Home Blog Page 27

Berita di Negeriku

0

Aku melihat berita
Di negeriku ada bom panci

Aku melihat berita
Di negeriku ada hakim konstitusi tertangkap korupsi

Aku melihat berita
Di negeriku ada masa ungkit toleransi

Aku melihat berita
Di negeriku ada pendukung 2 dan 3 saling maki

Aku melihat berita
Di negeriku ada yang berbeda pendapat saling memupuk benci

Aku melihat berita
Di negeriku ada anggota DPD berkelahi demi kursi

Aku melihat berita
Di negeriku ada taruna di asrama yang mati

Aku melihat berita
Di negeriku ada anak gugat orang tuanya setengah mati

Aku melihat berita
Ketakutan terus di reproduksi

Ternyata
Negeriku menyeramkan sekali

Atau
Akalku yang telah tercuci


Djakarta, 8/4/17 11:30
@DPSasongko

Pintar dalam Bisnis

melekberita.com – Saat membahas tentang sebuah produk di dalam rapat manajemen terjadi perbedaan pendapat yang tajam. Ada dua kelompok yang berseberangan. Kelompok A yang ahli strategi dan kelompok B yang jago eksekusi.

“Produk harus seperti ini. Dari sisi teori, konsep dan strategi tidak bisa produk seperti itu,” kata kelompok A.

“Bisa. Produk bisa seperti ini. Di lapangan produk seperti itu tidak bisa dijual. Tidak laku,” kata kelompok B.

Jika pada rapat manajemen tersebut kekuatan kedua kubu 50% vs 50% maka dibutuhkan ‘kecerdasan’ direktur untuk mengambil keputusan dengan tepat.

Di buku “Pembelajaran T. P. Rachmat” ada tulisan yang bagus soal kecerdasan (smart). Seperti kasus di atas, dalam kehidupan sehari-hari, kita sering membagi kecerdasan itu menjadi dua, yaitu: academic smart dan street smart.

Academic smart adalah orang yang pintar berkat belajar dari buku, konsep dan teori. Sedangkan street smart adalah orang yang pintar berkat belajar dari pengalaman hidupnya yang kadang keras dan penuh tempaan.

Pembagian seperti ini, disadari atau tidak telah menciptakan sikap dan pola pikir dikotomis.

Orang bertipe academic smart merasa nyaman dan terlatih belajar lewat bacaan yang penuh teori. Belajar dari buku, jurnal dan aneka tulisan karya orang hebat dan besar. Namun, ia tidak terasah untuk memetik pembelajaran lewat pengalaman hidup. Entah itu pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain.

Sebaliknya, orang bertipe street smart merasa cukup belajar dari pengalaman hidup saja. Baginya pengalaman adalah guru terbaik. Ia kurang nyaman terhadap pengetahuan-pengetahuan teoritis yang ada di buku-buku. Ah teori!

Sikap dan pola pikir dikotomis pada akhirnya membuat kita sering melakukan konfrontasi terhadap dua kutub. Pilih A atau B?

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dihadapkan pada pilihan-pilihan. Antara : teori atau praktek, buku atau lapangan, refleksi atau aksi, belajar atau bekerja, latihan atau bertanding.

Para pakar menyebut sikap dikotomis seperti ini sebagai pola pikir yang disandera oleh tirani “ATAU” (the tyranny of the OR).

Apa itu? Tirani atau adalah orang yang berpikir dengan cara mengonfrontasikan dan memilih satu sama lain tanpa memikirkan kemungkinan opsi ketiga.

The test of a first-rate intelligence is the ability to hold two opposite ideas in mind at the same time, and still retain the ability to function.” diriwayatkan oleh F. Scott Fitzgerald, penulis besar Amerika.

Dari dalil di atas, para genius didefinisikan sebagai orang yang sanggup merengkuh secara harmonis hal-hal yang dianggap kontradiktif oleh kebanyakan orang. Mereka mampu melepaskan diri dari tirani “ATAU”. Mereka mampu membangun paradigma baru, yaitu: paradigma “DAN” (the genius of the AND).

The Genius of the AND

Kembali ke laptop. Mari kita renungkan bersama. Bukankah teori yang baik itu lazimnya dibangun di atas praktik yang sudah mapan? Pun sebaliknya, bukankah praktik yang efektif itu umumnya dilakukan di atas landasan teori yang sudah teruji?

Buku yang sahih ditulis berdasarkan pengalaman nyata sesungguhnya di lapangan. Demikian juga pengalaman nyata akan semakin kaya dan lengkap jika sebelumnya dibekali dengan informasi dan pengetahuan yang ada di dalam buku.

Belajar menjadi modal penting untuk bekerja secara lebih efektif. Sebaliknya, bekerja juga menjadi sumber pembelajaran yang luar biasa.

Gagasan-gagasan besar acapkali lahir dari pola pikir integratif. Pola pikir yang mempertemukan dua hal yang seolah-olah berbeda. Contohnya : konsep blue ocean strategy yang digagas oleh W. Chan Kim dan R. Mauborgne. Konsep yang sekarang menjadi bahan kajian dimana-mana itu.

Banyak orang berpikir dengan kerangka “ada uang, ada kualitas”. Artinya peningkatan mutu (value) produk sekaligus peningkatan biaya (cost).

Dalam kerangka berpikir seperti ini, value dianggap sebagai sesuatu yang berseberangan dengan cost. Sehingga pilihannya adalah value atau cost.

Di dalam konsep blue ocean strategy, kedua kutub tersebut disandingkan. Sehingga lahirlah apa yang disebut value innovation.

Value innovation mengubah cara pandang kita. Ia mengajak orang berpikir dengan kerangka ‘dan’ bukan ‘atau’ lagi. Dalam contoh kasus ini, gagasan strategis harus mampu menghasilkan peningkatan value produk dan sekaligus menurunkan cost produksinya.

Blue ocean strategy menjadi inspirasi perusahaan sekelas Samsung dan Toyota untuk memenangkan kompetisi dengan mengadopsi strategi value innovation. Dan mereka sukses.

Pembelajaran

“Ada tiga proses pembelajaran yang ditempuh manusia, yaitu : intelligenceexperience,experimentation.” diriwayatkan oleh David A. Garvin dari Harvard.

Pembelajaran intelligence adalah belajar lewat akumulasi informasi dan pengetahuan yang dapat memperkaya wawasan dan pemahaman orang akan sesuatu.

Pembelajaran experience adalah belajar dengan mengalami langsung suatu peristiwa sehingga keterampilan lebih terasah dan penghayatan jadi lebih nyata.

Pembelajaran experimentation adalah belajar dengan cara ujicoba semua pengetahuan dan keterampilan yang telah dimiliki dalam setting kenyataan yang sesungguhnya.

Selain tiga hal di atas, secara kejiwaan manusia juga mempunyai tiga aspek pembelajaran, yaitu: kognitif (pengetahuan), afektif (perasaan) dan psikomotorik (perilaku).

Penerapan tiga aspek ini, dalam kehidupan sehari-hari dapat kita lihat pada orang belajar berenang. Orang tersebut harus menguasai teori renang, merasakan suasana kolam renangnya dan harus berani terjun langsung ke dalam air.

Akhirnya, pembelajar sejati tak akan memisahkan antara academic smart atau street smart. Karena smart is just smart.

Ilustrasi: Pixabay

Fajar Baru Kapitasosialis?

0

Katasimbah.com – Di buku terbarunya berjudul Confronting Capitalism, Profesor Philip Kotler menulis tentang marketing dan kapitalisme. Apa alasannya? Ada hubungan apakah antara keduanya? Bagaimana mereka bekerja?

“Mengapa saya menulis soal kapitalisme? Pertama, saya adalah Ph.D di bidang ekonomi. Saya menghabiskan waktu bertahun-tahun belajar bagaimana market dan marketing bekerja. Marketing adalah cabang dari ilmu ekonomi,” kata Kotler di ASEAN Marketing Summit, di Jakarta, Jumat (9/10/2015) seperti dikutip Marketeers.

Alasan kedua, lanjut Kotler, marketing adalah mesin dari kapitalisme. Ia beranggapan, tanpa marketing, kapitalisme akan kolaps. “Kapitalisme adalah sistem ekonomi terbaik untuk memproduksi jutaan produk dan jasa. Namun, mereka akan berada di rak jika tidak bisa dipasarkan,” katanya.

Kajian Gagasan dibalik Pemberian Nama Anak

0

Nama anak adalah doa. Kepercayaan ini mengakar kuat di benak masyarakat sejak dulu hingga kini. Tak percaya? Coba tanyakan kepada mbah buyut, eyang, pak dhe, bu lek, kerabat atau teman.

Dari penelusuran saya di mesin pencari google, seorang anak memang berhak diberi nama yang baik.

Seseorang datang kepada Nabi SAW dan bertanya, ”Ya Rasulullah, apa hak anakku ini?” Nabi SAW menjawab, “Memberinya nama yang baik, mendidik adab yang baik dan memberinya kedudukan yang baik (dalam hatimu).” (HR. Aththusi).

Berdasar hadis tersebut tidak ada kewajiban memberi nama anak dengan bahasa Arab. Artinya orang bebas memakai bahasa apapun untuk nama anak. Bisa memakai bahasa Jawa, Madura, Bali, Sunda, Batak, Makassar, Maluku, Papua dan sebagainya. Yang penting harus baik.

Lantas darimana munculnya anggapan bahwa nama anak dengan bahasa Arab itu lebih baik daripada bahasa yang lainnya? Entahlah. Yang jelas, di Arab orang mengumpat dan marah-marah itu juga menggunakan bahasa Arab.

Kembali ke nama, zaman sekarang orang tua lebih senang memberi nama anak jika tidak kearab-araban ya kebarat-baratan. Mengapa? Fenomena apakah ini?

Religius atau Dianggap Religius?

Nama anak dengan Bahasa Arab dianggap lebih religius. Orang tua memberi nama anak dengan bahasa Arab, punya motif, salah satunya karena mereka ingin mendapatkan pengakuan dari lingkungan. Pengakuan tentang religiusitas di keluarganya.

Semakin Arab nama yang diberikan kepada anak, semakin ingin dianggap agami kehidupan suatu keluarga tersebut. Pengakuan seperti ini yang diharapkan. Keagamaan menduduki tempat yang tinggi dalam sebuah keluarga. Meskipun ia hanya simbolisasi saja.

Tentu tidak semua demikian, sebab ada juga orang religius yang memberi nama anaknya menggunakan bahasa Arab.

Kenapa peristiwa seperti di atas terjadi? Hal ini tak lepas karena terjadinya era pembaharuan dalam memahami ajaran Islam. Pembaharuan ini mengajak setiap manusia agar kembali mengamalkan Islam secara total. Baik dari segi negara, hukum, ekonomi hingga ruang pribadi sekalipun. Termasuk urusan memberi nama anak.

Modern atau Ngawur?

Golongan kedua adalah orang tua yang suka memberi nama anak ala kebarat-baratan. Sama seperti di atas bedanya pada motif. Motif orang tua di sini adalah modernitas. Nama Indonesia asli seperti Bejo, Joko, Asep, Cecep, Enting, Entong, Made, Wayan dianggap sudah kuno.

Pandangan seperti ini tak lepas dari arus globalisasi tentunya. Kemajuan dunia barat telah menciptakan kiblat baru. Seperti agama, kemajuan tersebut mampu menembus ruang-ruang pribadi hingga masuk ke urusan nama anak.

Jika kita endapkan sebentar, apakah betul nama Robert itu lebih modern daripada Bejo? Apakah betul modern dan tidaknya seseorang itu dilihat dari namanya?

Lantas, kemajuan atau kengawurankah ini? Anda tentu punya jawabannya.

Hilangnya Budaya

Jika hal-hal seperti di atas terus terjadi maka suatu saat hilanglah budaya asli kita yang konon adi luhung. Dalam hal ini yaitu bahasa untuk nama anak sebagai jatidiri bangsa.

Kelak kita akan menyaksikan Sharon Britney Keizha dengan rambut disemir merah, memakai celana levis, makan pizza hut sambil minum kopi starbucks sedang mendengarkan musik hip-hop di sebuah mal X.

Sementara itu dilain tempat terlihat pria bergaya Arab,  namanya Fakhri Ghassan. Ia berkenalan dengan sohibnya disebuah acara kajian. Katanya : “Nama ana Fakhri Ghassan bukan Pahri Hasan, ikhwan dan akhwat sering salah sebut lho, jadi harap antum paham ya.”

Jika kedua orang tersebut adalah peranakan bule atau Arab tentu wajar-wajar saja. Tapi jika bapaknya asli Wlingi-Blitar dan ibunya asli Solo tentu ini tidaklah lucu.

Selain doa, nama juga merupakan identitas. Identitas adalah pembeda antara manusia satu dengan yang lainnya. Antara orang Indonesia, Arab atau Barat.

Makanan asli kita terpinggirkan, bahasa kita tersisih, pakaian kita tergusur, dan gaya hidup kita terimitasi. Jika nama anak kita juga ‘terhapus’ lantas bagaimana kita dikenal sebagai orang Indonesia.

Dalam hal pelestarian budaya, orang tua yang menamai anaknya dengan Bahasa Jawa, Madura, Bali, Sunda, Batak, Makassar, Maluku, Papua jelas lebih berperan jika dibanding dengan orang tua yang menamai anaknya dengan bahasa Arab atau Barat.

Bagaimana dengan orang tua yang memberi nama anaknya Sabklitinov yang berarti Sabtu Kliwon Tiga November?

(©ADS)

*Foto oleh Markus Winkler dari Pixabay
*Tulisan ini pertama dibuat pada 05 Juni 2007 – 18:00 dan direvisi 30 Januari 2015 – 15:59

Majikan, Istri dan Pembantu

0

Katasimbah.com – Kabar tentang Susi yang dihamili oleh majikannya di Desa Adem Ayem ibarat Angin Gunung. Hembusannya kencang, menyebar dengan cepat, menembus dinding rumah penduduk desa lalu hilang di lembah sunyi.

Di desa itu, majikan menghamili pembantunya ternyata lazim terdengar. Penduduk tidak terkejut dengan kabar seperti itu. Mereka menganggap hal ini semacam rahasia umum.

“Sudah biasa mas. Kalau anaknya cowok nanti diopeni sama majikannya,” kata Lek Jo.

Strategi atau Eksekusi

0

Katasimbah.com – Berikut ini adalah hasil survei LSK (Lingkaran Survei Katasimbah) tentang Strategi dan Eksekusi terhadap kesuksesan.

Tingkat kepercayaan responden bahwa kunci kesuksesan itu adalah eksekutor yang hebat.
1. 37,5 persen responden percaya bahwa eksekutor yang hebat itu bukan kunci kesuksesan
2. 62,5 persen responden percaya bahwa eksekutor yang hebat itu adalah kunci kesuksesan

Tingkat kepercayaan responden bahwa kunci kesuksesan itu adalah strategi yang hebat.
1. 75 persen responden percaya bahwa strategi yang hebat itu bukan kunci kesuksesan
2. 25 persen responden percaya bahwa strategi yang hebat itu adalah kunci kesuksesan

Begitulah ker, dalam hidup ini, untuk meraih gol dibutuhkan strategi dan eksekusi. Survei mengatakan bahwa sebagus apapun strategimu jika eksekusimu payah kesuksesan itu jauh. Demikian sebaliknya, meski peno miskin strategi tapi jika eksekusimu ciamik soro maka kesuksesan itu dekat.

Aku jadi teringat kata Pak Sutrisno : hidup adalah perbuatan. Dan eksekusi itu adalah bab perbuatan ker.

Salam Lontong.

Al Quran, Impossible is Nothing

0

Katasimbah.com – Sekitar 11-12 tahun yang lalu, di sebuah rumah kontrakan daerah Mampang Jakarta, aku berdiskusi soal ‘ngaji’ dengan seorang teman. Saat itu sedang ‘boomingnya’ putihkan Jakarta. Suatu aksi damai yang acap kali memanen decak kagum dari masyarakat. Termasuk aku.

Pendidikan, lingkungan dan pergaulan kota, membuat temanku yang bocah ndeso itu lupa dengan ke-ndesoaan-nya. Jiwanya terbakar. Tradisionalitasnya sedang diubah oleh zaman. Menjadi manusia modern mungkin itu inginnya.

Berlandaskan nilai-nilai yang menurutnya cocok, pas, sesuai, dia tidak tinggal diam. Dia turun tangan. Geloranya membara. Saat itulah aku mengenal istilah ghirah dan mulai akrab dengan kata ikhwan serta akhwat.

Ilusi Kecantikan

Apa itu ilusi kecantikan? Di antara cewek berikut ini : Dian Sastro, Angelina Jolie, Jlo, Beyonce, Kim Kardashian, Maria Ozawa, Selena Gomes, siapakah yang paling cantik?

Pertanyaan di atas memang sederhana, namun jawabannya rumit. Masing-masing individu punya preferensi sendiri. Kalau kamu penasaran, mungkin pikiranmu sekarang mulai melayang, mencoba menjawab pertanyaan yang sepele itu.

Ada yang mulai membayangkan, menilai dari wajah, warna kulit, bodi, aset dan lekuk tubuh. Sebagian yang lain mungkin ada juga yang mulai menilai dari sisi kecerdasan, sisi kognitif dan psikomotorik. Sisi lainnya lagi, mungkin juga ada yang mulai menilai dari sisi perilaku, spiritualitas, akhlak hingga soal kepercayaannya.

Di hadapan manusia yang heterogen dan multikultural, kecantikan Susi menyublim dan menjadi absurd. Di sinilah, kecantikan ideal itu bersifat ilusif.

Ilusi Kecantikan

Ada proyek menarik di dunia yang diberi nama Before & After. Esther Honig, seorang jurnalis lepas yang tinggal di Kansas City, AS menyebar fotonya untuk dipercantik dengan perangkat lunak Photoshop di berbagai negara. Tujuannya untuk mengetahui standar kecantikan masing-masing negara itu seperti apa?

Cek TKP : http://www.estherhonig.com/#!before–after-/cvkn atau di sini

Baca juga : Kajian Lapangan terhadap Fenomena Ban Bocor di Jalan Raya

Hasilnya, kecantikan itu ternyata banyak. Dia tidak tunggal. Tidak monopoli. Ia hidup di pikiran setiap manusia. Cantik menurut Bejo belum tentu menurut Budi, Wati, atau Iwan.

Susi, kembang desa dari Dukuh Maju adalah perempuan tercantik, sumber fantasi pemuda desa. Namun, ketika kecantikan Susi dibawa ke ibukota dan dipersandingkan dengan kecantikan Eva, Jenny, Inne, Balqis, dia akan jadi bias.

Apakah kecantikan Susi yang natural khas desa itu luntur dan kalah bersaing dengan kecantikan metropolis yang penuh polesan? Tidak. Di hadapan manusia yang heterogen dan multikultural, kecantikan Susi menyublim dan menjadi absurd. Di sinilah, kecantikan ideal itu bersifat ilusif.

Kalau begitu, apakah kecantikan itu ada mas?

(©ADS)

*Foto oleh Ichigo121212 dari Pixabay

Figur atau Mesin?

0

Katasimbah.comGuys, dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita bingung karena dibingungkan oleh yang membingungkan kita. Karena beban kehidupan sehari-hari dan otak kita yang malas, kebingungan itu kita telan sebagai kebenaran lalu kita arsip di dalam otak.

Celakanya, arsip itu kita akses kapan saja untuk merespon situasi yang kita hadapi sehari-hari. Karena kebenaran yang kita simpan itu sejatinya adalah kebingungan, apapun sikap yang kita ambil berlandaskan arsip itu akan cenderung keliru atau bias.

Misalnya, dalam pertandingan 9 Juli nanti, figur atau mesinkah yang berpangaruh untuk memenangkan pertandingan?

Tiki-taka Expired?

0

Katasimbah.com – Sabtu (14/6) 02.00 WIB, Arena Fonte Nova, Salvador, menjadi saksi kehebatan timnas Belanda. Dipimpin ‘Jenderal’ Louis van Gaal dan Kapten Robin van Persie, pasukan ‘Kompeni’ menang telak 5-1 atas timnas Spanyol di laga pertama babak penyisihan Grup B Piala Dunia 2014.

Tim hebat, juara tiga turnamen besar berturut-turut (Piala Eropa 2008, Piala Dunia 2010 dan Piala Eropa 2012), La Furia Roja nampak lulut (kuthuk). Pertandingan terlihat seperti game di Play Station 2014, gal gol gal gol.

Sebenarnya sejak kick off babak pertama, Spanyol mendominasi bola. Umpan-umpan pendek khas tiki-taka mengalirkan bola dari kaki ke kaki. Di berbagai pertandingan teknik seperti ini membahayakan.