Home Blog Page 18

Quotes: Menahan Lelahnya Belajar

“Jika kamu tidak sanggup menahan lelahnya belajar maka kamu harus sanggup menahan perihnya kebodohan” – Imam Syafi’i

Baca juga: Quote Berbuat Adil sejak dalam Pikiran

Salam Belajar.

Kemayoran, Jakarta, 06/03/2022 15:39

– ©️DPS

#melekquotes
#melekberita

Image by DPS

Manusia, Bahasa dan Copy Paste

0

Ⓜ️ melekberita – Di dalam istilah komputer ada namanya copy paste. Di mana dengan teknologi itu sebuah data (foto, audio, video, dokumen) atau program bisa Anda salin dari satu tempat ke tempat lain, sama persis. Plek ketiplek.

Dengan teknologi copy paste, sebuah data bisa diolah di berbagai komputer lain secara sama atau beda. Sehingga proses yang besar dan rumit bisa dikerjakan lebih cepat dan mudah. Di sini lah kemudian teknologi komputer berkembang pesat.

Tak terbayangkan jika tidak ada teknologi copy paste. Betapa sulit dan repotnya memindahkan sebuah data (file).

Manusia belum punya teknologi ini? Atau punya, tapi jauh lebih canggih. Kenapa? Karena data (fakta) yang sama akan diterima manusia secara berbeda. Tidak plek ketiplek.

Bagaimana itu maksudnya?

Misalnya begini: jika saya bilang ‘menggonggong’ maka apa yang ada di pikiran saya tentu serupa tapi tak sama (berbeda) dengan apa yang ada di pikiran Anda? Meskipun artinya sama-sama menggonggong.

Kenapa? Ya wajar karena database dan memori yang ada di otak kita memang berbeda. Sehingga persepsi kita juga berbeda. Maka normal juga jika suka terjadi konflik antar manusia. Salah pengertian, salah paham, dan gagal paham.

Hal seperti ini, pada akhirnya membuat manusia mengembangkan bahasanya. Terjadilah obrolan diantara warga dan warganet. Bahasa manusia kemudian berkembang pesat.

Maksud saya begini. Maksud saya begitu. Bukan, maksud saya beginu. Tesis, antitesis, dan sintesis.

Baca juga: Cara Menentukan Orisinalitas File

Dengan kemampuan bahasanya, manusia menjadi makhluk yang superior di dunia. Pemimpin di dunia ini. Manusia bisa gotong-royong, kerja sama, kolaborasi dengan manusia lain secara terstruktur, sistematis, dan masif.

Dengan bahasa, sesuatu yang mustahil dikerjakan oleh makluk lain, bisa dikerjakan oleh manusia. Manusia bisa membangun jalan tol, membangun bendungan, membangun bapak kota baru, update status, menyebarkan ujaran kecintaan.

Dengan bahasa, manusia juga bisa mengeruk gunung, menggunduli hutan, menyebarkan ujaran kebencian, hoak, fitnah, menyerang negara lain.

Pendek kata, bahasa adalah keunggulan yang dimiliki manusia dibanding makhluk lain. Dan bahasa ini sifatnya netral. Ia bisa digunakan untuk ABC ataupun XYZ. Untuk mengatur atau tidak mengatur, TOA.

Kembali ke copy paste. Jika mendengar kata ‘guk’ maka apa yang ada di pikiran Anda?

Salam Guk

Kemayoran, Jakarta, 26/02/2022 09.20

©️ DPSasongko

#melekkata
#melekberita

Image by Pixabay

Unit Link dan Pilihan Alternatif

Sekitar tahun 2010, seorang teman dekat ikut produk keuangan unit link. Kenapa? Alasan utamanya adalah ia ingin mendapat perlindungan asuransi sekaligus bisa investasi. Cocok. Pas, sesuai kebutuhannya saat itu.

Sebelum mendaftar, teman ini mengajak ngobrol saya. Ia meminta pandangan saya. Saya berusaha menunjukkan pilihan alternatif. Menurut saya, kalau tujuan dia seperti itu, lebih baik ambil produk terpisah saja. Asuransi sendiri. Investasi sendiri.

Kenapa? Sederhananya jika digabung, premi yang kita bayar itu akan dibagi ke beberapa bagian. Tidak hanya untuk biaya asuransi dan investasi, tapi juga biaya administrasi, biaya akuisisi, dan biaya lainnya. Komposisinya kita tidak tahu. Sehingga nanti hasilnya kurang maksimal.

Teman saya berargumen sedemikian rupa. Ini produk bagus, banyak manfaatnya. Misalnya: perlindungan hingga usia 99 tahun, jika terjadi resiko maka kita tak perlu bayar premi, jika tidak terjadi apa-apa cukup bayar 10 tahun saja tetap dapat manfaatnya, dan bisa dobel klaim. Penjelasan serupa yang pernah disampaikan agen unitlink kepada saya.

Saya kalah. Argumen saya tak cukup kuat untuk mengubah keyakinan teman saya. Argumen agen unit link telah menancap dalam sekali.

Jujur, saat itu saya termenung. Ilmu dan pengetahuan yang saya miliki, serasa sia-sia. Tidak bisa mengubah sikap teman dekat sendiri. Ah tapi siapalah saya ini.

Beberapa tahun kemudian saya tanyakan kabar unit linknya. Teman saya bilang, sudah ia tutup.

Kenapa? Karena hasilnya tidak optimal. Ia tutup setelah ikut sekitar tiga tahun dengan rugi sekitar tiga jutaan. Gak papa, daripada rugi lebih banyak, katanya.

Beberapa bulan yang lalu, saya baca berita tentang produk unit link yang dipermasalahkan nasabahnya. Karena janji pengembalian 100% di tahun ke-10 ternyata hanya dikembalikan 30%.

Ah beruntung, teman saya tadi tidak ikut sampai tahun kesepuluh.

Hari ini, saya googling, kasus unit link itu masih belum selesai. Entah gimana nanti akhirnya.

Membelanjakan uang untuk jangka panjang, seperti membeli unit link, asuransi atau investasi itu butuh pertimbangan yang matang dan mendalam. Tidak bisa grusa-grusu. Emosional.

Kenapa?

Karena namanya investasi itu bisa untung, bisa rugi. Jadi baca, pelajari, pahami dengan seksama. Endapkan, saring, baru putuskan.

Sebab yang Anda belanjakan itu adalah uang, bukan daun.

Salam daun.

Kemayoran, Jakarta, 12/02/2022 22.50
©️ DPSasongko

#melekfinansial
#melekberita

Kunci Bisnis Kuliner Sukses (Rahasia)

0

Ⓜ️ melekberita – Jumat, 28 Januari 2022, saya makan bebek goreng di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan. Restoran bebek goreng tersebut tersembunyi. Letaknya berada di dalam gang buntu, di belakang gedung BNI Life. Tidak dipinggir jalan raya.

Suasana resto sangat asri. Banyak tanaman hijau, pohon bambu, dan bunga menghiasi lingkungan. Teduh, rindang, tenang, dan nyaman.

Arsitektur dapur dan bangunan resto khas Jawa tradisional. Pendopo terbuka, tanpa plafon dengan ornamen penuh kayu.

Jalanan berbatu, meja, kursi, gebyok, genteng, sangkar burung, sepeda ontel, yang ditata sedemikian rupa, mampu menghadirkan suasana pedesaan di tengah ibu kota. Sebuah pemandangan eksklusif yang tentu saja unik.

Saya datang sudah jam makan siang. Saat itu, resto ramai. Semua bangku hampir terisi. Penuh. Untung, teman saya sudah pesan tempat sebelumnya.

Jika dilihat dari penampilannya, pengunjung resto ini jelas dari kalangan punya. Punya uang untuk membayar maksudnya.

Baca juga: Orisinalitas sebuah File

Bagaimana tidak, satu porsi bebek goreng harganya 42 ribu. Belum termasuk nasi, minum, camilan dan pajak. Jika pengen puas, paling tidak satu orang minimal habis 100 ribuan.

Untuk ukuran resto, harga segitu mungkin standar. Atau malah terbilang murah.

Untuk ukuran bebek goreng, harga ini jelas mahal. Apalagi jika dibanding bebek goreng kaki lima.

Bebek goreng kaki lima, di Kemayoran, Jakarta Pusat, seporsi hanya 30 ribu. Itu sudah termasuk nasi, minum, dan potongan bebek yang jauh lebih besar.

Rasa, boleh dibilang 11-12.

Kunci Bisnis Kuliner

“Ya lain lah mas, di sini yang dijual tidak hanya bebek goreng tapi suasananya juga,” kata teman saya yang paham pemasaran itu.

Saya mengangguk. Tetiba saya ingat kopi di mall yang harga segelas 30 ribuan itu. Dan laris manis. Kata teman saya tadi, menjual suasana.

Suasana adalah kunci bisnis kuliner, selain rasa.

Memang jika saya perhatikan, pengunjung di sini tidak hanya sekadar makan. Mereka asik nongkrong dan mengobrol. Terjadilah tukar tambah ide di sana.

Entah sudah berapa banyak ide-ide besar, deal-deal bisnis, solusi-solusi jitu, lahir dari tempat ini. Tidak ada datanya.

Belajar dari resto bebek goreng ini, ternyata membangun suasana itu penting.

Jika Anda buka usaha kuliner, selain rasa, suasana adalah hal yang layak Anda pikirkan.

Kenapa?

Karena suasana ternyata bisa menjadi faktor penting untuk menarik pengunjung. Suasana juga bisa ikut menentukan harga sebuah barang.

Dan yang penting untuk Anda ketahui, ini rahasia ya, suasana itu harga batas atasnya adalah langit.

Berapakah Anda berani membayar sebuah kenyamanan?

Salam kenyamanan.

Kemayoran, Jakarta, 96/02/2022 00.10
©️ DPSasongko

#melekbisnis
#melekberita

Image by DPS

Jangan Baca Buku

0

Ⓜ️ melekberita – Kisah ini dimulai beberapa ratus purnama yang lalu. Saat HP pintar belum ada. Kepintaran telepon genggam masih sebatas SMS saja.

Awal tahun 2000 an, saya hobi membaca. Buku apa saja saya lahap. Mulai dari komik, cerpen, novel, investasi, komputer, agama, psikologi, pengembangan diri, dan lainnya.

Setiap Minggu, saya acap kali main ke toko buku di Kawasan Matraman, Jakarta Timur, yang konon terbesar se Asia Tenggara itu.

Saya senang sekali jika sudah berada di sana. Saya seperti masuk ke ruang pengetahuan yang luas. Ingin tahu apa saja, tinggal pindah dari rak ke rak. Saya sering tenggelam diantara rak-rak itu. Sering tanpa saya sadari, saya sudah tiga, empat jam berada di dalam.

Sampai-sampai saya punya keinginan untuk memindahkan isi toko ini ke rumah. Suatu saat nanti. Entah kapan.

Sungguh itu adalah pengalaman yang asik pakai banget.

Buku bestseller sering jadi rujukan saya saat itu.

Bagaimana dengan buku lama? Selagi sreg, saya juga membacanya.

Baca juga: Puisi Kertas Kosong

Saya adalah tipe orang yang tidak suka membeli buku yang tipis. Menurut saya, membeli buku yang tipis itu rugi. Karena saya membeli buku juga untuk koleksi. Jadi buat apa beli buku yang tipis. Pikir saya saat itu.

Pendek kata, buku demi buku menumpuk di kosan. Kamar yang 3×3 itu penuh dengan tumpukan buku. Bahkan ada beberapa (puluhan) buku yang masih disegel.

Membeli buku itu satu hal. Dan membacanya ternyata adalah hal lain.

Pada suatu hari, saat sedang main ke toko buku itu, saya membaca satu buku yang unik. Saya lupa judulnya. Saya ingat tulisan di dalamnya. Kurang lebih begini:

Stop! Berhentilah membaca buku. Buat apa Anda menghabiskan uang untuk membeli buku jika Anda tidak mempraktekkan isinya. Jadi mulai sekarang, stop membaca buku jika Anda tidak mempraktekkannya.

Plak. Kata-kata itu menampar kesadaran saya. Saya kesetrum. Seperti mantra, saya tersihir. Kata-kata itu langsung mempengaruhi hati dan pikiran saya.

Tetiba saya ingat tumpukan buku di kosan yang belum saya baca itu. Banyak banget.

Pikiran saya mengembara ke mana-mana. Dari sekian buku koleksi, kebanyakan semua itu hanya untuk memenuhi nafsu baca saya saja. Sedikit sekali isi buku itu yang saya praktekkan. Mengena banget kata-kata di atas. Pas menghujam ke hati.

Sejak membaca kata-kata itu, perilaku saya berubah total, 180 derajat.

Saya tidak lagi membeli buku. Saya tidak lagi ke toko buku. Buat apa beli buku kalau saya tidak mempraktekkannya. Habis-habisin uang saja. Pola pikir saya langsung ikut berubah.

Angin berhembus, musim pun berganti. Zaman digital datang. Telepon genggam menyerang dari berbagai penjuru. Informasi dan pengetahuan ada di dalam genggaman. Saya makin istiqomah tak pernah lagi ke toko buku.

<bersambung>

Kemayoran, Jakarta, 1/2/2022 23.03
©️ DPSasongko

#melekcerita
#melekberita

Image by Pixabay

Cara Menentukan Orisinalitas File

0

Ⓜ️ melekberita – Teknologi copy paste adalah salah satu penemuan canggih zaman digital. Dengan teknologi copy paste, Anda bisa menduplikasi sebuah file ke beberapa tempat sekaligus, dengan kualitas yang sama.

Jika Anda mencopy sebuah file dari A ke B, dan dari B ke seribu satu tempat maka file hasil copy itu akan sama plek dengan file asli. Tidak ada bedanya. Baik secara kualitas dan metadata.

Hal ini sangat bermanfaat. Misalnya untuk cadangan (backup) data.

Saat memori internal HP Anda penuh, Anda bisa copy foto-foto Anda yang indah itu ke eksternal hardisk atau cloud. Sehingga device Anda tetap bisa berfungsi secara maksimal.

Anda tidak perlu lagi mencetak dulu file-file foto tersebut untuk menyimpannya. Cukup copy saja ke tempat lain. Anda sudah punya cadangan data. Betapa mudah dan instannya.

Copy paste ini sering dan lazim digunakan orang untuk memindahkan data dari satu tempat ke tempat yang lain.

Di sisi lain, kemudahan seperti ini ternyata menimbulkan masalah baru.

Masalah apa?

Masalah terkait orisinalitas.

Maksudnya?

Begini ceritanya:

Saat Anda copy satu file ke 1001 tempat maka timbul pertanyaan. Apakah file copy itu asli? File asli dan hasil copy itu sama plek, apakah semua file itu asli? Manakah file yang asli?

Anda bisa saja dengan gampang menjawab file yang asli, ya file yang pertama lah.

Secara proses, file asli memang file yang pertama. Tapi secara teknis bisa jadi tidak. Secara teknis, file copy bisa juga disebut file asli. Misalnya CD software atau MP3 original. CD itu kan disebut asli meskipun dibuat dari hasil copy.

Tapi ok, fine. Jika Anda menganut paham bahwa file asli adalah yang pertama maka pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana jika file yang pertama itu hilang, ketimpa atau sudah Anda hapus?

Berdasarkan dalil Anda: file asli adalah file pertama maka sekarang tidak ada lagi file asli. Semua file palsu? Padahal secara kualitas, file copy sama persis dengan file asli.

Masalah kedua adalah soal kepemilikan.

Masalah akan semakin pelik dan rumit, jika file copy itu dipegang 1001 orang. Dan mereka tidak saling kenal. Dan bagaimana jika salah satu, dua, tiga orang itu mengaku memiliki file yang asli? Padahal file asli kan sudah tidak ada.

Jika file itu hanya foto biasa maka tentu tak jadi soal. Namun bagaimana kalau file itu memiliki nilai ekonomi. File karya digital. File karya maestro. File masterpiece.

Jawabannya adalah NFT.

Whatttt! Apa itu NFT?

Salam NFT.

Baca juga: Ghozali Everyday dan NFT

Jakarta, Kemayoran, 29/01/2022 23.07
©️ DPSasongko

#melekdigital
#melekberita

Image by Pixabay

Puisi: Kertas Kosong

0

Aku melihat anak-anak belajar
Ada yang menggambar, menulis, dan menghitung
Kemudian aku melihat kertas kosong
Aku berikan kepada mereka

Anak-anak
Tugas kalian hari ini adalah kertas kosong
Isilah kertas tersebut dengan bebas
Sesuai dengan pikiran dan perasaan kalian

Lima sepuluh menit
Aku berkeliling
Kuperhatikan mereka satu per satu
Apa yang telah digoreskannya

Kepada anak yang belajar menggambar
Kertas kosong itu mendadak menjadi lukisan
Mereka menggambar rumah, pesawat, dan pemandangan
Indah sekali

Kepada anak yang belajar menulis
Kertas kosong itu mendadak menjadi cerita
Mereka menulis puisi, curahan hati, dan cita-citanya
Indah sekali

Kepada anak yang belajar menghitung
Kertas kosong itu mendadak menjadi coretan
Mereka menambah, mengurang, mengali, dan membagi
Indah sekali

Kepada anak yang belajar mengerjakan soal abc
Kertas kosong itu ternyata tetap kosong
Mereka bingung
Mau mengisinya dengan apa

Aku teringat tentang ujian itu
Aku teringat tentang bank soal
Aku teringat tentang pendalaman materi, intesif dan bimbingan belajar
Di depan kertas kosong, mereka dibuat tak berdaya

Memilih jeruk atau apel
Memilih katak atau kelelawar
Memilih memaafkan atau mendendam
Itu mudah

Membuat tanah kosong menjadi jeruk atau apel
Membuat tanah kosong menjadi katak atau kelelawar
Membuat hati yang kosong menjadi memaafkan atau mendendam
Itu jauh lebih sulit

Kertas kosong
Setiap kita memilikinya
Sudah kau lukis, coret, atau tulis apa kertas itu
Atau masih kau biarkan tetap kosong

Baca juga: Apa itu Data, Fakta, dan Opini

Kemayoran, Jakarta, 23/01/2022 22:40

©DPSasongko
#melekpuisi
#melekberita

Kertas kosong.
Setiap kita memilikinya.
Sudah kau lukis, coret, atau tulis apa kertas itu.
Atau masih kau biarkan tetap kosong.

Image by Pixabay

Yang Perlu Anda Ketahui tentang NFT (Pemula)

Ⓜ️ melekberita.com – Siapa Ghozali Everyday? Kenapa dia viral? Apa itu NFT? NFT adalah? Mungkin ini pertanyaan-pertanyaan yang ada di pikiran Anda.

Ghozali Everyday adalah mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Semarang. Usianya 22 tahun. Nama aslinya Sultan Gustaf Al Ghozali.

Kenapa ia viral? Karena NFT.

Ghozali kaya mendadak karena NFT.

Begini ceritanya.

Dari tahun 2017 sampai 2021, Ghozali membuat swafoto (foto selfie). Tujuannya untuk membuat video timelapse tentang dirinya.

Akhir Desember 2021, ia mengunggah foto-foto tersebut ke Opensea. Sebuah marketplace untuk jual beli NFT.

Tak disangka, NFT swafotonya laris manis. Ghozali berhasil meraup 1,5 miliar hanya dalam hitungan hari.

Apa?

Ya, betul. Anda tidak salah baca. Kurang dari seminggu, Ghozali mendapat 1,5 miliar. Hanya dengan jualan foto saja.

NFT memungkinkan itu semua.

Apa itu NFT?

Menurut Wikipedia, NFT adalah berkas digital yang identitas dan kepemilikannya unik diverifikasi pada blockchain (buku besar digital).

Menurut Investopedia, NFT adalah aset kriptografi pada blockchain dengan kode identifikasi dan metadata unik yang membedakannya satu sama lain. Tidak seperti cryptocurrency , mereka tidak dapat diperdagangkan atau ditukar pada kesetaraan. Ini berbeda dari token yang dapat dipertukarkan seperti cryptocurrency, yang identik satu sama lain dan, oleh karena itu, dapat digunakan sebagai media untuk transaksi komersial.

Baca juga: Apakah Semua akan Kripto pada Waktunya?

NFT kepanjangan dari non-fungible token. Token yang unik dan tidak tergantikan. Token yang hanya ada satu. Token yang tidak bisa dipecah dengan nilai yang sebanding.

Maksudnya?

Untuk memahaminya dengan mudah, kita langsung ke studi kasus saja. Yuk, gasss.

NFT di Dunia Nyata

Kasus pertama:

Teman Anda meminjam uang Rp.20 ribu kepada Anda. Tidak masalah bagi Anda jika teman Anda tersebut mengembalikannya dengan uang Rp.20 ribu yang berbeda. Karena uang dapat saling menggantikan. Dalam pengertian yang sama, teman Anda dapat mengembalikan uang Anda dengan dua lembar Rp.10 ribu atau empat lembar Rp.5 ribu, karena jumlahnya tetap Rp.20 ribu. Uang itu setara atau sebanding dalam hal kepemilikan.

Kasus kedua:

Teman Anda meminjam mobil kepada Anda. Anda tentu tidak mau jika teman Anda tersebut mengembalikan mobil Anda dengan mobil yang berbeda, meskipun merk, tipe, jenis, dan tahun mobilnya sama. Mobil tidak sepadan dalam hal kepemilikan.

Kasus pertama adalah contoh barang fungible. Uang adalah barang yang fungible. Ia bisa diganti, ditukar, bahkan dipecah menjadi uang lain yang nilainya sepadan.

Sementara pada kasus kedua, mobil adalah contoh barang non-fungible. Setiap mobil itu unik. Ia tidak bisa diganti, ditukar apalagi dipecah dengan mobil lainnya meskipun nilainya sepadan.

Lalu apa kaitannya dengan NFT?

Dari kasus di atas, NFT itu seperti mobil. Ia unik dan hanya ada satu.

NFT adalah karya seni digital (digital art) yang unik dan tidak tergantikan. NFT ada banyak bentuknya. Bisa berupa gambar, video, musik, bahkan tanah virtual (metaverse), dan sebagainya.

Kembali ke Ghozali.

NFT Ghozali ibaratnya adalah lukisan di dunia nyata. NFT Ghozali yang asli ya hanya ada satu. Seperti lukisan Raden Saleh yang berjudul Perburuan Banteng itu ya hanya ada satu.

Anda bisa mencetaknya, memfotonya, atau membuatnya ulang. Tapi lukisan yang aslinya ya tetap cuma satu. Demikian juga dengan NFT Ghozali.

Cuma gambar atau foto begitu saja, kok mahal amat?

Coba Anda googling, lukisan Raden Saleh berjudul Perburuan Banteng di atas, itu laku berapa? Belum lagi lukisan Leonardo da Vinci yang berjudul Salvator Mundi.

Ya bedalah? Itu kan dunia nyata. Ini kan dunia maya.

Ok ok santai. Kapan-kapan kita lanjut nanti.

Sekarang udah kebayang kan, apa itu NFT.

Salam NFT.

Kemayoran, 22/01/2022 13.02

©DPSasongko
#melekdigital
#melekberita

Image by Pixabay

Apa itu: Data, Fakta, Informasi, Opini?

Ⓜ️ melekberita – Di dalam sebuah obrolan, mungkin Anda pernah mendengar dua orang saling berargumen seperti ini:

“Itu kan opini Anda. Faktanya kan tidak begitu,” kata Si ABC.

“Opini bagaimana. Informasinya kan sudah ada di mana-mana. Datanya seperti itu kok,” jawab Si XYZ.

Data, fakta, informasi dan opini sering campur aduk menjadi satu. Sehingga mereka sulit untuk dibedakan.

Apa itu data, fakta, informasi, dan opini?

Berikut ini adalah contoh perbedaannya:

Fakta

PPKM diperpanjang

Data

Januari, PPKM diperpanjang
Februari, PPKM diperpanjang
Maret, PPKM diperpanjang

Informasi

PPKM diperpanjang tiga bulan berturut-turut

Opini

Pemerintah tidak baik masak PPKM diperpanjang terus

Baca juga : Apa itu Kritik, Nyinyir, Fitnah, Benci?

Berikut artikel yang membahas secara mendalam perbedaan dan hubungan antara data, fakta, informasi, dan opini dengan gaya penulisan analitis seperti artikel opini di media:


Menyaring Realitas: Memahami Data, Fakta, Informasi, dan Opini

Di era digital yang dibanjiri arus konten tanpa henti, kemampuan membedakan antara data, fakta, informasi, dan opini bukan lagi sekadar keterampilan akademik—melainkan kebutuhan mendasar. Tanpa pemahaman yang jernih, seseorang mudah terjebak dalam bias, misinformasi, bahkan manipulasi narasi.

Data: Bahan Mentah Realitas

Data adalah titik awal dari seluruh proses pemahaman. Ia berupa angka, simbol, atau catatan yang belum diolah. Data tidak berbicara; ia hanya ada.

Misalnya, angka “42”, “120 kasus”, atau “75%” adalah data. Tanpa konteks, angka-angka tersebut tidak memiliki arti yang jelas. Data bersifat objektif, tetapi belum tentu bermakna.

Dalam dunia teknologi dan pekerjaan seperti yang banyak digeluti saat ini, data menjadi fondasi utama dalam pengambilan keputusan—mulai dari dashboard analitik hingga sistem berbasis kecerdasan buatan.

Fakta: Data yang Terverifikasi

Fakta adalah data yang telah diverifikasi kebenarannya. Ia dapat dibuktikan dan tidak bergantung pada persepsi individu.

Contoh:
“Jumlah pengguna aplikasi meningkat dari 300 menjadi 450 dalam tiga minggu” adalah fakta jika didukung oleh data valid.

Fakta memberikan kepastian. Namun, penting disadari bahwa fakta tetap bisa dipilih atau disusun sedemikian rupa untuk mendukung sudut pandang tertentu.

Informasi: Data yang Diberi Makna

Informasi adalah hasil pengolahan data yang telah diberi konteks sehingga memiliki arti.

Jika data menunjukkan “300, 350, 400, 450”, maka informasi yang bisa diambil adalah:
“Terjadi tren peningkatan jumlah pengguna selama periode tertentu.”

Informasi membantu manusia memahami pola, hubungan, dan makna dari data. Di sinilah peran analis data menjadi krusial—mengubah data mentah menjadi sesuatu yang dapat dipahami dan digunakan.

Opini: Tafsir dan Penilaian

Opini adalah pandangan atau penilaian subjektif seseorang terhadap suatu informasi atau fakta.

Contoh:
“Peningkatan pengguna ini menunjukkan bahwa aplikasi tersebut sangat sukses dan diminati pasar.”

Opini tidak selalu salah. Ia penting dalam diskusi, pengambilan keputusan, bahkan inovasi. Namun, opini harus dibedakan dari fakta agar tidak menyesatkan.

Garis Tipis yang Sering Kabur

Masalah muncul ketika batas antara keempat hal ini menjadi kabur. Di media sosial, misalnya, opini sering disajikan seolah-olah fakta. Data dipilih secara selektif (cherry-picking), lalu dikemas menjadi informasi yang menggiring opini tertentu.

Fenomena ini diperparah dengan algoritma digital yang cenderung memperkuat bias pengguna. Akibatnya, seseorang lebih mudah mempercayai sesuatu yang sesuai dengan keyakinannya, tanpa memeriksa apakah itu data, fakta, atau sekadar opini.

Literasi sebagai Benteng

Kemampuan literasi informasi menjadi kunci. Masyarakat perlu dilatih untuk bertanya:

  • Apakah ini data mentah atau sudah diolah?
  • Apakah ini fakta yang bisa diverifikasi?
  • Informasi apa yang sebenarnya ingin disampaikan?
  • Apakah ini opini yang disamarkan?

Dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut, seseorang dapat membangun cara berpikir kritis dan tidak mudah terpengaruh oleh arus informasi yang menyesatkan.

Penutup

Data, fakta, informasi, dan opini adalah empat lapisan yang membentuk cara manusia memahami dunia. Data adalah bahan mentah, fakta adalah kebenaran yang teruji, informasi adalah makna yang disusun, dan opini adalah interpretasi.

Di tengah kompleksitas dunia modern, kemampuan membedakan keempatnya bukan hanya soal kecerdasan, tetapi juga soal tanggung jawab—terhadap diri sendiri dan terhadap masyarakat.

Ada satu lagi yang belum dibahas. Hoaks.

Salam hoaks.

Kemayoran, 11/01/2021 19:50

©️DPSasongko
#melekkata

Image by DPS

Quotes: Berbuat Adil sejak dalam Pikiran

“Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan.”
— Pramoedya Ananta Toer (Bumi Manusia)

Baca juga: Apa itu: Kritik, Nyinyir, Fitnah, Benci?

Salam Adil.

Kemayoran, 08/01/2022 8:49

©️DPSasongko
#melekquotes
#melekberita

Image by DPS