sedikit.

Berciuman, Keberanian atau Kekonyolan?

“Di film XYZ ada adegan ciuman. Di situ Anda kelihatan intim dan syur. Kenapa Anda berani memerankan adegan tersebut? Bagaimana proses itu terjadi?” tanya seorang presenter kepada seorang aktris pada sebuah acara ABC di TV 123.

“Sebenarnya saya tertarik dengan skenarionya. Jalan ceritanya bagus. Perannya menantang. Itu cuma akting. Nggak ada perasaan apapun. Kami berciuman karena memang tuntutan peran. Sebatas profesionalitas saja. Chemistry datang karena kami sering ngobrol” jawab si artis menjelaskan.

Saya yang kebetulan nonton acara talkshow itu mak deg. Edan! Benar-benar anu tenan.

Bagaimana tidak? Bayangkan: seseorang berlainan jenis, bukan keluarga, berciuman intim dengan sengaja, direkam di depan kamera, dan hasilnya untuk ditonton orang “seantero” negeri, disebut berani?

Sedihnya lagi, perbuatan tersebut dibilang hanya akting, tidak melibatkan rasa, dan itu berarti profesional. Kalau begini apa bedanya dengan maaf, pelacuran!

Jelas ini adalah kekonyolan. Disadari atau tidak, nilai-nilai luhur berusaha digeser dan dilengserkan. Keberanian yang dulu identik dengan perjuangan dan kepahlawanan, kini cukup dengan ciuman dengan lawan jenis di film. Sebuah proses kekonyolan yang nyata.

Mari kita berandai-andai.

Jika berciuman seperti di atas adalah wujud dari keberanian, kenapa semua orang tidak tergerak untuk melakukannya? Kenapa orangtua/guru tidak mengajarkannya? Kenapa di tempat ibadah tidak diserukan?

Mengenaskan memang. Kenapa Anda tidak mau jujur dan mengaku saja bahwa saya mau melakukan adegan ini karena uang. Bayarannya besar. Dengan demikian masalah menjadi terang. Tidak usah berlindung atas nama akting dan profesionalisme.

Sadarkah Anda bahwa dengan beradegan ciuman itu berarti Anda benar-benar telah melakukan suatu perbuatan, yaitu mencium lawan main Anda. Mau memakai perasaan atau tidak ini soal lain. Esensinya terletak pada perbuatan yang dilakukan. Jika Anda berhubungan intim lalu direkam oleh kamera dan mendapat honor yang besar apakah itu juga disebut akting?

Oleh karena itu, pertanyaan si presenter yang pas di atas adalah kenapa Anda mau bertindak konyol berciuman di depan kamera?

Baca juga: Setan

Sadarlah!

Negeri ini adalah Negeri Timur. Negeri yang punya adat dan budaya sendiri. Biarkanlah negeri ini maju dengan identitasnya sendiri. Tidak perlu kita contoh adat dan budaya asing yang tak sesuai.

Anda semua tentu mahfum, negeri ini masih belum maju. Oleh karena itu, kita rindu karya yang membangun. Kita rindu orang yang jujur. Tidakkah kita bosan mendengar berita pemerkosaan?

Lalu apa yang harus dilakukan? Rasanya tidak sulit. Jika dunia perfilman masih menyuguhkan adegan konyol (cium-ciuman) maka Anda tidak usah tonton. Menontonnya berarti Anda (saya) telah turut serta, ikut andil melanggengkan kekonyolan di negeri ini. Bisa?

Perlu diketahui, dengan menonton film seperti itu akan membuat mereka yang memproduksi cium-ciuman itu mendapatkan penghasilan lebih. Mungkin lebih banyak dari petani yang memproduksi beras atau guru yang mencerdaskan tunas muda harapan bangsa. Padahal, kedua orang ini kontribusinya nyata bagi kehidupan Anda (saya).

Kelak di kemudian hari, bukan tidak mungkin akan banyak yang cium-ciuman di depan kamera. Hentikan!

Salam hentikan.

– © DPS

Kemayoran – Jakarta, 04 September 2007 23:20

*Artikel ini diperbarui 02 Oktober 2022 11:43

*Image by Pixabay

Setan

0

melekberita.com – Dalam perjalanan ke Barat, Bejo tiba di Desa Rojokoyo. Desa yang subur makmur gemah ripah loh jinawi tata tentrem kertoraharjo.

Penduduk desa hidup rukun. Tidak ada copras capres pun politik identitas. Apalagi politik kebenaran, politik kebencian, dan juga politik darah biru.

Kondisi desa bersih dan rapi. Infrastruktur terawat dengan baik. Pembangunan dilaksanakan secara bertahap dan berkesinambungan. Yang baik dilanjutkan, yang kurang diperbaiki.

Semua masalah di desa diselesaikan lewat jalan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dengan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa serta mengedepankan persatuan yang bertujuan untuk keadilan sosial bagi seluruh rakyat desa.

Desa Rojokoyo jauh dari kesan angker. Semua terang benderang. Tidak ada wilayah gelap.

Baca juga : Salam Lunas

Pagi itu suasana desa cerah. Hawa dingin dan embun pagi menyelimuti desa. Di emperan rumah Sang Guru, di bawah pohon beringin Bejo ngobrol asik.

Guru, ceritakan kepada saya tentang setan.

Setan kuwi onok limo ngger. Setan main, mabuk, maling, madat, lan madon.

Bejo ngangguk-ngangguk.

Kelima setan itu berhubungan erat dengan uang, harta, atau kekayaan.

Maksudnya Guru, tanya Bejo.

Begini. Jika kamu kaya maka kelima setan itu akan mendatangimu. Tapi jika kamu miskin maka kamu sangat dekat dengan setan-setan itu.

Bejo mengangguk, mengisyaratkan kalau dia mengerti.

Oleh karena itu, agar selamat dan terhindar dari setan tersebut kamu harus eleng lan waspodo. Kamu mesti nerimo ing pandum. Selalu bersyukur atas yang kamu punya. Ojo kemrungsung tapi tetap ikhtiar.

Bejo mengangguk, disruputnya kopi yang sudah dingin itu. Tak berasa, matahari sudah 45 derajad. Panasnya menembus genting, menerobos plafon dan menghangatkan emperan.

Setan kuwi onok limo ngger. Setan main, mabuk, maling, madat, lan madon.

Kata-kata Sang Guru adalah gelombang longitudinal yang menggetarkan gendang telinga, mengaktifkan kelistrikan di otak, dan meresonansi hatinya. Bejo tersengat. Jiwanya terhentak.

Setan ternyata tak selalu makhluk yang menyeramkan, seperti: pocong, jaelangkung, dan kuntilanak. Tetapi juga molimo.

Salam molimo.

Tebet, Jakarta, 14/10/2022 09:42

– ©️ DPS

#melekcerita
#melekbahasa

*Image by DPS

Salam Lunas

Pada awal tahun 2000 an, kartu kredit adalah barang bergengsi. Bisa memiliki kartu kredit adalah satu kebanggaan. Punya kartu kredit, Anda dianggap orang sukses.

Kenapa?

Karena status sosial dan perilaku hidup gaya.

Pada saat itu, untuk bisa memiliki kartu kredit itu tidak mudah. Gaji Anda harus besar. Tidak bisa hanya di atas UMR saja. Tetapi juga mesti di atas jauh UMR.

Jadi : jika Anda memiliki kartu kredit, itu artinya gaji Anda besar. Semakin tinggi level kartu kredit Anda, semakin besar pula gaji Anda.

Selain HP, kartu kredit ini menjadai wahana pamer. Pamer untuk hidup gaya. Saat membayar dengan kartu kredit, ada perasaan bangga.

Sebelum punya kartu kredit, saya pernah melihat teman saya, sebut saja Paijo membayar barang dengan kartu kredit. Saat itu saya merasa dia keren banget. Pemuda sukses. Kaya, mantab.

Dan memang Paijo itu gajinya gede. Lebih gede dari saya. Entah dari mana pemikiran saya itu. Sepertinya dari cekokan globalisme.

Agustus, 2003, teman saya, sebut saja Gino mengajak saya membuat kartu kredit.

Setelah melalui proses, saya dinyatakan lolos seleksi. Saya senang sekali. Artinya sebentar lagi, saya akan punya kartu kredit. Sama seperti Paijo.

Dan benar, dua minggu kemudian, seorang kurir mengantarkan kartu kredit saya ke kosan di Kebon Sirih, Jakarta Pusat.

Baca juga :  Konversi

Awal punya kartu, kartu saya levelnya silver. Seiring prestasi saya menggunakannya, level saya naik ke gold kemudian naik lagi ke platinum.

Berapa limitnya?

Kartu silver pada saat itu, kalau tidak salah limitnya 600 ribu. Sampai tertinggi platinum kemarin, limitnya 50 juta.

Seiring perjalananan, pada September, 2022, kesadaran baru saya tumbuh. Saya tutup kartu kredit itu. Buat apa saya terus memegang kartu yang ‘jarang’ saya gunakan itu.

Jika awal 2000 an kartu kredit bagi saya adalah barang wah. Barang yang ‘wajib’ dimiliki. Di tahun 2022 tidak. Kartu kredit buat saya adalah barang yang mengerikan. Jauh dari berkah.

Jika dulu saya senang karena memiliki kartu kredit maka sekarang saya juga senang tanpa kartu kredit. Dua keadaan yang bertolak belakang tapi sama-sama senang. Alhamdulillah.

Dua puluh tahunan, kesadaran itu berproses. Dua ide ekstrim beradu gagasan di dalam pikiran.

Lalu pengalaman selama ini bagaimana, terutama soal hutang dan riba?

Alhamdulillah saya tidak pernah macet. Apalagi diteror debt collector. Karena memang saya tidak pernah memakai dengan nominal yang tidak sanggup saya cicil. Cerita detail tentu panjang kali lebar alias luas. Lain kali mungkin bisa saya bahas.

Yang saya ingat, sejak pertama saya bikin kartu kredit, sudah ada dua mahzab pemikiran.

Pertama: mereka yang menganut pemikiran kalau bisa lunas kenapa mesti hutang?

Kedua: mereka yang menganut pemikiran kalau bisa hutang kenapa mesti lunas?

Anda ikut mahzab yang mana?

Salam lunas.

(©ADS)

Kemayoran, Jakarta, 1/10/2022 14:50

#melekfinansial
#melekberita

*Image by DPS

Konversi Siapa Kamu?

0

Atas nama konversi
Aku melihat kompor kayu menjadi kompor minyak
Alasannya..
Demi lingkungan lebih baik

Atas nama konversi
Aku melihat kompor minyak menjadi kompor gas
Alasannya..
Demi lingkungan lebih baik

Atas nama konversi
Aku melihat kompor gas menjadi kompor listrik
Alasannya..
Demi lingkungan lebih baik

Atas nama konversi
Aku juga melihat
Minyak dan gas mahal
Listrik pun ikut mahal

Harga mereka naik liar
Ikuti mekanisme pasar
Entah pasar besar
Atau pun pasar luar

Kanak-kanak mulai tak makan gorengan
Bapak-bapak mulai tak ngopi sasetan
Kata mereka itu baik demi kesehatan
Padahal kompor listrik tak bisa digunakan

Ketika soal perut tak lagi bisa terpenuhi
Perubahan besar hanyalah soal menunggu waktu
Konversi..
Siapa kamu?

© DPS

Kemayoran, Jakarta, 24/9/2022 21:37

#melekpuisi
#melekberita

Baca juga: Dewan Kolonel

*Puisi konversi siapa kamu dibuat karena terinspirasi dari wacana pemerintah untuk mengganti kompor gas menjadi kompor listrik.

*Image by DPS

Dewan Kolonel

0

melekberita.com – Beberapa hari ini santer terdengar isu adanya Dewan Kolonel. Dalam perjalanan ke Barat, Bejo bertemu dengan Kang Paidi di warung kopi, di samping tukang cukur AA, di bawah pohon Randu yang lebat.

Mereka terlibat obrolan yang hangat, terkait isu-isu strategis terkini.

Katanya ada Dewan Jenderal Kang?

Tidak ada. Itu isu lama tahun 1965 yang masih sering diputer. Terutama saat bulan September seperti ini. Isu terbaru yaitu adanya Dewan Kolonel dan Dewan Kopral.

Kedua dewan itu juga tidak ada Kang. Yang ada ternyata adalah tiga dewan, yaitu: Dewan Pimpinan Pusat, Dewan Pimpinan Daerah, dan Dewan Pimpinan Cabang.

Baca juga : Data Bocor

Hahaha, bisa aja. Lucu ya? Rupanya kita ini bisa meributkan sesuatu yang tidak ada. Hahaha.

Ya begitulah. Ngomong-ngomong, dewan itu artinya apa to Kang?

Menurut KBBI, dewan adalah majelis atau badan yang terdiri atas beberapa orang anggota yang pekerjaannya memberi nasihat, memutuskan suatu hal, dan sebagainya dengan jalan berunding.

Lebih ke urusan taktis dan strategis ya Kang. Bukan teknis operasional? Lalu siapa yang akan dicalonkan Kang?

Siapa? Itu adalah urusan ketua umum.

Salam ketua umum.

– © DPS

Kemayoran, Jakarta, 22/09/2022 20:10

*Image by DPS

Data Bocor

0

Puisi data bocor ini terinspirasi dari berita viral tentang kebocoran data yang diumbar oleh Bjorka. Warganet heboh. Benarkah data-data tersebut? Kenapa bisa bocor? Siapa Bjorka? Banyak sekali pertanyaan yang menanti jawaban.

Data Bocor

Jika ban kendaraanmu bocor
Maka lekas tambal
Tak usah salahkan paku
Apalagi salahkan jalan raya

Jika genteng rumahmu bocor
Maka segera tambal
Tak usah salahkan hujan
Apalagi salahkan kucing tetangga

Jika data digitalmu bocor
Maka cepat tambal
Tak usah salahkan teknologi
Apalagi salahkan hacker

Lekas, segera, cepat
Tambal, tambal, tambal
Tak perlu salah-menyalahkan
Yang utama keadaan segera aman, bagaimana?

©️ DPS

Kemayoran, Jakarta, 13/9/2022 21:54

Baca juga: Puisi Kembali kepada Tuhan

#melekpuisi
#melekberita

*Image by DPS

Redenominasi ala Tukang Cukur

Seorang bocah sedang menunggu potong rambut di Barber Shop AA Garut, Kemayoran, Minggu (11/9/2022). Nampak terlihat daftar harga, yaitu: dewasa 25K, remaja 20K, anak 18K, botak licin 30K.

Selama satu jam saya di situ, dari enam orang yang cukur, tak satupun yang menanyakan harga. Apalagi menanyakan arti K dibelakang angka 25, 20, 18, dan 30. Mereka sudah tahu dan mengerti.

Kesimpulannya: 100 persen pengunjung tahu tentang harga yang harus dibayar. Tahu tentu berbeda dengan mengerti dan paham.

Secara faktual, tukang cukur ini telah melakukan redenominasi. Ia mengurangi tiga angka nol di belakang untuk penyederhanaan tanpa mengubah nilai tukarnya.

Apa itu redenominasi?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), redenominasi adalah penyederhanaan nilai mata uang rupiah tanpa mengubah nilai tukarnya.

Redenominasi bertujuan untuk menyederhanakan jumlah angka tanpa mengurangi daya beli, harga atau nilai terhadap harga barang dan/atau jasa.

Tidak hanya tukang cukur, saya juga pernah melihat harga kopi, donat, bakso, soto ditulis 20K, 5K, 15K, 15K.

Bahkan di Pasar Inpres Kemayoran, saya juga sering mendengar abang penjual dan emak-emak menyebutkan harga-harga secara sederhana ketika tawar menawar.

“Ayo, ayo, 35..35..35,” kata abang penjual.
“30 ya?” tawar emak-emak.

Di kampung halaman saya, sudah lama orang menggunakan kata ewu (ribu) untuk juta. Wedhuse iki pirang ewu?

Baca juga: Kembali kepada Tuhan

Fenomena apa itu?

Fenomena di atas adalah bukti, tanpa disadari, masyarakat ternyata sudah melakukan redenominasi. Mereka telah bertindak nyata tanpa banyak wacana.

Bagaimana Pak/Bu, kapan redenominasi akan diimplementasi? Anda sudah siap?

Salam siap.

©️ DPS

Kemayoran, Jakarta, 13/9/2022 23.15

#melekbahasa
#melekberita

Image by DPS

Kembali kepada Tuhan

0

Jika engkau belum mempunyai ilmu, hanyalah prasangka,
maka milikilah prasangka yang baik tentang Tuhan.

Begitulah caranya!

Jika engkau hanya mampu merangkak,
maka merangkaklah kepadaNya!

Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyuk,
maka tetaplah persembahkan doamu yang kering, munafik dan tanpa keyakinan;
karena Tuhan, dengan rahmatNya
akan tetap menerima mata uang palsumu!

Jika engkau masih mempunyai seratus keraguan mengenai Tuhan,
maka kurangilah menjadi sembilan puluh sembilan saja.

Begitulah caranya!

Wahai pejalan!
Biarpun seratus kali engkau ingkar janji,
ayuhlah datang, dan datanglah lagi!

Karena Tuhan telah berfirman:
“Ketika engkau melambung ke angkasa
ataupun terpuruk ke dalam jurang,
ingatlah kepadaKu,
karena Akulah jalan itu.”

– Jalaluddin Rumi

Baca juga: Sajak Makna

Kemayoran, Jakarta, 13/9/2022

Image oleh DPS

Logika Kang Paino dan Nalar Kang Ngatno

0

melekberita.com – Cerita ini adalah cerita tentang seorang perokok. Perokok yang selalu saja ada akalnya. Kata teman saya selalu ngeyel, angel dikandani (sulit dibilangin). Tapi kalau kata saya, itu tanda sebuah “kecerdikan”.

Cerita ini terinspirasi dari  berbagai sumber, dari cerita tongkrongan sehari-hari yang pernah saya dengar hingga cerita yang saya baca di internet.

Al kisah di sebuah angkot, pada suatu siang yang terik.

Kang Paino duduk samping Kang Ngatno di dalam angkot jurusan kota. Kang Ngatno klepas klepus, sedot sebul. Asap rokok seketika memenuhi kabin angkot yang sudah penat.

“Sudah berapa lama sampeyan ngrokok Kang,” tanya Kang Paino.

“Kurang lebih rong puluh (dua puluh) tahun mas,” jawab Kang Ngatno.

“Sehari berapa bungkus?”

“Gak banyak Mas, hanya satu bungkus”

“Kalau harga rokok per bungkus saya ambil rata 10 ribu, satu minggu sampeyan habis 70 ribu. Dan satu bulan sekitar 300 ribu. Berarti 1 tahun kurang lebih 3,6 jutaan. Kali 20, sudah 72 jutaan, uang sampeyan bakar buat rokok,” kata Kang Paino panjang lebar.

“Wah cerdas itungan sampeyan Kang,” kata Kang Ngatno.

“Kalau sampeyan gak ngrokok, uang itu bisa sampeyan belikan mobil seken. Sehingga sampeyan gak perlu lagi naik angkot seperti sekarang.” jelas Kang Paino mantab.

“Sampeyan ngrokok?” tanya Kang Ngatno.

“Enggak Kang.”

“Lho kok sekarang masih naik angkot?” tanya Kang Ngatno.

Kang Paino : (…loading…)

Salam loading.

Kemayoran, Jakarta, 11/9/2022 21:17

#melekcerita
#melekberita

*Image by Pixabay

Fashion Village

0

The Overtunes sedang menghibur muda-mudi di acara Fashion Village, Mal Kelapa Gading, Sabtu (10/9/2022).

Apa itu Fashion Village?

Fashion Village adalah pameran fashion, mulai dari sepatu, kaos, baju, gamis, batik, jilbab, hingga aksesoris karya-karya desainer dalam negeri.

Fashion Village menghadirkan produk industri mode yang bernafaskan budaya dan telah terkurasi. Seperti wastra nusantara, yaitu: kain batik dan tenun.

Acara ini merupakan wadah bagi UMKM, brand lokal, dan pelaku mode untuk menampilkan produk mereka. Desainer berbakat menampilkan interpretasi tren mode terbaru. Dan mereka wujudkan dalam peragaan berbagai koleksi fesyen.

Siapa saja desainernya? Maaf, saya tidak tahu. Next time tak belajar.

Apa saja lagu yang dinyanyikan The Overtunes? Maaf, saya juga tidak tahu.

Tahunya apa? Yang saya tahu vokalisnya The Overtunes, Mikha Angelo pernah ikut X Factor musim perdana. Mikha saat itu dimentorin oleh Anggun. Ia terhenti di empat besar, setelah membawakan lagu mungkin nanti, Noah.

Malam ini, Mikha bernyanyi hangat dengan penggemarnya. Suasananya sangat meriah. Sesekali terjadi kor. Saya melihat muda-mudi itu bernyanyi riang gembira. Tidak ada protes BBM di sini.

Sayup-sayup saya mendengar..

“Cause I will fall for you
No matter what they say
I still love you (I still love you)

You’ll never be alone
Now look me in the eyes
I still love you (I still love you)”

Salam love you

– ©️ DPS

Kelapa Gading, Jakarta, 10/9/2022 19:55

#melekberita

*Image by DPS